ADA YANG SALAH dengan taman kota

Di Kelapa Gading ada taman baru.

Bagus deh.

Gamila bilang namanya “Taman Jalan”.

Disana ada track untuk orang berjalan, ada juga track yang ada batu batu kecilnya dimana kita harus berjalan dengan telajang kaki kalau mau sehat…

DAN..

Ada tempat bermain anak anaknya.

Dipo seneng banget dengan taman itu. Euforia karena banyak anak seumuran dia.

Yang datang kesana keren keren semua. Umumnya yang tinggal di rumah rumah mewah kelapa gading. Penampilan mereka oke oke karena didukung selera berpakaian, pemilihan warna dan merk yang juga oke.

Ternyata mereka juga rindu akan fasilitas seperti ini.

Dimana sore sore bisa ajak anaknya jalan jalan. Atau weekend sekeluarga lengkap olahraga ringan sambil menikmati waktu bersama. Atau sekedar seru seruan sama temen temen sekolah.

Biar gimanapun juga, indahnya udara segar dan langit sore mampu mengalahkan canggihnya alat dan dentuman musik di fitness.

Lama lama…

Mulailah muncul “mamang mamang” yang nongkrong untuk ngeliatin cici cici cakep yang memang banyak disitu.

Awalnya gue nggak mau berprasangka buruk, tapi lama lama melihat dan mendengar mereka menggoda cici cici disitu mau nggak mau gue langsung merasa mereka disitu bukan untuk olahraga. Tapi untuk ngeliatin cewek.

Beberapa kalimat yang sering muncul “Ck Ck Ck.. buseeet putih amat tuh paha”

Gue denger sendiri kalimat itu.

Kadang Cuma sekedar “Sst ! Ssss! Sombong amat sih…”

Tapi semua itu cukup meresahkan.

Lama lama…

Menghilanglah anak anak muda keren tadi.

Yang tersisa adalah pembantu dengan anak anak asuhannya, ibu ibu, bapak bapak dan mamang mamang tadi.

Kejadian ini membuat gue berpikir:

PERLUKAH DIBUAT FASILITAS UMUM SEPERTI TADI DENGAN DIBERLAKUKAN UANG MASUK?

Gue bukan pengen ada uang masuk untuk maintenance.

Harusnya maintenance pake uang rakyat yang sudah kita bayarkan via pajak.

Uang masuk yang gue pengen adalah untuk MEMISAHKAN JENIS dan KALANGAN ORANG YANG DATANG.

Harga akan merefleksikan siapa yang mampu untuk bayar.

Harga tiket Al Jerrau tidak mungkin sama range-nya dengan harga tiket Slank misalnya. Walaupun keduanya sama sama legenda yang hebat.

Dengan memberlakukan uang masuk, maka taman kota tersebut bebas dari orang orang kalangan C dan D.

Gue bukan bermaksud untuk mengkasta orang dengan kemampuan ekonomi, tapi gue banyak melihat bukti bahwa orang orang dari kalangan C, D dan E kurang menghargai aturan dan kebersihan.

Kalau saja taman jalan kelapa gading ada uang masuknya, mungkin mamang mamang tadi gak akan bisa masuk. Dan orang orang muda gaya tadi bisa tetep jalan santai tanpa perlu mendapatkan omongan tentang bokongnya ya montok.

Tapi kalau diminta bayar, pasti reaksi semua orang (termasuk mereka yang mampu) adalah

“ENAK AJA BAYARRR. GUE BAYAR PAJAK TAUU. MASAK FASILITAS UMUM KAYAK TAMAN HARUS BAYAR?? UDAH MAH DIKIT FASILITAS KAYAK GINI! EEEEH MALAH HARUS BAYAR! MANA HASIL REFORMASIIII??? PEMERINTAH GAGAAALLL”

Langsung muncul demonstasi J

Padahal sebenarnya, memberlakukan bayaran tidak selamanya buruk.

Kadang menurut gue, orang gagal untuk melihat dibalik semua itu.

Ambil contoh:

TAMAN MENTENG.

Di sore hari, atau mungkin pagi hari, pemandangan terasa begitu indah…

Semua orang senang.

Taman menteng adalah fasilitas umum, gratis, dan bisa untuk banyak hal.

Main basket.

Main bola.

Pacaran.

