“Musik berkualitas”
“Musik bergizi”
“Musik tidak berkualitas”
“Musik kampungan”
Label diatas membuat gue sangat tidak nyaman…
Menurut gue ini adalah justru diskriminasi.
Kita saling memecah belah
Di masa dimana kita seharusnya saling mengikat.
Nampaknya orang orang bersatu untuk menghentikan “musik kampungan”
Tapi gue pernah hidup diantara mereka yang menyukai “musik kampungan”
Kalau mereka tau ada yang melabeli musik favorit mereka dengan “kampungan” atau “tidak berkualitas” gue tau dan bahkan elo tau mereka akan sakit hati.
Jadi sebenarnya, tanpa disadari, pengkotak kotakan musik itu memecah belah bangsa.
Gue, mengenal mereka secara pribadi.
ST 12
Kangen Band
Wali
Gue kenal mereka.
Mereka adalah orang orang yang baik.
Perhatikan kalimat berikut ini karena ini adalah kebenaran mutlak yang gue yakini
“Kita cenderung lebih mudah membenci atau takut dengan sesuatu yang tidak kenal, atau tidak kita pahami”
Bahkan ketika kita merasa udah kenal bangetpun, kita sebenarnya belum.
Dulu, banyak orang pernah mengaku terang terangan membenci gue, lalu gue ngetweet
“How can people hate me when they didnt even know me?”
Seorang teman, dan senior yang gue kagumi berujar “What if we already know about him, is it okay to hate?”
He has a point there, so i replied “Seperti Whitney Houston bilang Its not right, but its okay”
Dalam konteks gue, kalaupun orang mengaku “Gue sudah cukup kenal elo untuk bisa membenci elo”
Gue bisa jawab “You dont know anything about me. Yang kenal gue adalah Nyokap gue, Bokap gue, Kakak gue, Adik gue dan Istri gue”
Whatever i do, they will never hate me.
Coz they know everything there is to know about me.
So hating is an excess to not wanting to understand.
Orang orang bilang “Gila ya? Bikin lagu kok gitu? Bikin lagu kok tentang nyari jodoh?”
Mentertawakan lirik “Ibu ibu bapak bapak siapa yang punya anak tolong aku, kasihani aku”
Mempergunjingkan “Bikin lagu kok notasinya dan aransemennya gitu amat? Ga berkualitas amat”
Padahal, andaikan mereka pikir pikir lagi, karya setiap orang sangat bergantung terhadap referensi yang dia punya.
Seperti berpakaian aja, kita memakai satu stel pakaian karena kita setidaknya pernah melihat orang berpakaian kayak gitu.
Nah kalau musisi dari kota kota kecil itu tidak punya referensi seperti yang dimiliki oleh musisi yang di kota, gimana hasil karyanya mau sama?
Menurut gue ga adil kalau dibilang musik mereka kampungan.
God would never discriminate music
Why should we?
Jangan sampe orang orang yang menikmati musik yang dikatakan “kampungan” sampe berkata
“Oooh Cuma orang kota doang yang boleh bermusik? Cuma orang kota doang yang boleh keren?”
Sejujurnya (and you may not believe this) dengan meledaknya Kangen band, yang pertama kali diotak gue adalah “Akhirnya, dengan Kangen band yang sukses, akan membuka kesempatan utk musisi musisi yang selama ini merasa kurang ganteng, kurang punya tampang, kurang keren, kurang necis, kurang modis utk bisa juga sukses. Kini, sukses milik semua orang. Siapapun dia. Dengan latar belakang apapun dia”
Terlebih karena orang tidak sadar bahwa ST 12 dan WALI sangat sangat dipikirkan dengan matang
Mereka pikir band band itu hanya sekedar “kampungan”. Padahal dikonsep matang
Liat video klipnya WALI yang “Cari jodoh”
Di shooting diantara masyarakat jelata yang menggemari musik mereka, dengan bintang klip cagur, dengan nada dan isi seperti itu. Itu semua nampak terencana matang.
Bahklan seorang teman yang dekat dengan tim yang membangun ST12 bercerita bahwa band itu dipikirkan matang.
So we all should understand to stop underestimating them.
They learned their way to be succesful like they are today J
Semua yang dilakukan dipikirkan matang matang untuk bisa menjual.
Nah.
Sekarang ada yang akan protes bahwa musik mereka industrial dan hilang esensi seninya karena terlalu berkompromi dengan pasar.
Menurut gue,ya biarin ajaaa..
Bukan urusan kita kalau ada yang mau bermusik untuk menjual supaya bisa hidup.
We dont live their life, we have no right to judge.
Kemarin di pesta blogger 2009 gue kebetulan satu kelas dengan seorang pembicara bernama Mas Arif di Break Out Session.
Kami ditanya gimana caranya supaya musik kita ga Cuma lewat begitu saja di dunia musik yang bergerak begitu cepat.
Gue menjawab dengan begitu ngejelimet sementara beliau punya jawaban yang lebih .. arif J
Mas Arif berkata:
“Kalau kita bikin musik pake hati dan pake jiwa, musiknya akan bertahan selama lamanya. Bob Marley, John Lennon, Iwan Fals, dsb. Tapi kalau Cuma untuk berjualan yang akan bertahan selama masih terjual aja.
Sekarang dikembalikan ke musisinya mau menjual ya boleh saja, kalau saya memilih untuk jadi legenda”
The man has a point.
So why worry?
