Pandji Pragiwaksono Pandji Pragiwaksono Pandji Pragiwaksono Pandji Pragiwaksono

Ternyata, gue adalah seorang Late Majority… untuk urusan musik pop.

Category: Uncategorized | Author: Pandji Pragiwaksono

Aug
06
7:53 pm

Gue harap elo mengerti ketika gue bilang Late Majority.
Jadi ada beberapa jenis konsumen.
Innovators, orang yang menciptakan trend.
Early Adaptors, orang orang pertama yang mengadaptasi trend
Early Majority, mayoritas awal yang mengadaptasi trend setelah dia melihat orang orang influensial duluan mengadaptasi. …

[ read this latest post ]

“YES! I KNOW YOU! AND YOU KNOW ME!”

Category: Uncategorized | Author: Pandji Pragiwaksono

Aug
06
9:22 am

Wanita ini bernama Bernann McKinney.

Dia kehilangan anjingnya bernama Booger.

McKinney menghubungi sebuah perusahaan setelah Booger meninggal karena kanker, April 2006.

Perusahaan ini berlokasi di Korea Selatan.

Perusahaan ini, adalah perusahaan pertama di dunia yang menyediakan jasa komersil menciptakan anjing kloning, dan BERHASIL melahirkan anjing kloning pertama mereka.

Tes dari pihak independen menunjukkan bahwa ini adalah anjing yang sama secara genetik dengan Booger.

Bedanya, anjing ini kembali lagi umurnya menjadi ketika masih bayi.

Makanya, wanita itu dengan bahagia memeluk anjing tersebut dan berkata “Yes! I know you! And you know me!”

Mereka saling mengenal dan Bernann McKinney bertemu kembali dengan anjingnya yang telah mati.

Sebentar…

TELAH MATI?????

Teknologi memungkinkan manusia untuk bisa mengembalikan siapapun yang sudah mati.

Beberapa negara melarang kloning terhadap manusia.

Bagaimana tidak? Bayangkan kalau Muhammad SAW, Yesus, John Lennon, dibawa kembali…

Mungkinkan kloningan seorang manusia akan menjadi orang yang sama pada masa sekarang?

Mengingat mereka akan mulai lagi kehidupannya dari bayi?

Misalnya kita kloning Tupac Shakur, lahir di tahun 2008, lingkungan dan keadaan sosial yang berbeda, teknologi yang sedang berlakupun berbeda, kalaupun dia diberi stimulasi yang serupa, mungkinkah Tupac kloning akan menjadi rapper juga?

Itu baru Tupac, gimana kalau Rasulullah??? Mungkinkah orang yang sama akan tetap jadi Rasul?

Dengan masa seperti sekarang? Akankah dia kembali ditemui Rasul? Tanpa ada Gua Hira, mungkinkah Kitab Suci kembali turun? Tanpa Kitab Suci itu, akankah dia menjadi Rasul?

Dengan masa seperti sekarang?

Lingkungan dan pengalaman hidup kita, membentuk kita.

Gue mungkin kalau nggak pernah ditindas dulu, nggak akan punya semangat sebesar ini untuk sukses…

Gimana menurut lo?

I love Adam Sandler!

Category: Uncategorized | Author: Pandji Pragiwaksono

Aug
05
8:14 am

Hehehe, gue secara nggak sengaja nonton film I now pronounce you Chuck and Larry.

Lucu bangettttt.

Gue menikmati banyak sekali film Adam Sandler.

Banyak yang gue ga suka, tapi banyak yang gue suka.

Gue suka dengan selera humornya. Dan umumnya film dia selalu dihiasi dengan cewek seksi…

Hehehe

INi daftar film Adam Sandler favorit gue:

Satu film dia yang banyak orang nggak tahu adalah film animasi dibawah ini…

Masalahnya, elo gak akan nemu originalnya.

Heheh.

Gue beli bajakannya.

LAH? Abis? Pengen nonton tapi ga ada originalnya gimana dong???

Gimana dengan elo?

Apa film Adam Sandler favorit lo?

