I know you might think that this is a far pitch but really, think about it.
Apa sih yang sebenarnya dibutuhkan rakyat dari pemerintahnya?
1 kata:
LEADERSHIP.
Pemerintah harus memimpin rakyatnya.
Karena biar gimana juga, umat manusia memang harus ada yang memimpin.
Pemimpin tertinggi kita, adalah Tuhan kita.
Kemudian elo mungkin akan bilang ”Ah udah pada gede , nggak harus dikasi tau lagi soal buang sampah”
ITULAH INTI DARI KEPEMIMPINAN.
Semua perusahaan diseluruh dunia juga isinya orang orang dewasa, orang orang yang udah gede, tapi tetep aja mereka harus ada pemimpinnya.
Karena sejujurnya, Setiap orang mau mencapai sebuah tujuan tapi tidak semua tahu cara yang benar menuju kesana.
Dan kalau sebuah lingkungan diisi dengan orang yang nggak tahu cara menuju tujuan, ditambah lagi orang orang yang punya cara masing masing menuju kesana, maka yang terjadi adalah chaos.
Someone has to lead.
Dalam konteks kenegaraan, pemerintahlah yang memimpin.
Pimpinlah kami pemerintah, pemimpin yang baik bisa membuat anak anaknya mengerjakan hal yang benar, karena dia merasa memang itulah jalan yang benar, bukan karena dipaksa oleh sebuah peraturan dan hukuman.
Gue baca di banyak sekali buku
Great leaders, inspire.
Inspire berasal dari sebuah kata latin (kalo nggak salah) Inspirare yang berarti “To breathe life into someone”
Pemerintah harus bisa menginspirasi rakyatnya untuk bisa dan mau melakukan hal yang benar.
Tapi lagi lagi gue akui, negara kita terlalu luas, dengan jumlah penduduk yang terlalu banyak, dengan suku yang terlalu banyak.
Maksud gue, Cina, India, Amerika, penduduknya banyak tapi perbedaan suku dan karakteristik antar mereka tidak ekstrim.
Kita banyak daerah yang dipisahkan oleh laut.
Terlalu jauh berbeda karakteristik kita.
Makanya hingga hari ini, gue sangat berterima kasih dengan Sumpah Pemuda.
Jasa dan inovasi merekalah yang mempersatukan negara ini.
Dari SD sampe SMA gue dididik ini, baru umur 29 gue mengerti.
Memimpin Indonesia, JAUUUUH lebih susah daripada memimpin Amerika, India dan (mungkin) Cina.
Maka gue tidak pernah jadi orang yang menghina pemerintah, terutama presiden.
Damn.
Siapapun yang mau jadi presiden Indonesia adalah antara narsis terbesar di negara ini, atau orang yang ingin kaya, atau orang yang ingin berkuasa, atau orang yang mulia, atau orang yang gila.
You choose.
Whaddyou think?











August 12th, 2008 at 1:47 pm
eh gw baru terima posting temen gw dan ini sangat inspiring untuk memposisikan diri kita bahwa kita sebenarnya punya panutan…….
Pertanyaan besar:
Masihkah kita katakan kita krisis panutan?
Sehubungan dengan kondisi bangsa yang corat marut, pilkada rusuh, demo anarkis, narkoba mengepung rapat disekitar kita, kita gamang menatap masa depan kita, masa depan anak2 kita, korupsi mengakar menjadi tradisi, bencana alam yg seakan sudah menjadi langganan, pornografi dan porno aksi sudah menjadi industri dgn pasar abadi, semua begitu pesimis bahwa bangsa ini sulit keluar dari krisis multi dimensi ini.
Banyak tokoh dan analis mengatakan bahwa bangsa ini kita krisis panutan, tidak ada tokoh yang bisa ditiru baik oleh generasi yang tua maupun yang muda. Namun aneh jika kita mengaku sebagai muslim sampai hari ini masih terus mencari panutan itu, karena kita memiliki panutan segala panutan, teladan sempurna pada diri satu orang manusia mulia yaitu Rasulullah Muhammad SAW.
Sebagaimana tertuang dalam al qur’an, surat al ahzab ayat 21 : Laqad kana lakum fii rasulillahi uswatun hasanatun lliman kana yarjuullaha wal yaumal akhira wadzakarallaha katsyiiran. > sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah dan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.
