Belakangan ini, posting gue di blog adalah mengenai cara
Cara keras
Cara baik baik
Violent and Non violent.
Sebagai seorang laki laki, adalah di dalam darah gue untuk agresif.
Gue, adalah seorang agressor.
Tapi yang menghalangi untuk gue berantem sama orang ketika dulu adalah resiko yang bisa saja menghampiri bukan gue, tapi orang sekitar gue yang gue sayang.
Setelah menjadi orang tua, ke khawatiran itu lebih kuat.
Kemarin, gue berusaha untuk mengajak followers gue untuk berpikir..
Gue ngetweet seperti ini:
“Hey, ada yg merasa perlu utk kita melawan malaysia diantara kalian?”
lalu gue lanjutkan…
“Selama ada ketidak adilan… Saya akan selalu percaya akan perlawanan..” -Gandhi-
“The question is, do we fight to punish, or do we fight to change things?..” -Gandhi-
“If we want to change things, our fight has no need of violence in any form” -Gandhi- Memang betul, plawanan kita harusnya tanpa kekerasan.
Tujuan gue ngetweet itu adalah supaya kita ingat lagi bahwa perjuangan kita tidak perlu keras karena perjuangan kita, perlawanan kita bukan untuk menghukum siapa siapa, tapi untuk mengubah sesuatu. Karena itu, tidak perlu menggunakan kekerasan..
Kemudian, sahabat gue, seorang teman sejak lama, ngetwet gue
“Gw merasa perlu
Hahaa!!”
lalu dia lanjutkan
gw rasa kekerasan juga diperlukan untuk menunjukkan kalau kita bukan bangsa yg lembek. So kita melawan untuk menunjukan harga diri..
Kemudian dia ngetweet lagi …
kekerasan untuk sebuah alasan yang benar gw rasa sah-sah saja untuk dilakukan
Disini, gue ngereply tweet dia tadi dengan…
“Kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru”
itu isi AMANAT BERSAMA yg ditulis lebih dari 2500 org se-Indonesia
Kemudian teman gue membalas tweet gue dengan:
“jika kita melakukan kekerasan, itu karena sebuah alasan yang kuat dan benar. Buat gw, kta dirampas, kta dicuri, pekerja kta disiksa!”
Sampai disini, gue langsung inget posting gue tentang benar itu relatif dan baik itu mutlak… gue berpikir “Dia uda baca blum ya posting gue itu..”
Membaca Tweet itu, gue penasaran ingin denger jawaban dia kalau gue tanya…
“kalau elo siksa maling, tidakkah anaknya akan balas dendam dan menyiksa anak lo? Kapan usainya?
”
Dia kemudian menjawab …
gw menyiksa maling karena dia maling (hukum dlm bentuk adil). Kalo anak gw bukan maling lalu dipukulin gw ajarin anak gw utk BALAS!
Kemudian temen gue melanjutkan argumennya..
“mngkn trdngar extrim. Nabi Saw prnah diludahi, beliau sabar. Tp, bgtu sobatnya disiksa (n alasan2 lain), beliau mulai jalan keras
”
Disini gue kemudian gatal untuk berkomentar..
“Jaman beliau belum ada bom nuklir
“
Dengan ringkas temen gue menjawab..
hahahaaa..kenapa takut pada bom nuklir jika kita ada di pihak yang benar?
Hehehehehehehehehehe ![]()
Entah kenapa gue merasa, jawaban temen gue itu lucu sekali.
Lucu karena entah kenapa temen gue merasa, bahwa bom tidak akan jatuh pada pihak yang benar.
Padahal, dalam perang, siapa yang tau mana yang benar dan mana yang salah?
Memangnya Amerika adalah pihak yang benar sebagai negara yang menjatuhkan bom?
Memangnya Jepang pihak yang salah?
Dalam perang, siapa sih yang bener bener tau siapa pihak yang benar?
Pihak Amerika (dan mungkin kita yang penikmat film Pearl Harbor-nya Ben Afflect dan Josh Harnett) pasti akan merasa dia benar.
Tapi gue jamin, pihak jepang pada saat itu tidak merasa bahwa menyerang pearl harbor sebagai sesuatu yang salah.