Medan, KISS FM, dan Tahu Kua Heci…

Category: Uncategorized | Author: Pandji Pragiwaksono

Aug
04
3:11 pm

Gue baru saja pulang dari kota Medan.

Saat ini gue nobatkan jadi salah satu kota favorit gue.

Gue ngemsi di kota ini dan memaksakan diri untuk bisa menikmati kota ini.

Ngemsinya sendiri dari jam 10 pagi sampai jam 8 malam.

Di Plaza Medan Fair.

Orang mengenalnya sebagai satu satunya tempat di Medan yang ada Carrefour.

 

Kota ini, lebih menarik daripada beberapa kota lain yang pernah gue kunjungi (diluar Bandung tentunya… nggak ada yg bisa melawan Bandung)

Lebih banyak hal menarik yang bisa gue datangi.

Perkembangannya cukup pesat sebenarnya.

Property-pun disana, cukup mengejutkan: Masih Murah.

Disana masih ada rumah dengan harga Rp 200-300 juta dengan luas bangunan dan lokasi yang kalau dibandingkan dengan Jakarta setara dengan rumah yang nilainya sekitar 600-700juta.

 

Gamila sempet nanya ”Mau investasi?”

Gue langsung menjawab ”Nggak ah”

Setelah itu gue berpikir ”Hmm, kenapa gue tadi jawab nggak ya?”

 

Ada beberapa pengalaman menarik di Medan…

Pertama, kunjungan gue ke KISS FM.

Ketika gue sampai medan, jawaban semua orang mutlak sama ketika ditanya radio nomor satu di Medan: KISS FM.

Ternyata gue baru tahu, mereka mau ulang tahun ke 40!

WHATTTT??? 40 TAHUNNN???

 

Perhaps they have been long enough in the business to know a lot of things to make it in this business.

 

Waktu gue datang kesana sekitar jam 20.30 dan radio itu masih ramai dengan (yang nampaknya seperti) penyiar.

They are relalitvely young.

And to my surprise, sounded very Jakarta.

Kalau ngobrol, logat Medannya ketara banget, tapi kalau lagi siaran… Damn, I couldve sworn they are from Jakarta.

 

I don’t know if it’s a good thing or not, but if everybody considers them as number 1, then they must be doing good.

 

Di Bandung waktu HRFM Bdg tidak diperbolehkan berdialek dan berlogat sunda, prestasi kami tidak baik. Orang Bandung skeptis dengan yang terlalu Jakarta. Ketika kami kembali jadi diri sendiri, barulah pendengar terbuka terhadap kami.

Mungkin ini tidak berlaku di Medan.

 

Lagu gue (katanya) sempet jadi nomor 1 disana, dan cukup lama bertahan di chart (kalau 7 minggu dibilang lama). Sayangnya karena distributor album gue yang sebelumnya ini butut, maka CD gue nggak sampe sana.

Gue agak kecewa karena gue gagal memanfaatkan momentum. But what can I say, I made a bad deal with a bad partner. Yaitu si distributor itu.

Sekarang gue beralih ke REMIX.

Tuh, gue tulis namanya, biar kalau ternyata masih butut juga distribusinya, you know who to blame.

 

The interview, was great. It was very fun. They threw great questions.

 

My song get to air, I get to connect with rekan sebaya (Hardrockersnya mereka)

Efeknya cukup baik, karena besoknya (hari minggu) dalam perjalanan pulang ke hotel abis ngemsi, penyiarnya baca sms dari pendengarnya

“Ini ada sms dari XXXX yang bilang, lagu Pandji UNTUK INDONESIA keren! Lumayanlah daripada lagu lagu cinta cengeng, kata adek gue kemarin malam Pandji datang ya ke KISS?”

Penyiarnya kemudian mengiyakan kedatangan gue.

Bahkan dalam perjalanan menuju Airport di hari senin, KISS memainkan lagu gue ADA YANG SALAH feat. Tompi.

So bottom line, it was fun. Bahkan Dipo senang berada disana.

Ditambah music directornya bernama Anca kemarin menawarkan gue untuk makan duren. Hell, I loved to. Sayang gue harus menjaga darah tinggi dan kolesterol dan asam urat gue.