Secara singkat kita akan ungkapkan beberapa sifat dan keteladanan nabi di beberapa bidang dan ini hanya sebagian kecil dari kebesaran Rasulullah tercinta; manusia mulia yang berabad-abad setelah wafatnya dipilih sebagai manusia paling berpengaruh dalam sejarah kehidupan umat manusia oleh Michael Hart.
Di usia dua belas tahun ia menjadi ‘manajer unit usaha international’ Abu Thalib sampai ke Syam, dan dialah sales yang menjadi kunci sukses kafilah dengan kejujurannya. Usia duapuluhan dia menjadi pengelola utama bisnis besar yang diinvestasikan Khadijah. Dia, enterpreneur dengan sifat nabawi: shiddiq (jujur), amanah (kapabel), fathanah (smart), dan tabligh (infomart); sifat-sifat yang kini dirujuk teori enterpreneurship modern.
Beliau seorang panglima, administrator militer yang tak ada bandingannya dalam sejarah. Sepuluh tahun di Madinah, 30-an ghazwah beliau pimpin sendiri di samping 300-an sariyah (detasemen) yang beliau bentuk dan berangkatkan. Jadi jangan bandingkan dengan, Napoleon Bonaparte kebanggaan Eropa, George Washington ataupun Simon Bolivar-nya Amerika Latin tak ada seujung kukunya.
Adakah orator dengan daya tahan sekaligus daya mempertahankan massa seperti beliau? Menjelang wafat, beliau pernah berkhutbah setelah Shubuh sampai Dzuhur, dilanjutkan lagi sampai Ashar, lalu dilanjutkan lagi sampai Maghrib tanpa seorang pun bosan, tertidur, mengantuk, ataupun bersuara kecuali untuk memenuhi seruan beliau. Bahkan, sebagaimana dituturkan Tsauban dalam hadistnya, para sahabat begitu terbawa suasana sendu, semua mencucurkan air mata, seolah khutbah itu merupakan salam perpisahan dari sang kekasih tercinta. Saya ragu, apakah Sukarno, Keneddy atau Castro mampu menyamainya.
Beliau adalah pemimpin negara, yang saat mengimami shalat atau memimpin perjalanan jauh sempat bertanya, “Di mana si Fulan? Mengapa ia tak tampak?”
Bentuk keagungannya berbeda dengan Kisra Persia & Caesar Romawi. ‘Umar pernah menangis menyaksikan beliau tidur beralas tikar kulit kasar yang dijalin rerumputan, alas yang membuat punggung beliau berbekas bilur. “sungguh Ya Rasulullah, Kisra & Caesar bertelekan di atas bantal & Permadani suteranya, pelayan pun hilir mudik menyediakan keperluannya, sementara kedudukannmu di sisi Allah jauh lebih mulia…”, keluh ‘Umar. Ini salah satu keluhan yang kurang beliau sukai, tapi dengan senyum termanis yang pernah disaksikan dunia, beliau jelaskan pada sahabat yang selalu bersemangat ini, “Apakah engkau tidak ridha mereka mendapat dunia sedang kita menyimpan akhirat wahai Ibnul Khaththab?”
Beliau memang penguasa yang kekuasaannya tak kalah dengan Kisra Raja Persia & Caesar Raja Romawi dua negara adikuasa dijaman itu, tentu beliau layak sejajar dengan mereka dalam fasilitas.Tapi yang beliau kuasai tak cuma wilayah, rakyat, dan tentara…, yang beliau taklukkan adalah hati, untuk diseru bersama dan berpadu, mengesakan Allah, AIlah Yang Satu.
Beliau adalah suami yang sempat mengajak isteri balap lari. Atau meredakan kecemburuan sang isteri dengan memencet hidungnya. Beliau membiasakan panggilan Khumairaa (yang kemerahan roman mukanya), ‘Aisy (Aisyah kecil) & panggilan sayang lainnya di dalam rumah. Di sela masa sibuk memimpin kaum muslimin, beliau sempat menambal baju, membersihkan terompah, bahkan menggiling gandum & memerah susu untuk santapannya.
Beliau adalah seorang kakek yang juga sempat bercengkrama dengan cucunya dan ia bisa merangkak menjadi kuda bagi cucunya yang berebut naik dipunggungnya, hingga saat ia shalat dirumah dan sedang sujud maka cucunya berpikir sang kakek siap menjadi kuda dan hasan dan husein segera menaiki punggung kakeknya dan saat akan berdiri sesudah sujud beliau berusaha meneruskan shalatnya sambil berusaha menurunkan cucunya dari punggungnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Juga beberapa kisah dimana beliau shalat sambil mengendong Umamah cucu perempuannya, saat sujud diletakkan dan saat berdiri digendong kembali. Ini menggambarkan bahwa beliau seorang kakek yang penuh cinta & kasih sayang.