Tapi kalau udah mulai malam…

Jadi ajang orang judi.

Segerombolan orang datang dari daerah A ketemu dengan rombongan dari daerah B.

Ngadu main bola.

Taruhan.

Ada yang kalah.

Yang kalah nggak terima.

The next thing you know, jam 2 dini hari, di dalam kegelapan malam, tawuran terjadi.

Padahal gelapnya taman menteng disengaja biar pada nggak main malam hari.

Masyarakat sekitar parno dan nggak bisa tidur.

Besoknya yang bersihin taman harus memunguti pecahan botol botol minuman keras.

Dari mana gue tau?

Gue ngobrol langsung sama satpam penjaga taman.

Satpamnya, sangat disiplin dan berdedikasi.

Namun diapun bercerita, ada kalanya dia nyerah juga sama kejadian kejadian diatas.

Padahal taman menteng itu keren banget.

Indah.

Ideal.

Bayangkan kalau taman menteng diberlakukan uang masuk.

Gue ragu akan ada kejadian seperti diatas.

Kalangan C, D dan E akan mencari lokasi semurah mungkin untuk main bola, bahkan kalau bisa gratis.

Tapi kalau diberlakukan bayaran orang akan protes.

IDEALNYA, memang ada taman yang gratis, dan ada taman yang bayar.

Sehingga ada solusi untuk setiap kalangan.

Gue juga tau itu.

Tapi pada kenyataannya, taman aja jumlahnya sedikit banget.

Maka pertanyaannya, “APA YANG HARUSNYA DILAKUKAN???”

21 Comments

Payah emang ‘ndji pengen nya gw sih kita bisa merawat dan mendidik org org Indonesia agar bs ‘aware’ sama fasilitas fasilitas umum. Tapi ada pihak lain yang hanya bs ngeluh mulu ma fasilitas umum, dan tanpa mau bergerak merubah itu semua.

Pandji, walaupun yg lo temui itu benar2 kenyataan pahit, rasanya tidak tepat kalau harus mensortir orang dari ruang publik dengan bayaran.
Apalagi kalau bayaran itu memang ditujukan khusus utk tujuan segregasi(!).

Memang ada yg bilang, klo seseorang bayar, mgkn dia akan lebih care dg apa yg dibayarnya.

Tapi sesuatu yg ditujukan utk publik, harus mampu dijamin pemerintah/pengelola -bagaimanapun caranya- tetap aksesibel utk publik secara bebas.

Tau ga, katanya hanya Jakarta yg memberlakukan bayaran utk warganya utk menikmati Garis Pantainya sendiri (Ancol). Ironis!
Usulan menaikkan tarif busway, hanya supaya orang kasta C,D,E tidak ‘mengganggu’ kenyamanan jg tidak g setujui.. Itu fasilitas umum, dan harus diperjuangkan utk umum, seleksinya pun seleksi alam,bukan dipaksakan.

Menurut g pribadi, masih ada cara/enforcement lain utk menertibkan/mendidik warga masyarakat.

Mungkin ga, sebagai salah satu warga Gading (istilahnya stakeholder di wilayah itu juga), lo memulai utk menegur ‘mamang2′ demikian itu.
(sama spt soal merokok dalam ruangan yg ada bayinya)
Mungkin klo cuma 1 orang takut bawa masalah, gimana kalo orang2 Gading lainnya dibangun utk ‘membela’ fasum mereka juga dari gangguan ketidaknyamanan ini.
G yakin Pandji ngerti maksud g: masyarakat di’provokasi’..
Rasanya klo itu berjalan, akan ada seleksi alam juga terhadap pengunjungnya..

wah baru tau nih :) alternatif berikutnya selain taman menteng. Ayo dukung open public area kayak gitu, not maning2 mall… maning2 mall… :)

regards

rasanya ngga adil kalau taman kota harus bayar… malah justru menimbulkan kebencian terhadap yang memang mampu… mereka belum dapat “informasi” yang memadai tentang tata krama dan pengetahuan kesopanan yang lain…
selayaknya.. yang mampu pun seharusnya mampu menyesuaikan diri supaya ngga digoda mamang2.. seperti berpakaian yang sopan dan nyaman untuk berkegiatan di tempat umum begini…

terbayang anak-anak yang kurang mampu… sedih melihat sebayanya yang mampu main di tempat yang indah begitu, yang terjadi… tertanamlah kebencian terhadap yang mampu sejak kecil… sedih ngga sih??