 

Gue kemudian mencoba untuk makan di restoran yang katanya terkenal di Medan yang kebetulan ada di Plaza Medan Fair tempat gue ngemsi.

Namanya Jala Jala restoran tapi orang mengenalnya dengan nama Nelayan Seafood.

Gosipnya, dimsumnya enak.

HAH! Ternyata bukan gosip. EMANG SADISTIKUS BIADABIS!

Terutama makanan yang bernama LENG HONG KIEN dengan harga Rp 15.500 per porsi.

 

Ada sih yang biasa biasa aja, tapi overall, enak banget.

 

Malamnya gue jalan dengan seorang teman gue.

Gue kenal dia dari hobi kami yang kebetulan sama.

Orangnya sangat baik, senang menjamu dan ngajak jalan jalan.

Saat belum banyak yang pulang bawa Zulaikha, gue udah diajak kesana duluan.

 

Gue dijemput di hotel dan kami jalan jalan mencari TAHU KUA HECI.

Inilah bagian yang seru.

Gue keliling keliling kota Medan sampai kepada komplek Cemara, tempat yang terkenal banyak seafood . Daerahnya kayak perumahan biasa, tapi rukonya nyaris semua seafood.

FRANCE seafood (paling depan) katanya paling terkenal.

Tapi mereka tidak menjual TAHU KUA HECI, akhirnya teman gue membawa gue ke daerah china town Medan yang disebut Selat Panjang. Ketemu juga gue dengan Tahu kua heci yang ternyata adalah tahu kuning dengan kuah aci yang manis pedas, ditambah kepiting goreng.

Lagi lagi gue tergila gila. Enak banget.

 

Kemudan gue diajak melihat Jalan Semarang (yang mirip Gardu Jati di Bandung) yaitu tempat makan chinese food pinggir jalan.

Gue juga lewat warung kopi elizabeth yang merupakan tempat nongkrong yang (istilahnya Gamila) lebih egaliter daripada Merdeka Walk.

 

Dua tempat diatas rame banget.

 

Dalam perjalanan pulang ke hotel, temen gue ngajak minum Liang Teh yang asli (maklum, biasanya minum kalengan)

Gue minum yang manis, Gamila minum yang pahit… dan akhirnya dia menyesal sendiri karena emang pait banget.

 

Baru kami pulang dan istirahat di hotel.

 

Yang menarik sebenarnya adalah tokoh temen gue ini.

Dia adalah seorang pengusaha.

Gue ga akan menyebutkan namanya.

Berhubung dia datang dari keluarga yang dikenal di Medan, dan berhubung dia sendiri yang bilang bahwa mulut orang Medan kadang suka ngomongin.

Jadi gue tahan namanya untuk melindungi hari harinya.

Dia, adalah seorang pengusaha SAMPAH.

Alumunium, besi, botol dan kertas.

Sebagai supplier, dia kumpulkan semua rongsokan itu, distribusi ke pabrik kliennya untuk dilebur dan dijadikan barang fungsional baru.

Dia cerita bisnisnya dari ketika dia masih belajar hingga sekarang ini.

Selama 2 tahun dia belajar pada pamannya TANPA DIGAJI!

Hanya dapet uang bensin dan makan, Makannyapun RANTANG.

Sekarang, dia mengaku sudah jalanin bisnis sendiri dan berpenghasilan gila gilaan.

Lonjakan yang cukup drastis dari orang yang selama hidup 3 tahun hanya bisa makan nasi, tempe dan tahu goreng.

Seperti yang elo dan gue tahu, bisnis sampah akan hidup terus karena umat manusia terus memproduksi sampah. Mafia New York-pun bisnis legalnya sampah.

 

Dia bilang secara overall, kalau mau diadu, pengusaha chinese dan ”orang elo” (istilah dia untuk pribumi – tanpa bermaksud apa apa tentunya) akan pasti dimenangkan oleh orang chinese..

Katanya ”Nggak bisa dibandingkan!”

 

Secara prinsip, orang chinese dan orang pribumi jauh berbeda.

Dia kemudian bilang ke gue “Mau tahu nggak rahasia bisnis orang chinese?”

