Hari ini, akun twitter dari media massa memberitakan soal Bapak Tifatul Sembiring yang mempertanyakan etika ber-twitter..
Teman teman saya, termasuk @treespotter dan @revolutia bereaksi
Memangnya seperti apa sih tweet Pak Sembiring yang dipermasalahkan?
Ada 2 tweetnya, yg pertama isinya
“Mohon masukan teman2, twitter itu media komunikasi spt apa ya, apakah seseorang bebas memilih atau menolak teman u/ berkomunikasi, tksh”
dan yang kedua
“Ok, twitter media publik, bebas follow/unfollow, trus perlu gak etika/sopan santun dlm komunikasi via twitter ini?”
lalu atas dasar 2 tweet tadi, banyak orang marah marah dan menujukan kemarahannya kepada Pak Tif…
Sejujurnya, entah kenapa banyak yang marah marah… karena beliau cuma nanya.
“Tanda Tanya di belakang kalimat itu adalah bentuk pertanyaan..” ( i got this from @sarkastwit)
Mungkin @revolutia dan @treespotter panas karena “headline”nya si akun twitter yg pertama kali ngetweet soal ini.. yaitu akun @tvOneNews.. lucu, padahal biasanya apapun yang TV One katakan tidak pernah didengarkan oleh kawan2 saya ini
)
Seperti ini tweetnya RT @tvOneNews: Tifatul Sembiring Tanyakan Etika Bermain Twitter http://bit.ly/adhfHI
Pendapat saya sendiri terhadap pertanyaan Pak Tif?
Menurut saya, pertanyaan Pak Tif bagus sekali.
Sudah waktunya kita mempertanyakan etika orang di Indonesia.
Kenapa Etika di Twitter jadi sesuatu yang penting?
Sederhana sekali, karena Twitter adalah alat untuk bebas berpendapat.
Twitter memberikan kita kebebasan, tapi apakah kita sudah cukup bijak untuk menanggapi kebebasan tersebut?
Percaya deh sama saya, mereka yang mulutnya ketus di twitter, tidak berani seperti demikian di kehidupan nyata. Kenapa, karena di kehidupan nyata, etika berpendapat sudah jelas.
Memang anda bebas untuk bilang ” Eh badan lo bau kayak bau anjing basah”
Tapi itu kan menyinggung perasaan orang.
Toh pada prinsipnya semua orang bebas untuk melakukan dan mengucapkan apapun selama tidak bersinggungan dengan kebebasan orang lain.
Saya tidak minta supaya tweet orang orang lalu di sensor, tapi saya setuju untuk dipertanyakan.
Kenapa ditanya? Supaya dijawab. Lewat pembahasan.
Saya pribadi sering dihina followers atau pengguna twitter lain
) (inget orang ga perlu follow anda utk tau tweet2 anda lho.. tinggal baca timeline-nya aja.. misalnya dgn buka http://twitter.com/pandjimusic anda bisa baca semua tweet disitu)
Saya tidak marah marah , tapi bukan berarti saya nggak marah.
Gimana nggak marah, berikut adalah kata kata yang sering ditujukan kepada saya
F*CK, NGE**OT, K****L, dan tentunya yang paling sering adalah A****G
Seseorang pernah berkata di twitter
“Those losers just like to poke and attack on public figures just because they can”
Sementara, di salah satu posting blog saya pernah bilang:
JUST BECAUSE YOU CAN, IT DOESNT MEAN YOU SHOULD
Inilah etika.
Anda bisa aja bablasin lampu merah kalau jalan lagi kosong dan tidak ada polisi di sekitar, tapi kan bukan berarti anda boleh.
Anda bisa aja korupsi duit kantor, apalagi kalau dalam posisi yg mengatur arus keuangan dan kalau tidak ada yang akan bisa tahu, tapi kan bukan berarti anda boleh
Anda bisa aja menghina seseorang karena dia berseberangan pendapat dengan anda, atau karena anda ga suka sama orang itu, tapi bukan berarti anda boleh.
Jarang memang banyak yang ingat, bahwa kekerasan itu tidak hanya fisik tapi juga verbal.
jarang ada yang sadar, bahwa menghina dina dengan segala omongan kasar adalah salah.
Inikah kebebasan berpendapat?
Inikah hasil dari penggunaan twitter sebagai alat pemberi kebebasan berpendapat?
Kalau ini adalah kebebasan yang diinginkan oleh banyak orang di Indonesia, saya tidak takut untuk berkata
“Ini bukanlah kebebasan yang saya impikan untuk Indonesia”











July 16th, 2010 at 9:43 am
Ketika Internet masuk Indonesia muncul sebuah ‘dunia’ baru. Internet mendapat sebutan “dunia maya”. Kemudian yang terbentuk adalah 2 dunia yang berbeda, dunia nyata dan dunia maya.
Ketika orang berada di dunia maya yang lebih terbuka, tidak terbatas tempat dan waktu, tidak disengaja jadi muncul pemisahan antara dunia maya & dunia nyata.
“dia temen gue di internet”, jadi suka muncul terms seperti itu.
Kemudian hadir keberadaan Social Network yang memberikan keberadaan semua orang di dunia maya. Kita menyatukan friends network kita baik yang kenal secara langsung (tatap muka) dan yang hanya kenal lewat chatting. Semua menjadi satu.