If you dont like their music, dont hate em just “unfollow” them
If you dont like the TV show they’re in, that means the show is NOT for you. Dont hate the show. Just “unfollow” the show
If you like a certain music, and you think more people should hear it, make it accesible.
Kalo elo bilang “Gimana caranya mau di akses orang kalo TV di dominasi oleh band2 tadi?”
Jawaban gue, “Dont whine, be creative”
Musisi Jazz sudah sejak lama bikin konser jazz di desa desa, bahkan sampai ke kaki gunung bromo.
Kalo mereka bisa, kenapa kita tidak?
Tidak tahu caranya?
ST 12 dan Wali aja mau belajar
Kenapa kita tidak?
MUSIC IS LIFE IS LOVE IS SOMETHING WE ALL LIKE
LIKE LOVE LIFE














November 10th, 2009 at 1:58 am
sebenrnya bagus postingan lu ji.
hak manusia untuk mengatakan hal itu
tapi menurut gw
lo secara nggak langsung membawa mindset tentang hinaan itu ke band2 diatas
dengan lo publish,lo bilang kalo mereka seperti itu.
parah..!!!
menghina sesama musisi jatohnya kalo lo pake publish seperti itu
biarkan publick berfikir tentang siapa yg g berkualitas
lo nggak perlu publish,apa mau nyari tenar lg?
November 10th, 2009 at 9:48 am
Selera beda-beda
November 15th, 2009 at 10:24 am
KATA CV MUSIK TH KAMPUNGAN,MUSIK GAK KAMPUNGAN KO PA LG BAND ST12.BNR KN???????????????????????????????????????????????????????????????????OX!!!!!!!!!!!!!!!!
November 16th, 2009 at 5:05 am
as far as we know..
banyak alasan sebetulnya muncul gerakan anti anti seperti itu karena mereka iri..?
berfikir pendek walaupun sebenarnya omongan mereka belum berkualitas..
kalo gw sih asal musik enak ya di dengerin ga enak ya udah ditinggalin..
gitu aja repoot…
November 22nd, 2009 at 7:18 pm
yah kalo ST 12, Wali, Kangen Band di bilang semua orang Indonesia bagus…..?hmhh.. yang ada Dinamika musik Indonesia bakalan mentok ga berkembang.. Respon (feed back) itu berbeda-beda, orang yang biasanya ga mau dapet feed back, orang yang ga mau di kritik. dan orang yang ga mau di kritik, adalah orang yang ga mau salah, orang yang ga mau salah, adalah orang yang ga bakal maju.
November 22nd, 2009 at 7:19 pm
sebenernya musik mereka ”INDONESIA BANGET” menghbur n gampang dcerna kata2nya
nmanya jg selera pasti beda2 . klo mreka yg lg ng HITS skrg . y itu krn emng lgii wktunya bwt mereka
klo pndpt pribadikuu
mereka : enak di dnger GA enak di LIHAT
maap sblumnya tp saiia hnya mncoba untuk JUJUR
November 22nd, 2009 at 7:21 pm
yah om pandji memang benar sebenarnya kita tidak perlu menjelek jelekan mereka walupun kita tak suka , apakah kalian bisa membuat lagu kayak mereka ? beri tau kanlah pada dunia attitude musik indonesia yang baik ya kan om pandji
November 22nd, 2009 at 7:24 pm
Why can’t we all get along… Band Kampungan trs ada lagi Anak Alay, gw ga begitu tau dan mengerti ttg hal tsb tpi gw pengen bgt bilang…”Ya biarin aja knp siiiiih…”. Hahahaha…just ‘unfollow’ aja klo ga suka
November 24th, 2009 at 3:24 pm
Ya, mereka benar-benar dipersiapkan untuk menjual lagu penuh cacian ,
bergaya (rambut,pakaian, dll) berlebih jauh dari sederhana
untuk menjual cerita-cerita bohong
December 2nd, 2009 at 11:52 am
Hmm… I’m not interested on the bands themselves, but the word “alay” caught my attention.
Believe it or not, I actually got my fair share of being exposed to alays, especially since Jakarta is a very big city, with huge cultural and social class diversity.
Here’s my observation so far:
(1) Alays can be easily spotted by their trademarked costume: low-waist jeans, chains, flip-flops, and hooded sweatshirts.
(2) Somehow, alays just loooove to wear hooded sweatshirt despite Jakarta is 83°F -hot.
(3) Alays love to swear in public, for absolutely no apparent reason. Hey, I swear too, but I least I do have the reason.
(4) When it goes to music, alays listen to the apparently same kind of local bands: Peterpan, ST 12, Kangen Band, Paddy, The Massive, Samson’s –the same kind of trashy music typically played at KFC.
(4 a) While we’re at it (local bands, I mean), I don’t think alays listen to the likes of The Groove or Maliq & D’Essentials. Apparently, this kind of music is beyond them.
(5) Etiquette and manners are simply beyond alays.
(6) Alays usually ride underbone motorbikes. Carelessly, of course.
Based on the observations above, I think alays are the Indonesian equivalent of chavs and townies.
Chavs:
http://en.wikipedia.org/wiki/Chav
Townies:
http://www.urbandictionary.com/define.php?term=townies
February 16th, 2010 at 5:50 pm
terkadang orang tidak sadar dengan ap yang mereka ucapkan dan meeka lakukan….
by : sucker boy, mother fucker…