 

Gue mendengarkan dengan seksama, dan cukup terkejut dengan kebenarannya.

Gue inget kembali semua bisnis chinese dari kecil sampai besar.

Semuanya sesuai dengan kata temen gue.

Kalaupun ada orang pribumi yang sukses berbisnis (dalam industri apapun) dia memang menggunakan metoda yang sama dengan pebisnis chinese.

 

Dia kemudian bilang, ”Jangan kasih tahu rahasia dagang ini ke siapa siapa ya, gue cuma bilang ke elo”

 

Karena itu dengan amat sangat maaf, gue nggak bisa buka ke elo.

 

Tapi kalau gue bisa menjalankan apa yang dia katakan, semoga elo bisa lihat hasilnya pada bisnis gue kelak

 

Yang lebih mengejutkan lagi, gue inget ternyata Gamila sudah lebih dulu pernah bilang rahasia dagang itu ke gue… Gue tanya ”Kok kamu tau Mil?”

Dia menjawab ”Aku kan Cina”

Setelah gue pikir pikir, iya juga kali ya? Habis, dia udah tinggal di Kelapa Gading dari jamannya MKG 1 masih jadi Wendy’s dan perumahan masih kosong.

Wajar aja dia paham…

 

 

 

 

 

 

When you can have everything you want…

Category: Uncategorized | Author: Pandji Pragiwaksono

Aug
04
2:58 pm

When you can have everything in life, you have to be very careful of what you want.

 

Gue ga gitu rajin Shalat. Tapi orang tidak bisa membengkokkan keyakinan gue akan Tuhan dan agama gue.

Gue terbata bata baca Al Quran, tapi tidak ada yang bisa menggoyahkan keyakinan gue akan kitab suci gue.

 

Anehnya, Tuhan cukup baik kepada gue.

Banyak hal yang gue inginkan, pada akhirnya gue dapatkan.

Walaupun, banyak juga hal yang gue harapkan tidak terjadi pada gue (bahkan nggak kepikiran sama sekali) tetep aja terjadi pada diri gue.

 

Gue nggak tahu apakah itu yang dinamakan keyakinan atau bukan.

Gue ga tau apakah yang selama ini gue lakukan adalah yang sebenarnya dikatakan sebagai ”Law of Attraction” dalam buku The Secret.

Hell, as far as i know, what they preach in The Secret is nothing new.

Dari dulu gue diajarin, kalau berdoa yang detil.

Kalau ingin sesuatu, pikirkan cara mendapatkannya dan yakinkan diri.

Tadi pagi gue nonton CNN dan Larry King kedatangan tamu tamu yang menunjukkan bahwa motivasi diri, keyakinan dan kekuatan pikiran adalah sesuatu yang bukan saja sangat kuat, tapi juga sangat scientific.

 

 

Betapa banyak karunia yang gue rasakan.

Sedihnya juga banyak, dan biasanya mengendap dalam bentuk dendam (ya, gue pendendam, tapi biarlah ini jadi topik yang berbeda di posting yang berbeda).

 

Tapi karena mungkin gue sering kali berpikir yang positif maka lebih terasa hal hal baik yang menimpa gue.

 

Sekali lagi, apa yang biasanya gue inginkan, pada akhirnya terjadi pada diri gue.

Termasuk, hal hal yang sebenarnya tidak baik bagi gue.

 

If i want something, i will have it.

I always have, and probably always will.

 

Belakangan ini, fakta diatas cenderung membuat gue takut ketimbang senang.

 

….

 

I am very weak.

The one thing i know i cant conquer, is my own self.

And when I want something (I shouldn’t have) im afraid I might get it eventually.

Especially when I want it so bad.

 

Gue selalu berdoa kepada Tuhan untuk diberikan keyakinan dalam pengambilan keputusan, dan semoga keputusan itu yang terbaik bagi gue.

 

Tapi ditengah tengah momen pengambilan keputusan, kadang gue merasa…

 

Setan lebih dekat ke kuping gue, daripada Tuhan.

 

….