Tetangganya begitu tenteram, aman dari gangguan tangan & lisan sebagaimana yang ia sabdakan. Bahkan unik, saat ia dimusuhi di Makkah, sampai saat ia hijrah, penduduk Makkah, musuh yang ingin membunuhnya pun masih percaya untuk menitipkan barang-barang miliknya pada beliau sehingga ‘Ali harus ditinggal untuk mengembalikannya. Al Amin, gelar yang tak sekedar gelar. Beliau adalah Jendral besar yang saat istrinya masak, masih sempat jalan keluar dan mengukur sampai mana bau masakan istrinya itu tercium dan ia berusaha membagi masakannya itu sejauh masakan itu tercium, hingga karena takut kurang ia berkata pada istrinya agar memperbanyak kuahnya agar semaikn banyak tetangga yang kebagian.
Adakah warga sekaligus panglima besar dan raja kalau dia mau menyebut dirinya yang sempat menyuapi orang tua buta di pojok pasar dengan terlebih dahulu melembutkannya sehingga si buta tak perlu mengunyahnya? Sementara yang disuapinya terus menerus mengeluarkan sumpah serapahnya terhadap diri Nabiallah Muhammad orang yang sedang menyuapinya, dan ia baru tersadar bahwa orang yg dicacinya itu telah tiada setelah Abu Bakar menggantikannya dan cara menyuapinya berbeda karena sedikit lebih kasar dan tidak dilembutkan lebih dahulu, dan tidak ada kata-kata yg terucap selain lailahhailallah Muhammadar rasulullah .. dan Adakah orang yang ketika tak bersua dengan pengejek rutinnya, justru menanyakan kabarnya. Dan justru menjadi orang pertama yang menjenguk sakitnya? Wahai Rasulullah…, alangkah indah menjadi tetanggamu.
Beliau manusia yang anti KKN dan Suap,
Saat dakwah beliau mulai berkembang, kaum quraisy berusaha menyogoknya dengan harta dan wanita, maka dengan tegas beliau katakan : Andaikan mereka menaruh matahari ditangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan pekerjaan ini, tiadalah aku hendak meninggalkannya, sampai aku berhasil atau tewas dalam menunaikannya. …begitu pula Saat pamannya Abbas meminta jabatan dengan tegas pula beliau katakan : demi Allah wahai paman, kami tidak akan memberikan jabatan ini kepada orang yang meminta dan mengharapkannya.
Beliau membuka ruang seluas2untuk berkompetisi dalam kebaikan
Hal ini tercermin dari kisah Abu Bakar dan Umar
Alangkah besar ambisi Umar, untuk mengungguli Abu Bakar dalam amal dan pengorbanan. Dalam perang Tabuk, seruan jihad harta disambut Umar dengan segera. Saat Rasulullah bertanya berapa yang ia tinggalkan untuk keluarga, Umar mengatakan dengan bangga, “ sebanyak yang aku serahkan pada Allah dan Rasulnya.”
Tapi betapa ia tercenung saat pertanyaan yang sama ditujukan pada Abu Bakar. Dengan gemilang Abu Bakar menjawab, “ cukuplah Allah dan Rasul-Nya yang aku tinggalkan untuk keluargaku !”.
Menjadikan Abu Bakar sebagai kompetitor amal memang harus membuat Umar bergumam, “ mulai hari ini aku sadar, tampaknya aku tak akan pernah bisa mengalahkan Abu Bakar !”.
Tetapi kita harus tersenyum bahkan mungkin menagis haru …. karena mereka telah menjadi contoh tentang urgensi sebuah kompetisi dalam amal dan pengorbanan, bahkan tentang perlunya sebuah iri hati.
Tidak ada iri hati kecuali dalam dua perkara. Yaitu orang yang diberi harta oleh Allah lalu dia belanjakan pada sasaran yang benar. Dan orang yang di karuniai ilmu dan kebijaksanaan lalu dia mengamalkan dan mengajarkan ( HR Al Bukhari ).
Beliau adalah seorang perencana yang hebat dan juga sangat percaya diri.
