Baca potongan komik ini terlebih dahulu…
Calvin punya daya khayal yg tinggi… bahkan macan ramah itupun hasil khayalannya karena di kehidupan nyata Hobbes (macan tsb) adalah sebuah boneka…
Semakin kesini, mainan anak anak semakin canggih… Banyak yang bilang, mainan itu pelan pelan mengikis daya imajinasi mereka karena semuanya sudah tergambar dengan gamblang… tidak ada ruang untuk berkhayal…
Gue nggak setuju.
Menurut gue, kalau memang anak anak tidak punya daya imajinasi yang tinggi, itu adalah karena orang tuanya…
Dulu waktu kita kecil, cita cita kita nggak jauh dari yang itu itu lagi…
Insinyur, Dokter, Tentara, Polisi, Pilot, Astronot…
Gue sih sempet pengen jadi pilot jet tempur, kemudian astronot, kemudian waktu Indiana Jones merajalela, gue ingin jadi Arkeolog.
Beberapa hari yang lalu, gue bertemu dengan sekitar 10-12 anak anak ketika sedang shooting.
Umur mereka sekitar 5 – 8 tahun.
Mereka rata rata datang dari keluarga yang kurang mampu… tinggal di belakang tembok yang membatasi perkampungan mereka dengan perumahan BSD…
Gue tanya mereka semua, apa cita cita mereka…
1 anak menjawab ingin jadi boss, sisanya antara diam atau menjawab “Nggak tau…”
????
Hanya 1 anak?
Dari 10-12 anak hanya 1 yang tau ingin jadi apa?
“Bos” bukanlah khayalan yang buruk, untuk anak yang datang dari keluarga tidak mampu, memiliki cita cita untuk jadi bos membutuhkan keberanian..
Bukan keberanian dari si anak, tapi dari ORANG TUAnya…
Orang tuanya harus berani untuk membiarkan anaknya bermimpi tinggi. Menyalakan api harapannya. Menjaga cita citanya.
Ketika gue tanya balik kepada anak anak itu “Kok pada nggak punya cita cita???”
Salah seorang ibu ibu yang kebetulan juga ada disana menjawab “Aaaah ga usah pake cita citaaaa.. sekolah yang bener trus kerja.. kerja apa aja yang penting dapet duit..”
Now how do you argue with that?
Money, is essential. But you and i know, its not everything.
But we also know, that its not someting we can preach easily to them.
Mereka akan jawab “Jelas lah uang bukan segalanya untuk Mas, Lah mas udah punya uang kok… kami kan rakyat keciil.. nggak punya uaang”
Tell me, how do you argue with that?
Di Amerika, ada 1 hal yang ingin sekali gue curi.
Gue ingin Indonesia punya jargon mereka “The American Dream”
“The American Dream” itu apa memangnya?
Itu adalah kisah, seperti Jay Z, 50 cent, yang datang dari daerah paling miskin di Amerika Serikat dan akhirnya menjadi salah satu orang terkaya di Amerika Serikat.
THAT is the American Dream.
Brazil juga punya, The Brazilian Dream adalaha Pele, Ronaldo, Ronaldinho, yang datang dari ekonomi lemah dan menggunakan sepakbola untuk naik menuju jenjang kekayaan.
What is the Indonesian Dream?
Siapa yang datang dari kalangan sangat miskin kemudian meledak jadi orang kaya?
Ada?
Kalau tidak ada, kenapa????
Kalau ada, kenapa kisah kisah seperti ini tidak di blow up?
Kalau ada kisah kisah seperti itu di Indonesia, kenapa tidak jadi inspirasi untuk anak anak DAN orang tuanya?
Kenapa tidak ada anak anak yang bilang saya ingin jadi PENYANYI atau ANAK BAND supaya bisa kayak Kaka Slank atau Ian Kasela?
Hanya 1 yang bisa menjawab pertanyaan itu…
ORANG TUA.
Are you a parent?
Will you keep your child’s dream alive?
Will you help them have the courage to dream and dream big?
Will you be brave enough to conquer your own fear of failure?
I saw a quote at Ubud this morning…
COURAGE IS…
Let’s be Courageous.
Not for us.
But for our child’s sake.













February 14th, 2009 at 1:21 am
now how do you argue with this: http://www.boston.com/jobs/news/jobdoc/2009/02/will_stacking_shelves_be_a_res.html hard times man!!!
February 14th, 2009 at 10:29 am
yap, betul, saya penggemar pilem naruto juga, dan pas adegan guru asuma dan shikamaru bertanding shougi catur jepang, dikatakan bahwa “the king” adalah anak2 dan keturunan kita yang mempunyai harapan…
February 14th, 2009 at 12:03 pm
gw setuju banget. selama ini gw ngliat sering kali ortu mendorong anak2 mereka untuk memiliki impian yg sama dengan mereka tanpa mempedulikan impian anak2 mereka. jangan sampe ada zombie gen…generasi yang tidak memiliki impiannya sendiri
February 14th, 2009 at 1:50 pm
keren abiss tulisannya bang pandji!!