KEKERASAN HANYA AKAN MELAHIRKAN KEKERASAN BARU
Ada alasan kenapa tulisan itu muncul di AMANAT BERSAMA , ada alasan kenapa 2500 orang se-Indonesia yang mengedit tulisan itu via wiki menghadirkan poin tersebut.
Karena walaupun kita adalah pihak yang kecurian, kalau malingnya kita siksa, kita hina, dan bukan kita adili DENGAN BAIK maka dendam akan tersimpan di dalam hatinya dan lebih parah lagi, anaknya!
Anaknya, tau bapaknya salah karena mencuri, tapi dia tidak terima dengan penghinaan dan penyiksaan yg diterima bapaknya!
Here’s a true story
So true.
Gue terpaksa tidak menyebutkan nama dalam kisah ini karena sangat sensitif.
Gue tidak mau melukai siapapun.
Suatu hari, seorang maling ayam tertangkap di sebuah dusun.
Maling tersebut, adalah orang dusun itu juga.
Seisi dusun mengenal orang itu.
jadi ketika teriakan “MALIIIIING” berkumandang, seisi dusun keluar dari rumah mereka dan menemukan si maling tertangkap basah dengan ayam di tangannya..
Seorang pria gagah dan tegap, lalu maju ke depan, dan memaki maki si maling..
Menghina dengan lantang, mengajari si maling untuk tidak mencuri.
Menunjuk nunjuk sambil terus menghina si maling…
Maling itu salah.
Pria yang menuding itu benar… walaupun caranya kurang (tidak) baik…
Maling tersebut pada akhirnya dibiarkan bebas…
Karena, selain hanya sekedar ayam, toh dia warga dusun juga.. Maka maling tersebut dimaafkan.
Seminggu setelah kejadian, pria gagah dan tegap tersebut di tusuk dari belakang.
Oleh si maling.
Pria tegap itu, tewas.
Ternyata, si maling merasa terhina dipermalukan di depan umum.
Demi Tuhan kisah ini benar.
Coba gue tanya sama elo?
Dalam keadaan seperti ini, pentingkah untuk kita berpikir BENAR dan SALAH?
Andai saja, pria tegap itu memilih untuk melakukan penyelesaian dengan baik.. mungkin dia masih hidup sekarang.
Yang kasian siapa coba?
ANAK ANAKNYA.
Yes, he had children.
Ini yang gue khawatirkan
Ketika gue bilang “Jaman beliau belum ada bom nuklir
“
Gue ga peduli siap yang benar dan siapa yang salah
Gue memikirkan SIAPA YANG JADI KORBAN?
Kalau gue harus berpikir keras sampai botak demi menemukan cara yang damai, yang tidak akan memakan korban anak anak kecil yang tidak bersalah, maka gue memilih botak!
GUE MINTA ELO MELAKUKAN INI, GUE MOHON:
Google picture: CHILDREN OF WAR
Lihat.
Lihat semua foto foto itu.
Lihat itu dan bilang sama gue, elo tetep pengen perang.
Lihat itu dan bilang sama gue, bahwa elo AKAN JAMIN kalau perang pecah tidak akan anak anak di dua negara ini yang nasibnya akan seperti mereka.
Lihat dan bilang elo tetap percaya kekerasan.
Coba aja.. Gue pengen tau.
Btw
Kembali ke obrolan via twitter antara gue dan teman gue akhirnya berhubung mencari kebenaran diantara kami berdua itu akan menghasilkan lebih banyak masalah baru daripada solusi, maka gue praktekan apa yang gue sudah omongkan.
Gue ambil penyelesaian yg baik, gue mengalah
“Ah, bisa jadi elo benar, bisa jadi gue benar. Demi kebaikan gue akui aja argumen elo. Skrg, mari gue benahi rumah yg kebanjiran.”
Temen gue lalu membalas ![]()
“mungkin gw tak sepenuhnya benar, barangkali lu juga begitu. Kita harus memasyarakatkan dialog diskusi seperti ini
”
gue setuju
Obrolan seperti ini, bagus buat otak …











September 2nd, 2009 at 7:45 am
Bener banget Dji…
Orang seenak jidad aja ngomong perang.. tanpa mikirin apa akibatnya.