tempat hiburan ruang terbuka gratis seperti ini sangat jarang ditemukan… sedangkan banyak orang butuh terhibur di ruang terbuka, termasuk yang tidak mampu sekalipun…

gue punya pengalaman… ketika libur, gue ajak anak gue ke gelanggang samudra di ancol yang selalu dianggap tempat hiburan rakyat… yang gue liat… tempat ini sudah bukan lagi menjadi taman hiburan rakyat. tiket masuknya cukup mahal, kalau ngga salah 60rb. Setelah gue beli tiket… di dekat gue ada satu keluarga dengan 2 anak, sang ayah sedang membujuk kedua anaknya supaya tidak kecewa karena si ayah tidak mampu membeli tiket untuk keluarganya… kebayang??.. mereka harus mengeluarkan uang 240rb untuk masuk ke arena tersebut, sedangkan mereka tidak mampu untuk mengeluarkan uang segitu banyak… gue liat dengan mata kepala sendiri (kepengen nangis rasanya!!!!) si anak tertunduk kecewaaaaa banget… dan gue jadi serba salah… mau gimana lagi ndji??… mau bayarin mereka??… ngga mungkin juga.. karena saat itu dana hiburan gue sedang terbatas tapi anak gue sudah berjanji dengan teman-teman sekolahnya bersama2 ke sana…

loe nulis begitu… yang ada di mata gue sekarang adalah kedua anak yang sungguh sangat kecewa…

kalau menurut gue… justru tempat gratis gitu yang harusnya diperbanyak… sebanyak-banyaknya… MUNGKIN justru malah terklasifikasi sendiri siapa2 yang datang ke tempat gratis itu… soalnya… masih panjang perjuangan untuk mendidik…

cheers…

menurut saya yang namanya mengklasifikasikan orang itu gak ada positivenya!!!
justru dengan itu semakin membentangkan perbedaan dan gak cocok sama semboyan indonesia…….
harusnya mereka yang jaga diri liat2 mo jalan dimana??? kalo ditempat umum ya disesuaikan sama tempatnya…dan harusnya juga mereka yang memberikan contoh yang baik!!!!!
tapi balik lagi keorangnya, melihat keadaan masyarakat indo sekarang saya rasa susah untuk menjalankanya coz independent kayaknya uda jadi tren dan rasa sosialnya da gak ada….
yang paling penting adalah bagaimana cara menjaga fasilitas yang ada dan kalo perlu meningkatkanya agar jakarta jadi lebih sehatttttttt
bayar ato gak bayar sama aja yang penting kasadaran bagaimana menjaga yang uda ada……that’s itttttttt……..

Maka pertanyaannya, “APA YANG HARUSNYA DILAKUKAN???”

pasang security guard, 24 hours, kalo bisa lebih dari 5 untuk 1 taman,
kelilingin taman untuk menjaga nya dari mamang mamang, atau tukang tawuran

1. Ada taman aja udah bagus.

2. Gue bilang mah itu resiko nya cici-cici itu main di taman umum.
Gue juga sadar betul kalau sampai istri gue digodain oleh mamang-mamang itu. Walaupun gue benci setengah mati.

Daripada disuruh bayar trus jadi bias fungsi sebuah taman umum mending dikasih satpam aja. Biasanya pemilik perumahan waktu promosi bilang “terdapat taman yang nyaman”, artinya perlu dipikrin nyaman itu bukan cuman tempat tapi juga suasana.

Apa yang membuat seseorang nggak menghargai sebua fasilitas/produk?
Karena dia tidak terlibat dalam proses pembuatan/pengadaan dan yang benar-benar membutuhkan fasilitas/produk tersebut.

Man, semakin gw baca blog lo semakin pusing, but it’s ok… Btw lo bikin pas lagi siaran ya? multi-tasking man juga ni orang satu…

1. Gw ga setuju kl harus bayar, bener kata Rama ada taman aja udah bagus. Jakarta baru memenuhi 14%-mau ditingkatin jd 30% dari kebutuhan ruang hijau kotanya. Tp satu sisi PEMDA suka BODOH: contoh gampangnya adalah pembabatan jalur hijau depan ambasador utk pelebaran jalan. Masalah kemacetannya bukan itu, masalahnya adalah orang nyebrang dari mega kuningan ke ambasador dan kebalikannya plus kendaraan umum yg ngetem. Yg bener PEMDA harus bisa maksa pengelola mall utk bikin jembatan, kl perlu yg pake eskalator, biar orang ga males naik… Lagian ambasador dah punya profit dong, saatnya memberikan sesuatu kembali utk masyarakat!!!!