 

Tuhan, tolong aku…

Hidupku berharga…

Jangan biarkan aku merusaknya…

Supaya kalian mengerti…

Category: Uncategorized | Author: Pandji Pragiwaksono

Aug
04
2:54 pm

Hingga hari ini masih ada yang mempertanyakan kenapa gue membolehkan orang untuk bajak album gue (gue utarakan dalam lagu gue BAJAK LAGU INI)

 

Kata mereka, “Kenapa nggak elo gratisin aja?”

 

(menarik nafas)

 

Semoga gue bisa menerangkan se-sistematis mungkin, dan sejelas mungkin.

 

Tahukah elo? Bahwa album Naif dan Koil yang di gratisin lewat Rolling Stones itu ADA BAJAKANNYA dan DIBELI ORANG???

 

Tahukah elo? SUAVE (sebuah majalah gratis tentang clohing dan distro) itu ada yang JUAL dan tetep DIBELI ORANG???

 

Padahal keduanya ada tulisan GRATIS! Atau FREE!!!!

 

(Belakangan pada akhirnya Suave merilis versi yang memang dijual untuk menguatkan branding mereka terutama di toko buku besar seperti TGA dan Gramedia)

 

Kenapa itu bisa terjadi?

Karena salah satu alasan terkuat seseorang dalam membeli adalah bukan hanya harga, tapi AKSES!

 

Koil kerjasama dengan banyak sekali majalah untuk distribusi albumnya.

Naif mungkin juga sama (walaupun pada akhirnya dijual juga)

 

Tapi kalau jumlahnya terbatas, orang akan tetap mengalami kesulitan mengakses CD tsb.

Dan marilah kita pikir baik baik, sebanyak banyaknya seseorang produksi CD asli, tetap akan lebih banyak jumlah bajakannya. Karena itulah kalau kita baca di Rolling Stones jumlah produk bajakan JAUH LEBIH BANYAK daripada produk aslinya.

Im not lying!

 

Niat gue adalah memberikan akses seluas luasnya terhadap album gue.

Kenapa?

Gue pengen orang yang biasa beli bajakan (terutama karena memang Cuma mampu beli bajakan) bisa punya akses terhadap album gue.

Gue mau mereka bisa punya akses, bisa nemu dan bisa beli sebuah album yang mempromosikan Nasionalisme (Untuk Indonesia), mengajarkan bahwa beramal tidak harus uang banyak dan tidak boleh setahun sekali (Ada yang salah), menyatakan bahwa demonstrasi itu metoda yang usang (Ada yang salah), koran koran itu banyak yang tidak bermutu dan hanya menebang pohon (Ada yang salah), bahwa hiphop tidak kampungan (Ada yang salah), lagu yang menyatakan lebih baik kita berkarya dan bukan bekerja (Bajak lagu ini), dll.

 

Seperti yang gue katakan di lagu BAJAK LAGU INI, ”Musik adalah pendidikan. Pembebasan dari pembelengguan, kebodohan, keminderan, jangan heran kalau banyak orang yang berharap bisa mengecap musik dengan gratisan, bagai pendidikan”

Bayangkan kalau tidak ada  John Lennon, Bom Dylan, Bobo Marley, Marvin Gaye, Bono, Iwan Fals dan Tupac.

Mereka mengajar lewat karya musik mereka.

THAT IS LIBERATION!

 

Gue mau orang yang biasa beli bajakan, bisa punya akses terhadap album gue.

Karena gue mau mereka terbuka matanya akan banyak hal…

Terutama, kebanggaan terhadap negaranya.

 

Itu adalah mission wise…

 

Business wise, market gue adalah orang orang value oriented customer.

Maka kalau ada orang beli bajakan, gue nggak luka karena mereka emang bukan market gue.

Gue terluka kalau pasar yang gue incer justru beli bajakan.

 

Seperti sebuah sidang terhadap seorang pedagang yang jualan LV palsu dipinggir jalan di Italia.

Gue baca di buku FAKE FACTOR karya Sarah Mc Cartney.

Pedagang LV palsu dituntut perusahaan LV atas dasar merugikan penjualan LV asli.

Yang menang adalah si pedagang bajakan.