Jangan emosi lah.. jangan ngomong doang jg.. yuk berkreasi..
September 2nd, 2009 at 7:53 am
Yup bang pandji…
perang atau kekerasan memang jalan terakhir untuk menyelesaikan masalah….
kalau bisa dihindari…
Nabi SAW sendiri setahu saya sebelum mulai perang pun pakai diplomasi dulu kepada lawannya…
diajak menerima Islam atau membayar semacam pajak gitu…CMIIW..
September 2nd, 2009 at 9:00 am
Memang seharusnya kta lebih banyak instropeksi lagi, Mereka melakukan hal itu terhadap kita karena apa? Sehingga kita bisa lebih bijak lagi dalam bertindak.
September 2nd, 2009 at 10:12 am
Ngga selama yg kita anggap benar itu benar menurut org lain, dan sebaliknya..
Yang bisa kita lakukan terus berusaha…
September 2nd, 2009 at 10:49 am
PERAAANNNGGG!!!!
September 2nd, 2009 at 12:23 pm
untuk yg kesekian kalinya gw sepakat banget NDji
kekerasan jgn dibales dengan kekerasn lgi
gw pernah ngalamin hal yg serupa, org lain melakukan kekerasan kpd gw-dkk, kami berusaha untuk tetep dingin dan lebih nunjukin dgn aksi yg konkret, singkat cerita it works..!! dan org yg melakukan kekerasn itu diam.
September 2nd, 2009 at 12:54 pm
perang? gw malah ngeliat ajakan gitu lebih kayak ngajak tawuran
ato emang ini salah satu upaya melestarikan budaya tawuran di Indonesia sebelom dicaplok negara lain?
go panji!!
sorry buat temen2 yang setuju dengan ide perang, i say NO.
September 2nd, 2009 at 12:56 pm
BETULLL!!! kekerasan jangan pernah dibales dengan kekerasan.. apa bedanya kita sama mereka kalo begitu… memalukan…
September 2nd, 2009 at 1:29 pm
@Havban, “Orang seenak jidad aja ngomong perang.. tanpa mikirin apa akibatnya. Jangan emosi lah.. jangan ngomong doang jg.. yuk berkreasi..
” Tentu saja nggak boleh seenaknya ngomong perang. Kecuali seorang yg biadab maka dia akan ngomong seenak jidad. Perang adalah pilihan terakhir.
@Ucup, “Nabi SAW sendiri setahu saya sebelum mulai perang pun pakai diplomasi dulu kepada lawannya.” See? Pada akhirnya beliau mengambil cara kekerasan.
@Achill, “BETULLL!!! kekerasan jangan pernah dibales dengan kekerasan.. apa bedanya kita sama mereka kalo begitu… memalukan…” Jika negara kita telah mengambil langkah-langkah yang perlu dan pantas namun masih saja dilecehkan dengan pencurian karya budaya, pengklaiman atas wilayah, bahkan penyiksaan atas warga negara kita di sana. Langkah kekerasan gw rasa bukanlah sebuah langkah yang memalukan. Tapi membanggakan (silahkan untuk tidak setuju)
Peperangan memang selalu membawa dampak buruk. “Menang jadi arang kalah jadi abu.” Standar benar-salah pun sering dianggap relatif. Nilai kebenaran yang dianut Amerika berbeda dengan yang dianut oleh Afganistan dan Irak. Nilai kebenaran Belanda tidak sama dengan nilai kebenaran di otak para pahlawan bangsa dulu. Walau sebenarnya pun semua orang tahu dari dalam lubuk hatinya mana yang benar dan mana yang salah. Ada kendali yang namanya hati dan otak.
Gw pun anti peperangan. Seriiing gw menangis kalau melihat gambar korban peperangan di berbagai penjuru dunia. Namun di satu sisi gw pun punya pendirian, apalah artinya perdamaian jika harga diri mereka/kita diinjak.
Dulu kita punya semboyan “Merdeka atau mati!”. Pilihannya ada dua Merdeka dan Mati. Gw memaknai kata Atau di antara dua kata itu sebagai perjuangan. Entah itu dengan cara diplomasi sopan nan cerdas ataupun angkat senjata. Dan akhir dari perjuangan itu adalah merdeka, atau, mati. Titik.