2. Law Enforcement, Regulasi, dan teman2nya harus jalan. Setuju juga kl ada yang ngawasin sampe 24 jam.

3. Pendidikan, nah ini yang paling penting tp paling berat… mungkin bisa dengan mendidik semua orang utk memakai ruang terbuka bersama dari berbagai macam lapisan dan status. Kadang si baju bagus2 dan merek OK juga agak males man buat gabung sama yang dekil, yang dekil udah sinical duluan sama si baju bagus, ga pernah ketemu deh. Bikin kampanye atau event bareng di tempat itu skalian anak2nya, terutama yang keliatan bakal jadi calon mamang2 yg ga jelas… itu yg di didik duluan!!!

Mencari ruang publik gratis dan sehat di Jakarta, ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Sebagian besar taman kota yang ada sudah tercemar dengan polusi. Bahkan jogging track di area Gelora Bung Karno pun sebenarnya sudah gak sehat buat jogging karena faktor polusi tadi.

Intinya adalah, berapa banyak sih perbandingan orang yang sadar akan pentingnya taman kota yang berkualitas dibandingkan dengan orang yang sekedar membutuhkan tempat untuk keluar dari sumpeknya rumah kontrakan berukuran 3×3?
Kalau jumlah orang yang punya kepekaan kaya elo labih banyak dari orang-orang yang disebutkan belakangan, mungkin saat itu kita sudah tau apa yang harus kita lakukan.

100% agree dgn pandji.

gw sebagai org klp gading juga sempet berpikir mungkin sebaiknya taman joging itu dikenin biaya masuk. terserah pro dan kontra nanti seperti apa. selama harga masih wajar, akan lebih baik utk masyarakat yg bener2 menggunakan taman tersebut sbagai fungsinya. dgn catatan anak2 tdk dikenakan biaya.

Dilema memang… tp kita harus bangun mentalitas bangsa ini. setiap perubahan pasti ada perasaan sakit, tapi gw yakin kalo mau dibentuk dari sekarang kita akan semakin jadi bangsa besar.

Bisa temen2 bayangin…… bagaimana bangsa Indonesia jadinya kalo mentalitas hidup dan bekerja yg baik dari negara maju fully adapted oleh kita PLUS dipadukan dgn budaya timur yg sopan, anti free sex, ramah,gotong royong, dan kekeluargaan. Wuiiiih…. bangsa ini bangsa yg besar! .. bangga bgttt!!

ayo semua…. ANGKAT TANGANMU UNTUK INDONESIA…… :)

he3x… sebenernya kl boleh jujur di situ ada dua tipe mamang-mamang… yg atu emang kurang well educated alias sembarangan aja pake mata ama mulut… yg atu lagi yg well educated alias mata ngeliat mulut gak ngomong he3x… kayak yg nulis blog inih :p… he3x… becanda deng…

Sebenernya kl harus bayar sih gak setuju, tp setidaknya harus ada penjaga yg bener… alias dia gak bolehin ada yg dagang masuk ke dalem… trs dia keliling buat nge-razia mamang-mamang yg tadi (except nu bobogohan), terus negur yg buang sampah kek atu berbuat anarkis di situ… dan gw lebih setuju di dekat taman kota begitu hrs ada pos polisi (walo masih ragu jg, bs aman apa malah jadi aneh yah :p)…

Gw seneng tuh ama taman gading… apalagi kl sore… muantap man… bobogohanna rumantis euy :p

Menurut saia kalo masuk taman2 itu harus bayar ga akan otomatis ngilangin “mamang2″, namanya orang Indonesia,selalu dapet jalan utk masuk gratis ke suatu lokasi (pertandingan bola,konser musik,dll) apalagi cuman taman. Jadi tinggal pembawaan kita aja gimana kalo main ke tempat umum (gratis)cara berpakaian,bertingkah laku,dsb,dst supaya ga di”suit suit he he he” sama org2 kayak gitu. Tapi tergantung dari lokasi juga kayaknya,contoh di BSD, taman kotanya (1&2) bebas dari mamang2 dan kalau malam selalu digembok pagarnya. atau karena lokasinya agak jauh dari pemukiman “lokal”.tapi itu di Tangerang sih bukan Jakarta.