Karena sidang memutuskan, saking palsunya si LV bajakan yang dijual, TIDAK MUNGKIN ORANG TIDAK TAHU KALAU ITU ADALAH BARANG PALSU. Maka tidak mungkin pasarnya LV akan mau membeli barang palsunya si pedagang tersebut. MAKA TIDAK MUNGKIN LV ASLI DIRUGIKAN OLEH PEDAGANG LV PALSU karena keduanya punya pasar yang berbeda. Pembeli LV asli tidak akan mau ketauan beli barang bajakan pinggir jalan, dan pembeli LV bajakan pinggir jalan tidak akan mampu beli LV asli.

 

 

Itulah alasan kenapa gue selalu bilang “Mengeluarkan tenaga dan terutama uang untuk menghentikan pembajakan dan menghentikan orang untuk beli bajakan adalah usaha yang sia sia” Terus terang, gue kasian sama orang orang yang masih melakukan itu.

Karena  PEMBAJAKAN AKAN SELALU ADA DAN SELALU ADA ORANG YANG AKAN BELI BAJAKAN.

Kalau mau memfokuskan usaha dan uang, maka fokuslah pada usaha MENGALAHKAN PEMBAJAKAN yang berarti tahu bahwa bajakan tetap ada, tapi bisa membuat orang tetap beli yang asli. ITU BARU BENAR.

 

Orang bilang e-book gue “HOW I SOLD 1000 CD IN 30 DAYS” adalah sebuah buku yang menyombongkan prestasi.

Prestasi darimanaaa?? Banyak orang menjual 1000 CD dalam 7 hari!

Buku gue judulnya bukan “WOW, I SOLD 1000 CD IN 30 DAYS”

Tapi HOW.

Buku itu adalah mengenai metoda, bukan prestasi.

BAGAIMANA cara gue menjual 1000 CD tersebut. Tiap orang punya caranya sendiri, termasuk gue. Cara gue, menurut gue adalah cara untuk bisa membuat orang MAU MEMBELI PRODUK ELO dan ketika membeli MAU BELI YANG ASLI.

Jadi metoda itu bukan hanya untuk industri musik, tapi untuk siapapun yang menjual produk dan bertanding dengan produk bajakan (apalagi jaman sekarang apapun ada bajakannya)

Lha wong isinya adalah saduran dari buku buku yang gue baca.

 

 

Sebenarnya semua kata kata gue diatas, udah ditulis di e-book gue.

Cuman berhubung gue yakin ga semua orang mau baca, maka gue tulis lagi disini.

Memang gue akui opini gue terhadap bajakan, terlalu berharga untuk hanya ditulis di e-book.

Knowledge is a public domain.

Its free.

And now, its yours.

 

 

 

Ps: orang bilang major label rakus.

Mereka tidak rakus, karena mereka adalah pengusaha. Mereka mengambil resiko untuk memodali musisi yang ga mampu produksi CD, ketika itu laku, ya jelas mereka ambil bagian terbesarnya. CUMAAAAN, skarang ini mereka terlena dengan bentuk CD. Digital is coming and we have to believe in it.

Baca baik baik tulisan gue ini: Album gue sudah terjual sebagian besar di 1 bulan pertama dirilis. Tapi uang gue (termasuk uang C3) baru keluar LAPORANNYA 6 bulan kemudian (yang berarti bulan September)

ISNT THAT CRAZY?????

Ini baru laporannyaaa!!!!!

Belum lagi, mengumpulkan uang dari toko toko kaset dan CD lamanya setengah mati.

Kalau semua itu bisa dihilangkan dengan sebuah website, buat apa jual CD???

Udah mah harus pake modal bikin CD, harus menyerah dengan leletnya toko CD, nerima duit kita lama…

Makanya toko CD di seluruh dunia mengurangi space tokonya 30% termasuk di Indonesia (sudah mulai keliatan kan?)

 

Hanya 1 achilles heel dari penjualan digital.

Orang masih ragu (dan memang susah gue udah nyoba) untuk bertransaksi dengan paypal dan yang sejenisnya.

Kalau itu hilang… Mungkin gue juga nggak akan jual CD lagi J