Ketika semua sudah ada di dunia maya (seharusnya) sudah tidak ada lagi perbedaan dunia maya dengan dunia nyata. Karena dua-duanya nyata. Apa yang ada di dunia nyata ada juga di dunia maya, yang ada di dunia maya pastinya ada di dunia nyata.
Hal ini yang membuat seharusnya etika berjalan dimana saja. Cara berperilaku, berbahasa, bersikap yang menjadi citra diri di dunia nyata tentunya juga akan menjadi pencitraan di dunia maya.
Lebih-lebih lagi apa yang ada di internet hampir pasti semuanya terekam. Kalau kita pernah berkata kasar mungkin orang yang mendapat perkataan itu memaafkan dan melupakan kata-kata kita, dan bisa jadi tidak terdengar orang lain. Semuanya hanya terbatas dengan batas ingatan manusia. Tapi sebuah kata-kata di internet bisa terekam di mesin yang tidak punya batasan usia atau kapasitas.
Saatnya mulai berpikir “Dunia maya dunia kita juga”.
July 23rd, 2010 at 8:13 pm
Ah, pemaparan yang sangat “kena”. Mungkin secara tidak sadar, orang seenaknya bertingkah di ranah online karena paradigma “dunia maya” ini. Jadi penasaran, sepertinya istilah “dunia maya” untuk internet itu hanya ada dalam bahasa Indonesia ya?
July 16th, 2010 at 7:23 pm
ada satu hal yg sering aku sengaja lupa ketika sedang komunikasi online, bahwa di seberang sana ada orang sungguhan, yg hatinya bisa tersakiti secara verbal.
ini ada sekadar koreksi saja mas:
timeline akun twitter yg di-lock hanya bisa dibaca oleh followernya saja.
July 17th, 2010 at 10:36 pm
Setuju bos….jangan berbicara yang akan menyakiti orang lain.
Mampir dong bos ke blog http://imamwijayanto.blogspot.com
Ada gerakan yang saya dan teman ingin kampanyekan dgn tema thx GOD pada medium yang sederhana, semoga berkenan ikut berpartisipasi.
July 18th, 2010 at 9:16 pm
Setuju sekali Mas Pandji. Kebebasan itu bukan berarti tanpa rambu-rambu. Yang lebih penting adalah menghormati sesama..
July 19th, 2010 at 6:47 pm
Kebebasan yang bertanggung jawab tentunya Bung Pandji. Sepakat saya dengan Bung. Dalam ruang demokrasi seperti saat ini setiap orang punya hak utk beraspirasi, tapi memang warga kita masih banyak belum begitu faham hakikat demokrasi itu sendiri. Justru yang ada adalah kebebasan yang kebablasan. Saya sangat senang jika semua artis bisa seperti Bung Pandji yang ikut serta dalam gerakan sosial utk perubahan Indonesia yang lebih baik. Salut !
July 20th, 2010 at 11:44 am
bebas berpendapat tentunya dengan rambu-rambu sosial yang ada… apakah menyerempet SARA, melukai persaaan orang, tidak seenak udelnya sendiri.
kalau begitu ketahuan dia gak pernah belajar PMP ataupun PPKn. gak ada solidaritas sosialnya.
atau yang paling parah , tidak beragama ? karena agama manapun juga mengajarkan solidaritas sosial..
ingat.. ingat.. mulutmu harimaumu..
July 20th, 2010 at 9:02 pm
Setuju Mas Panji.. Baik dunia maya ataupun dunia nyata sama-sama ada etika yg harus tetap dijunjung. Nice share..
July 21st, 2010 at 10:02 pm
yg lebih penting itu membudayakan etika itu bagaimana caranya?
July 22nd, 2010 at 8:10 am
daripada menjadikannya sebagai peluang, pak menteri sepertinya mmg melihat internet sbg ancaman. aku kurang mendengar program dia untuk pengembangan teknologi informasi di negeri ini.
sebaliknya, yg lebih sering terdengar adalah suara2 utk mengaturnya, membatasinya. ini logika anak kecil. hanya kasih larangan tp tidak ada pilihan.
soal kebebasan? sepakat. memang perlu ada sikap saling menghargai. tp itu tidak serta merta harus membuat (lagi2) aturan yg malah mengekang.
July 22nd, 2010 at 11:10 pm
kalo mau fair, kita memang mesti mengakui bahwa internet bukan hanya membawa manfaat, tapi juga memiliki sisi2 negatifnya.
Justru suara2 untuk mengatur inet baru terdengar belakangan ini, bukankah selama ini inet dibiarkan bebas merdeka di Indonesia? Menurut saya pengaturan dalam aspek apapun itu penting untuk terciptanya keteraturan, termasuk soal internet ini. Itupun masih sebatas wacana, belum terealisasi kan?
Kalo mo bilang dikekang, mungkin itu kalo kita tingal di Cina, yang mana bukan cuma situs2 porno yang diblokir habis, tapi juga semua situs jejaring sosial, dll.
Kita mah… masih dikasih banyak pilihan
July 22nd, 2010 at 10:50 pm
kok reply saya ga masuk ya?
November 11th, 2011 at 5:00 am
I bookmarked this guestbook , http://twitter.com/vanessahudgen66 Vanessa Hudgens Nude, EuvAr
December 28th, 2011 at 8:54 pm
Houses and cars are not cheap and not everybody can buy it. However, loans are created to aid people in such hard situations.