Hmm, bener ternyata. Diskusi mencerdaskan gue. Dari tulisan kalian diatas mata gue lebih terbuka terhadap banyak hal.

Tapi ada 1 issue yang masih bikin gue “senep”.
Ada banyak opini yang berkata “Yang mampu harusnya sadar diri, sadar waktu dan sadar tempat. Jangan pake baju yang mengundang.”

Disinilah gue rada mikir.

Gue bukannya suka pake pakaian seksi ke taman.
Siapa juga yang mau liat gue pake hotpants? :)

Tapi gue merasa empati sama cewek cewek yang suka ke taman dengan full gear.

Maksud gue, mereka bisa aja berpikir “Kenapa kok gue yang harus berkorban? Mamang mamang itulah yang harusnya didisiplinkan oleh keamanan taman. Kenapa gue tidak bisa berpakaian sebebas yang gue ingin? Gue juga bayar pajak yang akhirnya jadi taman gratis ini!”

Gue langsung ingat SMA gue Kolese Gonzaga.
Kami setiap Senin, Selasa dan Jumat tidak pakai seragam.

Pemimpin kami tidak menyetujui seragam.
Katanya seragam pada awalnya dicetuskan untuk menghindari kecemburuan sosial terhadap pakaian.
Yang miskin akan keliatan miskin dan yang kaya akan keliatan kaya.
Untuk menghindari kecemburuan sosial, maka diseragamkanlah semuanya.

Menurut sekolah gue, yang lebih baik adalah terbuka dengan diri kita sendiri dan menerima.

Sekolah gue mendidik untuk bisa menghilangkan kesenjangan sosial bukan lewat seragam. Tapi lewat pertemanan.
Orang bisa bilang Gonzaga adalah sekolah orang kaya.
Mereka tidak tahu bahwa diantara kami banyak juga yang rumahnya gubuk.
Literally.
Bener bener bertembok seng!

Tapi kami bisa menerima dan berteman seperti biasa.
Kaya dan miskin.

Seharusnya hal yang sama berlaku di taman gratis tadi.

Siapapun boleh berpakaian seperti apapun.
Siapapun harus bisa menerima.

Kalau kita tidak terbiasa dengan pola pikir sperti ini, maka cerminannya ada dijalanan:
MOTOR SELALU BENAR ATAS MOBIL.

Suka gitu kan?

Kalau ada tabrakan antara motor dan mobil
Mobil selalu salah.
Motor selalu benar.

Kemudian di belakang ada yang berteriak dengam ketus “Mentang mentang kaya lo! Mau menang sendiri”

Males kan?

hmmm…
pandji… sekolah anak gue juga tidak berseragam (SD)… sama, pemimpinnya tidak menyukai ide penyeragaman… apa yang terjadi dengan kebebasan ini di sekolah kecil itu ndji??… Anak2 nya justru lebih sadar dengan kesenjangan sosial yang ada di sekitar mereka… kecil2 gitu, mereka tau apa yang pantas dipakai ke sekolah dan yang tidak pantas, TANPA diberitahu oleh guru… kesadaran ini timbul sendiri karena KEBEBASAN.

Mereka tau batas2 berpakaian ndji… mereka sadar ke sekolah adalah belajar, bukan gaya2an…

Jika yang kecil2 ini sudah dapat memilah mana yang baik dan mana yang tidak??.. mengapa yang besar2 justru tidak bisa sadar???