Sehingga saat dakwah terbuka pertamanya Rasulullah langsung mengirim surat kepada penguasa dan raja-raja ajakan untuk memeluk Islam, termasuk kepada 2 kerajaan adikuasa saat itu yaitu Persia dan Romawi, bahkan sudah mencanangkan bahwa konstantinopel sekarang Istambul Turki akan ditakhlukkan, dan kita tahu Konstantinopel/ Istambul ditaklukkan 800 tahun kemudian oleh Muhammad Al Fatih. Tentu itu akumulasi dari perjuangan beratus tahun sebelumnya.
Dia adalah psikolog hebat yang mengerti betul karakter ummatnya, mampu meredam kemarahan dan kekecewaan dengan tepat dalam kerangka nilai2 ilahiyah yang menyejukkan. sebagaimana kisah kaum anshar dalam pembagian harta rampasan perang.
Pembagian rampasan Hunian di Ji’ranah adalah saksi sisi manusiawi mereka. Sisi manusiawi yang ketika disadarkan membuat mereka terbang ke alam maha tinggi untuk tetap menjadi penolong sejati yang dengan bangga pulang membawa serta Allah & RasulNya.
Siapa yang dipanggil di saat semua orang lari dari Rasulullah di lembah Hunian? Dan siapa yang dengan bergegas menyambut, “Labbaik!” hingga menggetarkan seluruh wadya musuh yang berlindung di atas bukit? Bukankah Anshar? Bukankah Anshar yang menjadi kunci kemenangan pasukan ini?, siapa yang menampung sahabat2 yg hijrah terusir dari Makkah ?, siapa yg langsung membenarkan Risalah yg dibawa Rasulullah ?, bukankah anshar ?
Pertimbangan manusiawi mengatakan, Anshar yang paling berhak mendapatkan rampasan Hunian yang memenuhi wadi itu. Tapi Rasulullah justru membagikannya kepada pemuka-pemuka Thulaqaa, muallaf Makkah yang paling depan dalam melarikan diri dari pertempuran.
Ada sesuatu yang mengganjal setelah pembagian itu, sesuatu yang disampaikan oleh Sa’ad ibn ‘Ubadah & membuat orang-orang Anshar dikumpulkan di sebuah kandang. Rasulullah datang & berbicara kepada mereka
“Amma ba’du. Wahai semua orang Anshar, ada kasak kusuk yang sempat kudengar dari kalian, dan di dalam diri kalian ada perasaan yang mengganjal terhadapku. Bukankah dulu aku datang, sementara kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian melalui diriku? Bukankah kalian dulu miskin lalu Allah membuat kalian kaya, bukankah dulu kalian bercerai berai lalu Allah menyatukan hati kalian?”
Mereka menjawab, “Begitulah. Allah & RasulNya lebih murah hati & lebih banyak karunianya.”
“Apakah kalian tak mau menjawabku, wahai orang-orang Anshar?” tanya beliau.
Mereka ganti bertanya, “Dengan apa kami menjawabmu Ya Rasulullah? Milik Allah & RasulNya lah anugerah & karunia…”
Beliau bersabda, “Demi Allah, kalau kalian menghendaki, & kalian adalah benar lagi dibenarkan, maka kalian bisa mengatakan padaku: Wahai Muhammad, Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu. Engkau datang dalam keadaan lemah lalu kami menolongmu. Engkau datang dalam keadaan terusir lagi papa lalu kami memberikan tempat & menampungmu..”
Sampai di sini air mata sudah mulai melinang, pelupuk mereka terasa panas, dan isak mulai tersedan.
“Apakah di dalam hati kalian masih membersit hasrat terhadap sampah dunia, yang dengan sampah itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk islam, sedangkan keislaman kalian tak mungkin kuragukan?”
“Wahai semua orang Anshar, apakah tidak berkenan di hati kalian jika orang-orang pulang bersama domba & Unta dan harta benda, sedangkan kalian pulang/kembali bersama Allah & RasulNya ke tempat tinggal kalian?”
Isak itu semakin keras, janggut-janggut sudah basah oleh air mata…
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad dalam genggamanNya, kalau bukan karena hijrah, tentu aku termasuk orang-orang Anshar. Jika manusia menempuh suatu jalan di celah gunung, & orang-orang Anshar memilih celah gunung yang lain, tentulah aku pilih celah yang dilalui orang-orang Anshar. Ya Allah, sayangilah orang-orang Anshar, anak orang-orang Anshar, dan cucu orang-orang Anshar…”, Rasulullah menutup penjelasannya dengan doa yang begitu menentramkan. Mereka terbang ke alam maha tinggi untuk tetap menjadi penolong sejati yang dengan bangga pulang membawa serta Allah & RasulNya
Dialah seorang pemimpin, yg berani bertanggung jawab, adakah pemimpin yang bendera kekuasaannya berkibar diseluruh pelosok jazirah arab dengan megah dan jayanya, saat naik mimbar, menghadapkan wajahnya pada manusia sambil berkata :
”Wahai para shahabat, hari ini aku tawarkan kepada kalian. Barang siapa yang pernah terpukul punggungnya, maka inilah punggungku, balaslah, barangsiapa yang pernah kuambil hartanya maka inilah hartaku ambillah ….!