Gandhi adalah salah satu teladan gw, namun jangan lupa, Inggris juga segan atas keberanian para pejuang India selain Gandhi yang juga melakukan perlawanan kekerasan.
Contoh perilaku Nabi SAW yang diambil oleh sahabatnya Pandji di atas gw rasa tepat sekali. Beliau adalah manusia paling sabar, paling pemaaf, paling cerdas, dan jangan lupa, paling berani di medan perang (dan ini adalah pilihan terakhir beliau dalam menyelesaikan sengketa)!
September 2nd, 2009 at 1:31 pm
Gw pribadi sih percaya kalo kekerasan emang dibutuhkan, tapi bukan yg utama. Emang benar, prioritaskanlah dulu diplomasi alias bicara baik-baik. Tapi adakalanya semua itu ga mempan, we’re not living in heaven. Dan saat itulah tindakan tegas dibutuhkan.
Soal anak-anak korban perang, apakah demi tidak jatuhnya korban, satu bangsa yg inferior musti nurut saja? Dalam konteks ini, gw yakin kalo korban memang pasti ada demi sesuatu yg kita sebut greater good. Bukankah kita merdeka karna dulu pahlawan kita berperang melawan penjajah. Kalau mereka, para pahlawan, berpikir perang itu hanya akan mencelakakan orang-orang tidak berdosa lainnya, mungkin kita ga bakal merdeka. Mereka sadar, begitu mereka memutuskan untuk berperang, pasti akan jatuh korban. Untuk itulah korban, alias pengorbanan dibutuhkan demi sesuatu yg lebih baik. Bayangkan kalo kita terus berdiplomasi dengan penjajah waktu itu….
Makanya, jadilah bangsa yg kuat. Jadi setidaknya, mereka akan berpikir dua kali sebelum cari masalah. Nah, gimana jadi kuat? Ok, contoh kecil, gw yakin masih banyak contoh lainnya, kalo dari sudut pandang tukang palak, kira-kira mereka kalo milih korban dari mana? Apa mereka yg tampangnya sangar, apa lembek? Gw, alhamdulillah belom pernah liat abang keriting tinggi sangar bercodet dipalakin. Mau ga mau, elemen kekerasan si abang keriting tinggi sangar bercodet tadi membantu menangkal hal-hal ketidakadilan yg bakal datang ke dia. Apalagi dia sambil nenteng pistol..I hope you guys see what I mean.
Ok, sampai disini gw tersesat, kita sedang ngomongin apa…
Peace bro
September 2nd, 2009 at 1:39 pm
Kalau malingnya kita siksa, kita hina, dan bukan kita adili DENGAN BAIK maka masalahnya gak akan pernah selesai.
Saya sendiri gak mau kalau sampai ada konfrontasi dan perang.
Sangat tidak enak dan tidak nyaman kalo harus hidup di lingkungan peperangan.
Kita ini masih muda.
Sia2 waktu kalau harus ikut wajib militer, misalnya.
Lebih baik waktu untuk cari ilmu dan mengabdi ke keluarga, masyarakat, negara, dan agama.
Ini lebih baik dan mengkin saja bisa membuat bangsa Indonesia lebih baik.
Saya bukan maniak perang,
Saya selalu menghindari konfrontasi meski dengan saudara sendiri.
Karena kita pasti tau bakal buruk jadinya.
Saya 100% setuju dengan mas Pandji untuk tidak melakukan kekerasan dengan bentuk apapun.
Saya 100% setuju dengan AMANAT BERSAMA IndonesiaUnite.