Pemilihan pakaian memang hak setiap orang, mau pakai baju se-sexy apa juga terserah, gue sendiri ngga ambil pusing dalam hal itu… tapi sadarlah… ini Indonesia… masih banyak korban penyeragaman di negara ini… masih banyak yang tidak mau membuka mata… juga budaya yang berbeda-beda

mamang2 itu.. tidak bisa mengerti akan hak2 seseorang untuk memilih… karena seumur hidupnya… mereka tidak pernah mendapatkan hak mereka… (hak belajar, dan masih banyak hak2 yang lainnya lagi)

Menurut gw sih kalo namanya udah ruang publik ya sudah seharusnya tidak ada acara bayar membayar. Dan menurut gw tidak sehat sedikit2 penyelesaian dengan uang…samalah kayak mau ganti 3in1 dengan sistem tarif…never solve the problem…
Begitu di ruang publik artinya kita sudah siap terima segala risiko nya….mau dikata2in orang..mau dicopet…mau digarong..mau digodain orang….ya itu resikonya. Sekarang tinggal bgmn kita antisipasi semua resiko itu….kalo nggak mau kejadian ya tinggal di rumah aja…atau jangan attract perhatian…jangan pake short pendek kalo mau joging di taman umum…jangan bawa duit banyak2 kalo naik bus umum (kecuali udah siap dengan resikonya). Buat apa sih joging pake short pendek padahal lu bisa pake training…toh esensinya lu mau olahraga bukan pamer paha…kalo mau sambil pameran ya lari di treadmill di rumah (bisa sambil bugil malah) ato di klub fitness…kan yang ngeliatin juga yang punya duit dan mudah2an bisa behave :p
Dan ruang publik harusnya ada yang jaga…kalo malem ya harusnya polisi patroli disana…ya intinya banyak solusi buat suatu permasahalan….
Semuanya hal kecil yang dimulai dari kita sendiri kok…kita nggak bisa merubah dunia (Indonesia) dalam sekejap…tapi rubah dulu diri kita…

taman kota yang gw idam idamkan yang kaya central park gitu.. (biarpun gw sendiri blm pnah ksana). yah at least kaya taman menteng gitu. sayang ya banyak oknum oknum ga bertanggung jawab gitu.

belajar norma norma hidup.
supaya jadi orang bener.
seperlu itukah?!

taman ideal = bayar tiket masuk?!
*sigh*

Dengan memberlakukan uang masuk, maka taman kota tersebut bebas dari orang orang kalangan C dan D…… - ouch, that hurts, really

gue juga senep banget, ‘dji, baca yang soal “tau diri dong bajunya”
Well, gue gak pernah punya pengalaman ama taman kota sih, tapi jujur gue paling males jalan melintas segerombolan mamang2 itu. Segimana tertutupnya pun pakaian gue (jeans panjang, kaos, jaket), tetep ajah mereka suka kasi komentar2 degrading seperti,
“wah, pantatnya kok goyang2″

Dengan kondisi berada di taman, dan sore2 pula, gue rasa mereka pengen nyantai, makanya pake clana pendek.
Dan kalo paha mereka happen to be mulus dan putih karena keturunannya, apakah itu brarti mereka boleh dikasi komentar2 degrading kaya gitu?
ah, gue jadi emosi hahahha…..

tapi gue juga gak setuju klo musti ada aturan bayaran! Yap, bakal create more gap. Gue sih kasian ama mereka yang emang niatnya mo maen tapi gak mampu karena mereka gak bisa bayar. Gimanapun kan mereka juga warga indonesia. Warga kota jakarta yang pemerintah entitled buat kasi mereka fasilitas. Nanti bener2 terbukti dong, idiom bahwa jakarta cuma enak buat mereka yang berduit :)

Tapi gimana yah caranya kasi tau ke si mamang2 itu that what they do is damn offensive dan kalo ajah kita di negara maju sono, mereka bisa di sue gila2an hahaha…
gue baca di jakpost yang soal ada seorang wanita yang ngrasa risih karena diliatin sama satu laki2 dan ahirnya pengadilan memutuskan klo si laki2 itu musti bayar denda. Di itali ato ostrali gitu. Kalo bisa kejadian disini hhmmm… mungkin rumah tuh cewe dah habis diserang ama si laki2 dan teman2nya kali yah, klo brani ngelaporin ke pengadilan huhuhu… negriku :(

Pertama-tama, aku bingung dengan komentar yang menolak pembayaran uang masuk, tapi menyarankan petugas 24 jam. Duit dari mana, ya? Justru uang masuk itu bisa untuk bayar biaya petugas (atau mekanisme) keamanan ekstra.

Tapi, kedua: aku pribadi kurang setuju dengan solusi uang masuk. Seperti kata salah satu komentator, itu solusi yang memancing masalah lain: sentimen antarkelas sosial.