Para sahabat hening, tak ada satupun yang mampu bersuara…….
Rasul mengulangi lagi perkataannya ” ”Wahai para shahabat hari ini, aku tawarkan kepada kalian. Barang siapa yang pernah terpukul punggungnya, maka inilah punggungku balaslah, barangsiapa yang pernah kuambil hartanya maka inilah hartaku ambillah ….!
Para sahabat makin tertunduk…menangislah mereka…mereka merasa sebentar lagi masa-masa indah bersama Rasul tercinta akan berakhir….
Untuk ketiga kalinya Rasulullah berkata ” Silahkan siapa yang mau mengqishas diriku……
Tiba-tiba muncullah Ukasah Ra.
“ Saya ya Rasul…..saya akan mengqishas Anda ya Rasulullah…..”
Umar langsung mencabut pedangnya sambil berkata “ Apa yang akan kamu lakukan wahai Ukasah…pedang Umar yang akan menebas kepalamu kalau engkau berani menyakiti Rosulullah “
Baginda yang agung tersenyum “ Biarkan Ukasah ya Umar………. “
Abu Bakar pun maju…sambil berkata “ Wahai Ukasah, Abu Bakar dan keluarganya yang akan menebusnya ya Ukasyah “
Rasul pun melarang Abu Bakar membelanya.
Kemudian Ukasah berkata : ” Pada saat aku mengiringi engkau berperang cambukmu pernah mengenai punggungku ya Rasul..untuk itu kali ini aku ingin mencambukmu ya rasul….”
Para sahabat terdiam menahan amarah……………..
akan tetapi rasul dengan tersenyum mempersilahkan Ukasyah mencambuknya. Tidak cukup sampai di situ…Ukasah berkata : ”Ya rasul pada waktu cambukmu mengenai punggungku. Pada saat itu langsung mengenai kulit punggungku, karena tidak tertutup kain punggungku pada waktu itu. Untuk itu aku ingin punggungmu dibuka juga ya Rasulullah ”
Para sahabat makin geram dengan permintaan Ukasyah. Rasul dengan tetap tersenyum sambil membuka kain yang dikenakannyaPada saat punggung baginda tercinta terbuka.
Maka seketika itu juga Ukasyah menubruk punggung Rasulullah, kemudian memeluk dan mencium punggung yang kemilau itu. Sambil menangis sesenggukan Ukasyah berkata ” Wahai Rasul Allah….maafkan aku…..aku hanya ingin memeluk dan mencium tubuhmu untuk yang terakhir kali…dan Aku ingin tetap bersama-sama Engkau Ya Rasul, sedekat ini, sampai di akhirat kelak.
Dan rasul pun berkata ” Doamu Insya Allah dikabulkan Allah wahai Ukasyah.
Duhai ukasah begitu beruntungnya engkau … wahai ukasah
Duhai Rasulullah kami bangga menjadi umatmu
Islam – risalah yang ia bawa, mengejutkan dunia dengan mengajari bangsa buta huruf, yang miskin, penggembala kambing, yang hanya punya tetandusan. Dari kedekilan & kedegilan menjadi bangsa yang bersih, suci, cerdas, dan mengajari dunia tentang kesetaraan, kemerdekaan, & hidup dalam standar tinggi. Islam hadir, dengan setiap huruf Ilahiahnya, memberikan kemuliaan pada jiwa, akal, ruh, darah, & jasad manusia.
Ia tak hanya menggaung di angkasa jauh. Ia datang. Ia hadir. Ia menemui setiap insan muslim di rumahnya, di dalam biliknya, mengajak bicara –hati ke hati- menuntunnya mengamal, merasai nikmatnya hidup di naungan ayat-ayat Allah. Mereka menghayati betapa nikmatnya ketika ragam persoalan hidup yang senantiasa membuntukan akal dijawab Islam. Memuaskan. Mereka tersenyum. Tak perlu lagi bingung menduakan dunia & akhirat. Mereka tertawa, tak lagi merancukan hak Allah & hak manusia. Mereka bersujud, mendekati Allah di keheningan. Dan mereka membukakan tangan, mencari ridhaNya di keramaian.