September 2nd, 2009 at 1:39 pm
Hm.. gue berpikir.. kalo seandainya perang dgn malaysia dilakukan oleh TNI AD kita yang turun dan nyerbu ke malaysia.. mgkn kita masih ada kesempatan menang karena jumlah TNI AD kita rasanya jauh lebih banyak.. dan Indo punya banyak pengalaman perang gerilya… tapi.. kok gua berpikir yang terjadi kemungkinan besar gak akan seperti itu..
yang menurut gua akan terjadi, adalah spt perang Israel – Palestina yang pake rudal jarak menengah… dan mgkn dari segi ini.. kita akan kalah persenjataan… since heli kita aja udah pada tua umurnya dan gak terawat… apalagi mikirin rudal… jangan2 pas ditembakkan meledak langsung di tempat.. apa malah gak celakain kita sendiri kali?
misalnya kita gak kalah pun dari segi persenjataan….. kedua belah pihak pasti hancur2 an kena rudal… dan yang banyak kena akibat adalah capital city… KL dan Jkt.. sebagai pusat yang plg mgkn diserang untuk melumpuhkan komando…so kita2 yang tinggal di Jakarta yg mgkn akan paling kena akibatnya…
Dji… gua ngerasa mgkn sebagian org gak akan merasakan emosi yang lu rasakan ketika lu bicara ttg anak2 yang menderita bila menjadi korban perang, simply because mrk belum menjadi parents spt gua dan elu… tapi buat mereka2 itu …gua minta kita berpikir bagaimana kalo seandainya kakak, adik, ortu, pacar, istri, suami, paman, tante, sepupu, dll yang jadi korban….
Gua ngerasa malaysia emang bener2 udah kurang ajar dan kita harus melakukan segala cara seagresif mungkin, tapi ditempat yang tepat…
budaya kita, apapun itu, harus bisa diselamatkan. Bila malaysia bisa meng claim budaya kita sebagai miliknya, kenapa kita gak bisa melindunginya? Mrk pintar… tapi kita yang berhak…
buat siapapun itu yang bertugas mengurus Kebudayaan …gua cuma minta… berpikir lebih cerdaslah ketika ada maling cerdas yang mau mengambil hak kita…
di tangan kalian kita semua bangsa Indo berharap… untuk bisa secepatnya tuntas masalah pencurian kebudayaan ini…
sedangkan bila pihak malaysia claim tanah kita sebagai milik mereka.. itu hal lain… itu adalah kedaulatan kita yang gak bisa diganggu gugat.. spt SBY bilang.. itu adalah harga mati… bila malaysia dikasih hati.. lama2 ngelunjak..
September 2nd, 2009 at 2:02 pm
eh kata2 “bila malaysia dikasih hati.. lama2 ngelunjak..” itu kata2 sendiri gua loh … jangan ada yang salah ngira SBY yang ngomong
September 2nd, 2009 at 2:30 pm
langkah kekerasan mungkin memang diperlukan kalo saja negara memang telah mengambil langkah yang perlu,, sekarang permasalahannya,, sudahkah negara melakukan itu secara total,, ngga separuh2 ??? sudahkah negara benar2 melakukan “pelindungan” terhadap budaya-nya ??? kalo iya,, cara yang mana ??? kalo memang sudah,, kok bisa dengan “gampangnya” malaysia klaim sana klaim sini klaim pulau ini klaim pulau itu. . sudahkah indonesia memberikan “perlindungan” terhadap tenaga kerja-nya ??? kalo sudah,, mana buktinya ??? kalo sudah,, kok masih banyak kasus tki yang “ngambang”. .
dalam beberapa hal,, cara diplomatis terbukti masih efektif,, tegas memang diperlukan,, tapi bukan berarti keras kan ??!
alangkah baiknya kalo semua-nya dibenahi secara total dan benar terlebih dulu,, dari dalam. .
soal perang,, bukan hal yang menyenangkan,, menyakitkan,, so mmm,, let’s just talk about it,, LATER (or maybe NEVER). .
September 2nd, 2009 at 2:41 pm
kalo rudal udah nyentuh monas…. baru deh perang… ini mah…. masih bisa diingatkan… saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran…
September 2nd, 2009 at 2:53 pm
kakak gue yang kolonel tni ad di dephan jakarta nasehatin gue,begini: jangan membuat polemik,jangan terpengaruh opini orang…,menurut gue semua berhak ber opini lah….buat pandji….jangan terlalu idealislah,kamu bisa terpeleset suatu saat loh,dan jangan sampai ada kultus individu disini,nanti setiap bicaramu jangan jagan dianggap omongan dewa-dikira setiap kata-katamu adalah emas,nanti followers mu yang ekstreem bisa begitu aja terpengaruh oleh kata-kata mu dengan membabi buta!.oya bukankah ngerap juga bukan budaya asli indonesia? ada cara lain tidak ya?kan menyalurkan aspirasi tidak harus selalu ngerap-bukan tidak setuju=bukan tidak boleh loh…..karena Indonesia bukanlah jakarta saja,meski dia adalah ibukota negara,tapi apa yang dilakukan kalian di jakarta,bisa berpengaruh besar pada followers 2 di daerah,kalau yang kritis mungkin tidak terpengaruh begitu saja,bagaimana kalau dia mengidolakan kalian,yang kebanyakan mungkin cantik tapi bodoh,kayak robot aja,pasti terpengaruh secara absolute!