Mengacu pendapat Gavin de Becker dalam bukunya, Gift of Fear, banyak masalah sosial seperti ini yang sebenarnya bisa diatasi dengan cara pengkondisian sosial. Pelecehan terhadap wanita berpakaian minim di taman bermain, misalnya. Itu terjadi karena masyarakat di situ _mengizinkan_ mereka. Saat itu, Pandji menegur mereka tidak?

Kalau tidak, Pandji sendiri telah menjadi bagian dari masyarakat yang _mengizinkan_ praktik itu terjadi. Dan ini, sayangnya, adalah hal yang lazim. Jadi bukan Pandji saja. Saya juga kena. Kalau ada pelecehan terhadap wanita di depan umum dalam bentuk komentar seperti itu, saya menganggap itu perbuatan yang salah. Tapi saya merasa kesulitan untuk menegur mereka.

Kenapa? Karena saya merasa jadi minoritas. Saya terkondisi untuk tidak protes. Dan dengan begitu, justru saya menjadi bagian dari masyarakat yang memberi contoh pada orang-orang lain: bahwa perbuatan itu _bisa_ dilakukan.

Selanjutnya, seperti teori Broken Windows yang tentunya Pandji sudah pernah baca ulasannya di buku Tipping Point: sekali-dua kali pelecehan itu dibiarkan, lama-lama jadi kebiasaan yang mengakar. Hingga akhirnya sulit dikendalikan.

Padahal, dengan mengetahui ini, kita sebenarnya bisa melakukan sesuatu. Dan paling efektif justru dari awal. Begitu ada tindak pelecehan… sekecil apa pun… langsung ditegur di depan umum. Ajak orang-orang lain untuk melakukan hal serupa. Belalah hak untuk menikmati taman itu tanpa harus diganggu oleh pelecehan.

Dengan meredam hal-hal yang tampak kecil seperti ini, justru bisa memotong kemungkinan untuk hal-hal yang lebih besar (kalau taman jadi tidak aman, bisa saja nanti dipakai nongkrong orang berjudi juga, dll).

Dan kuncinya: tidak bisa sendiri. Pengkondisian sosial hanya bisa dilakukan secara sosial: dalam komunitas, bersama-sama.

Pertama-tama buat Isman, sumbernya ya sama dari duit yang dipake buat bikin taman kota itu….. Pajak…..

Kan mending buat nyewa satpam daripada bikin baliho segede gaban pake foto gubernur pake tulisan “Pajak anda membangun Jakarta” (yang gw udah nemu 5 dalam sekali gw jalan dari Bandung-Jakarta)….
Yang menurut gw ga penting karena gubernur sebelom ini udah bikin yang tulisannya kalo ga salah “Mintalah struk sebagai bukti anda membayar pajak”, gw blom ngecek di posisi baliho itu diganti ama yang baru ato ngga….

————————————

Setuju sama Winda….
Seandainya hukum di Indonesia sudah ditegakkan dengan baik, Polisi jadi polisi bukan cuma karena duit & pengacara mau ngurusin kasus kecil bukan cuma jadi pengacara pengen tajir….
Jadi kalo ada mamang2 alay yang begitu bisa dimasukkin penjara….

Gw jadi inget pas gw pergi keluar, terus ada pengamen yang cukup atraktif, gw jadi mau ngasi duit (udah gw foto juga, hehe http://djayrx.deviantart.com/art/Sing-With-Smile-88572158)….
Tapi gw inget kata kk gw, kalo ngasi duit gw bisa dipenjara, soalnya mereka udah dikasih duit sama pemerintah buat hidup (dan gw tau hukum mereka ga main-main)….

Yah begitulah orang dan pejabat di Indo bisa buat yang bagus seperti fasilitas taman, mall, ini dan itu tapi pada nggak bisa ngerawat. liat aja busway, yang tadinya nyaman, jadi mengerikan begitu. terus kita harus membayar pajak untuk membangun jakarta.. tapi apa yang dibangun? fasilitas dipiara juga engga? uangnya kemana ? jalanan pada bolong, akibatnya banyak yang mokat karena nggak liat jalan raya bolong bolong… jalan kaki di trotoar di senggol motor. gimana donk… masalahnya dari atasnya udah bobrok moralnya apalagi bawahnya… ikutan bobrok deh. siap siap taun depan musim kampanye… pasti rusak sana sini, corat coret sana sini….gimana nanti generasi penerus???

Leave a Comment