Mereka menyelami lautan karunia Allah dengan kejernihan tahmid, kebeningan syukur, dan kemurnian pengabdian. Mereka mengarungi titis-titis mushibah dengan percik-percik sabar, kelembutan qana’ah, dan harmoni tawakkal. Bukankah kehidupan ini rasanya hanya nikmat & mushibah? Bukankah iman itu memang setengahnya adalah syukur, dan separonya adalah sabar? Bukankah dua-duanya menjadi terasa nikmat? Bukankah dua-duanya membuat Allah, ridha, dan surga kian dekat.
August 12th, 2008 at 5:16 pm
mimpin indo emang susah,hukumnya ga tegas,org2ny masi byk yg bisa ditipu2 ma org luar, korupsi merajalela, n jgn ngarep klo org yg jadi pemimpin negri ini bukan org yg cinta uang. smoga aja negri ini bisa ngeliat titik terang,kapanpun itu…
August 14th, 2008 at 12:29 pm
Di Indo itu banyak orang pinter, dari yang pinter beneran sampe “kebeneran pinter”, sayangnya mereka ga mau duduk bersama mencari solusi kesusahan negerinya sendiri. Yang mereka pikiran cuma diri mereka sendiri, nama baik, pamor, duit dan kepentingan tertentu. Entah sampai kapan kita bisa bertahan seperti itu. Pendidikan semakin mahal, smakin banyak orang putus sekolah, dan semakin terpuruk miskin negara kita. Kenapa sih penguasa2 negeri ini ga mikir kesitu?
Pendidikan itu aset penting, mengurangi kebodohan = mengurangi kemiskinan. Gemessss banget…
August 18th, 2008 at 7:42 pm
duit udah bermain disemua lini pemerintahan, ABRI dan POLRI.
bisa kasih 1 lembaga pemerintahan yg 100% bersih?
jadi buat gue ga usah muluk2…
korupsi yah…asal tau diri aja. jgn disuruh ga korupsi sama sekali…itu ama aja nyuruh org masuk jurang.
knp?
gaji presiden indonesia brp sih? nyampe 100 juta? paling jg “cuma” 60 jutaan.
banyak??? sangat sedikit!!! dng banyaknya mslh yg hrs diselesaikan, bnyknya rakyat ( ranking 5 dunia ) yg harus dipikirkan…hanya Tuhan yg mau jadi Presiden Indonesia tanpa embel2 duit.
Di Amerika pun sama!!!! semua jg korup…cuman TAU DIRI!.
korupnya ngga katro ky disini…maen ambil duit cash…potong komisi, dll.
kl disana lbh “smart”…maennya lbh “smooth”… bisa diblg classy.
dan jg inget…tetep focus pada tujuan negara.
gue krg setuju ama elu Ndji…memimpin America jauh lbh susah drpd memimpin Indonesia kl buat gue…
tingkat pendidikan rakyat disana jauh lbh baik drpd indonesia ( makin bnyk ketidak cocokan thd pemerintah) , jumlah rakyat, luas negara jauh lbh besar dr indonesia ( tentunya problems makin banyak donk)
yg lbh gokil lg adalah musuh negara. America banyak bgt musuhnya…
Indonesia? bisa gue blg kaga ada. Malaysia pun walaupun ribut2 dikit, tp etep aja tergolong negara sahabat.
so…yg harus dipikirkan oleh Pemerintahan US jauuuhhhh lbh rumit dan banyak dibanding KAbinet Indonesia Bersatu.
October 18th, 2009 at 1:32 pm
tapi yang mbuat oknum pmimpin indonesia jdi g bnr sebenarnya adalah PENDIDIKAN mereka…..
kita liat ja…….
polisi yang jujur adalah polisi yng masuknya lwat jalur resmi…….
tentara yang jujur adalah tntara yang brprestasi dan lewat jalur yng tidak bnyak ngluarin banyak dwit…..
pjabat yang jujur adalah pejabat yang ijasahnya g dari beli…….
dan mencari orang2 yang seperti itu sangat sulit dicari…….
karena d linkungan pndidikan sendiri uadah memilah2 atas dasar materi…..
bukan atas dasar skill individu……..
dari linkup pndidikan aja udah d ajar yg g jujur….
mau jadi pmimpin yang jujur….
mana bisa????????