sorry and thanks….
September 5th, 2009 at 1:12 am
setuju dji. i share your point of view. peace won by sword, will fall by sword.
September 5th, 2009 at 11:22 am
absolutely, STUJU MAS…
andaikan semua orang berpikiran ato sadar setelah membaca ini. TUHAN pun akan tersenyum melihat dunia ini….!!!! HENTIKAN KEKERASAN, JAGA PERDAMAIAN…
yang kita perlukan adalah KETEGASAN bukan KEKERASAN, Pak Mario Teguh pernah berkata bahwa KETEGASAn sama sekali tidak sama dengan KEKERASAN karena ketegasan dapat diutarakan dengan cara damai tanpa kekerasan. itu point penting’a…
September 5th, 2009 at 12:07 pm
ini membuat saya berpikir…
September 5th, 2009 at 7:21 pm
Pada ngerasa nggak sih kalo malaysia itu semenjak dimerdekakan oleh inggris, negaranya udah diset sedemikian rupa buat jadi negara yang kelak bakal diadu domba sama Indonesia? Indonesia waktu itu emang negara kemaren sore, bro! Tapi inget, di tanah nusantara ini pernah berdiri banyak peradaban-peradaban maju dan besar sekelas Amerika pada saat itu! Contohnya Jawadwipa (1300 SM), Sunda Archipelago (130 M), dan Majapahit (1300 M), Dan nggak mustahil pengendali negara-negara barat (baca : Zionis) takut Indonesia bakalan besar lagi kayak dulu!
September 6th, 2009 at 8:15 am
setubuh ah..
kalo kata ayu utami sih
September 6th, 2009 at 1:37 pm
wah mas panji saya setuju nh am mas….
menuurut gw peperangan tuh bukan langkah yg harus kita ambil, karena peperangan itu cuman menambah masalah dan merugikan negara kita sendiri kok..lagypula malaysia itu penduduknya banyak yg berasal dari indonesia sendri, kalo kita perang sma malaysia sama aj kita perang sama sodara kita sendiri, kasian lah rakyat indonesia, pelajra indonesia, Tki indonesia, semuanya akan tersiksa cuamn karena emosi semata..
ayowlah bangsa indonesia, kita ini negara yg merdeka negara yg penuh dengan kreatifitas, knapa kita gak bisa melawan mereka dengan ide2 dan kreasi kita, perang cuman akan menimbulkan sengsara….
jganlah terpancing emosi cuman karena malah seperti ini, msh byak msalah di dunia yg lbih penting dari ini…
kita sebagai warga negara indonesia patut membela dan mencintai tanah air kita..tpai cinta tanah air tidak dgan cara emosi, tpi dgan otak…berpikirlah lebih dewasa msyarakat indonesia…kita harus sadar bahwa kita masih dibawah malaysia sebagai negra maju…kalo kita maw mgalahkan mereka, mari bahu membahu membwat indonesia berada di level yg lbih tgi di atas mereka, tunjukan bahwa kita lebih maju dari mereka, kita buat suasana yg kondusif aman dan tentram tanpa adanya peperangan….
make piece with creativity……
September 6th, 2009 at 8:33 pm
yup gw mungkin lebih milih cara damai dibandingkan perang. karena terlalu banyak akibat negatif yang bisa ditimbulkan dengan perang. tunjukin kalo kita kita memang orang2 yang berpendidikan, dan gw lebih memilih jalan diplomatis dari pada perang. pemerintah juga seharusnya bekerja lebih serius dalam menangani masalah ini, selain itu masyarakat Indonesia juga harus bisa berperan aktif, misalnya menghargai kebudayaan indonesia, mau menyanyikan lagu nasional. malah ada dampak positifnya tu maly mengklaim tari pendet, soalnya sebelum di klaim tidak semua orang Indonesia tau tarian tersebut. jadi jangan sepenuhnya menyalahkan mereka, kitanya gimana dulu, mau ga melestarikan budaya Indonesia yang kita cintai ini.
September 7th, 2009 at 9:17 am
DIAM dan MENGALAH, 2 hal ini yang gw lakuin saat mencoba mencari KEBAIKAN..Sangat sensitif jika gw sebutkan nama seseorang yang membuat saya bisa mengambil sikap DIAM dan MENGALAH..Jika gw ikut MENENTANG atas tuduhan yang dikasih ke gw atau anggapan yang salah tentang gw, hmmh gw yakin akan berujung KEKERASAN termasuk BENCI (walaupun awalnya ada CINTA..) dan MEMUTUS SILATURAHIM (red : bersosialisasi)..Karena gw yakin, sosok seperti dia bisa memutar otak, memanfaatkan potensinya berpikir, maka gw beri waktu untuknya BERPIKIR dan MENENANGKAN GEJOLAK EMOSI (SHOCK) yang mengganggu performa berpikirnya..Gw biarkan dia mencari KENYAMANAN..saat NYAMAN, TENANG, solusi pasti akan ada..tanpa harus MENANTANG atau bahkan dengan KEKERASAN (Oiya..kata-kata menyakitkan juga termasuk KEKERASAN bukan..?? juga bisa bikin lawan bicara terhina atau dipermalukan..)..Setuju gw ma pandji, kapan berakhirnya perselisihan kalo dihadepin ma kekerasan..??
Eiiit..niy comment kepanjangan..terkesan gw mencari pembelaan atas diri gw atau gw posisikan diri gw di posisi yang BENAR juga BAIK..hehe. Tapi, setuju kaaaan..??
September 8th, 2009 at 12:39 am
Itulah kenapa gw baca blog lu ndji..
Bagus buat otak.. Hehe..
Bukan berarti gw setuju sama semua yang lu tulis, tapi tulisan lu memprovokasi pikiran2 gw. And for that, I still read your blog.
September 9th, 2009 at 9:03 pm
Gw berpikir ttg ke-tidaksuka-an bbrp dari kita (juga gw) kpd malaysia akhir2 ini. Bener, banyak sekali rakyat Indonesia yg akhrnya antipati sama mly, even gw, walopun gak sampai ke tingkat yang bener2 parah. Teman sekantor gw sampe gak mau dan gak suka waktu gw ajak nonton geng upin-ipin
pdhl kl gw, ntn mereka di tv sore2 bisa ketawa ngakak berdua suami, lucu sekali!
Teman gw itu cerita, teman suami-nya waktu tugas ke mly dan naik taxi, bgt si supir taxi tau bahwa penumpangnya adalah org indonesia, dia komentar dan bersungut2 “huh, satu lagi lahan kerjaan kita yang diambil sama indon” (well, kalimat persis-nya sih gak begitu mungkin ya)…
Kemudian ada hal lain, gw nonton tv tadi pagi ada berita, pemerintah/pengadilan mly(?) menolak/mengalahkan McD yang menggugat satu restoran kari ayam yg pakai nama McChicken krn menggunakan embel2 Mc dan identik dengan salah satu menu di McD itu, pdhl McD itu sudah sekian tahun lamanya mengurus kasus itu melalui jalur hukum, tapi tetap kalah.
Beberapa hal demikian membuat gw berpikir dari banyak sisi….
Oooo…. ternyata mereka merasa iri, sakit hati, krn lahan pekerjaannya diambil kita…. kasihan mereka.
Pernah gak ada diantara kita yang merasa, bbrp tahun ini expat Filipina banyak sekali kan ya, adakah yg merasa iri pada mereka? Pasti ada. Krn dengan kualitas hampir sama, bahasa inggris bagus-an mereka, gaji pun hampir sama, mereka bisa menduduki dan merebut jabatan2 manager di perusahaan2 kita. Adakah yang iri dgn mereka? Pasti banyak…kalo mau jujur.
Kemudian, mungkin, gw pikir, mereka (mly/pemerintah-nya .red) itu sombong. Entah apa yang ingin mereka buktikan dengan kesombongan mereka itu, ingin membuat bangsa-nya berkelas dunia mungkin? Ingin punya kebanggaan di mata dunia? Entahlah…
Tapi bagaikan ber-logika dengan orang bodoh, mereka memang gak bisa dilawan dengan kekerasan, karena mungkin itu juga salah satu tujuan-nya agar kita terpancing dan melawan balik dengan kekerasan.
Pada saat itu, mereka akan dengan mudah menunjuk kita sebagai bangsa yang bodoh karena mudah sekali dipancing emosi-nya.
well..well..well…. mengingatkan gw pada pelajaran sejarah dan cap bodoh bangsa kita di masa lampau,
dimana penjajah berhasil dengan sukses-nya mengadu domba kita, dan kita menjadi bangsa terjajah sekian ratus tahun lamanya, hanya gara-gara emosi kita yang bodoh itu!
How stupid of us if then, now, kita semua terpancing dan tidak bisa menanggapi hal ini dengan pintar.
Jika sekarang, kita, sebagai generasi muda, yang pintar2 sekali ini, sampai bisa terpancing demikian, akan sangat disayangkan para pahlawan dan leluhur bangsa ini.
Setuju pandji, bukan dengan emosi kita menanggapi-nya… tapi justru ini adalah blessed in disguise. Karena dengan ini, pesan indonesiaunite sampai kemana-mana, dan gw yakin, sudah sampai ke negara tetangga itu. Berkat mereka, kita diingatkan dan dibangkitkan semangat berkebangsaan-nya, agar jati diri bangsa ini tidak hilang di generasi kita.
Setuju, benar itu relatif, baik itu absolut.
Jadi, gw akan tetap berobat kesana, karena lebih bagus dan lebih murah dari disini, hahahahahaahahhaa….
September 9th, 2009 at 9:08 pm
Eh, pas gw baca lagi, salah ding, nama resto-nya bukan McChicken, tapi McCurry – singkatan dari Malaysia Chicken Curry. (maksa gak sih)
September 13th, 2009 at 9:46 pm
Perang oh perang. Jaman sudah susah begini kenapa harus pake perang?
Ingat kita masih negara berkembang!! Masih banyak sektor-sektor yang harus kita kembangkan.
Masih banyak diluar sana yang kesusahan, kelaparan di papua, kena musibah, dll yang perlu bantuan kita.
October 19th, 2009 at 2:58 pm
perang itu mungkin sama dengan cerai, hal yang sangat dibenci oleh Allah, tapi diperbolehkan kalau memang sudah amat sangat terpaksa, sebagai option terakhir
untuk kasus tki dan budaya kita yang menurut kita di klaim, kita sebaiknya intropeksi, gw setuju ama lo nji, kesannya tolol kalau kita teriak2 ganyang malaysia hanya karena kasus ini. gw berani untuk berdiskusi dengan siapapun teman2 yang ingin menyerang mereka karena kasus ini
cuman kalau mungkin malaysia sampai memundurkan patok perbatasan kita, menduduki ambalat secara sepihak, nah… itu beda cerita
insyaallah kita bisa berjumpa di garis depan kalau ini terjadi.
kita cinta damai kawan, tapi lebih cinta kemerdekaan.
July 26th, 2010 at 12:31 am
Life for nothing…
or…
Die for something…
I prefer the second, kematian bukanlah hal yang prlu disesalkan apalagi ditakuti, gw lebih senang melihat anak gw mati membela prinsip kebenarannya daripada mesti hidup dalam kemunafikan.
Kebenaran disini dalam batas2 ajaran gw (Islam).
December 27th, 2011 at 12:40 pm
I took 1 st home loans when I was 25 and this helped me very much. However, I require the collateral loan once again.
January 5th, 2012 at 9:28 pm
All my relatives turn to writing services. Nonetheless, it is good to accomplish academic papers because it open yourself.
February 4th, 2012 at 2:49 am
The essay writing just about this good post, you would notice at the paper writing service. Purchase the essays or custom essay about this good post.