February 14th, 2009 at 2:02 pm
semua perilaku anak2 di masa depan, berasal dari orang tua terlebih dahulu..
saya salut, sama orang tua yg benar2 memberikan perhatian, contoh dan pendidikan yang baik pada anaknya, terutama ibu rumah tangga yang notabene selalu dekat dengan anaknya
Mudah2an apabila itu dijalankan, maka keberanian, harapan, dan impian akan tumbuh berkembang pada anak tersebut…
Matur Nuwun Ndji
tulisannya inspiratif sekali
February 14th, 2009 at 4:21 pm
Benar Ndji…..yang membatasi daya imaginasi anak adalah orang-orang disekitarnya dalam hal ini adalah orang tuanya. Setiap anak selalu ingin mempelajari sesuatu hal yang baru, mereka selalu ingin mencoba sesuatu yang mereka belum bisa. Dalam proses ini sebenarnya kalau anak diberikan kebebasan untuk mempelajari semuanya ada kesempatan buat anak tersebut untuk berani bermimpi. Tetapi secara tidak sadar justru orang tua yang membatasi dengan cara melarang ini, melarang itu, tidak boleh ini, tidak boleh itu..Secara tidak sengaja alam bawah sadar anak tersebut akan merekam hal2 tersebut bahwa dia tidak bisa melakukan semua yg dia inginkan. Jangan-jangan kita sebagai orang tua sudah melakukan itu juga secara tidak disengaja. Sesuatu yang kita anggap normal tapi mempengaruhi masa depan anak tersebut…
February 14th, 2009 at 10:02 pm
jadi inget kata-katanya randy pausch di last lecture; “Somewhere along the way there’s got to be some aspect of what lets you get to achieve your dreams. First one is the role of parents, mentors, and students.”
February 15th, 2009 at 1:01 am
gw juga ni, knapa kok orientasi orang tua selalu cari duid
cuman blom tau gmn link nya
emank si duid penting
tapi klo kerjaannya ga sesuai sama keinginan kita kan jadi ga bakal bagus jga
nah, klo cita2 gw pgn jdi penyanyi ni
sapa tau mas Pandji isa bantu hehe .. buka aja blog gw, ada klip yg pake suara gw di situ
ato di sini http://www.youtube.com/watch?v=GzvwT0mkYuA
February 15th, 2009 at 7:30 pm
gw termasuk org yang percaya apa itu kekuatan mimpi..seperti honda yang mengusung jargon “the power of dream” ato anggun C.sasmi yang bermimpi meraih apa yang dia suka dan akhirnya berhasil hingga jadi penyanyi global..untungnya nyokap gw termasuk orang yang cukup percaya dan yakin dengan impian gw tuk jd seorang dosen..dulu gw ingin lanjut studi S2 di UI tp klo liat kenyataan kok imposibble ya tapi kini…voila..i got it..meskipun kakak dan bokap gw menghalangi..bt yg pny mimpi fokus aja ma tujuannya dan biar kritikan itu sebagai teman kesuksesan kelak..gw salut bt tulisan ini karna jarang bgt gw temui manusia di luar sana yang menghargai apa itu mimpi…but i still believe it
February 15th, 2009 at 10:09 pm
Gue pernah denger:
Anak2 di tangan orang tua bagaikan panah di tangan seorang pahlawan, gue suka ungkapan ini.
Ngingetin orang tua akan peran dan tanggung jawab mereka untuk masa depan anak2nya di kemudian hari, untuk secara konsisten mengarahkan mereka ke sasaran yang benar dan memastikan bahwa sasaran yang tuju tidak meleset dengan mempersiapkan si anak panah tersebut mulai dari ketajamannya,persistensinya, dan faktor2 pendukung lainnya… menurut gue kalo orang tua hanya mengingin anak untuk mecari duit tanpa mempertimbangkan minat, strength, passion & mimpi si anak… this is one of the most & common reason why the generation fails… we have to change the mind set, rotate the angle and seeing life from a different perspective and not just only money… just keep them to have their own dream first….
February 16th, 2009 at 10:10 am
klo kisah dari orang miskin jadi kaya mungkin banyak, Ndji di Indonesia. Tapi yg selalu menggugah g adalah mereka yg masuk ke kolom Sosok hal.12 Kompas. Mereka adalah org2 yg inspiratif dan berjuang dari ketidakmungkinan menjadi berguna utk masyarakat dan lingkungannya. Mereka mungkin tidak kaya, tapi hidup mereka sangat berarti.
February 16th, 2009 at 6:07 pm
From one stickler to another: It’s “Courageous” man (maap)
February 16th, 2009 at 8:12 pm
thx, Ndji…it’s remind me to my own dreams that almost being forgettable
February 17th, 2009 at 1:23 am
Huuff berat juga ndji. kemiskinan, keterbelakangan dan segala hal yang berhubungan dengan itu memang sedikit banyak merubah pikiran seseorang kearah uang. segala yang mereka lakukan akan menjadi satu tujuan. idealisme mati. akhirnya cuma berujung pesimis melihat masa depan, karena sampai hari ini masih tidak bisa melihat harapan.
yap, gw setuju ndji, sebagai orang tua harus bisa mengkreatifkan anak. walau mungkin baru akan terjadi sama orang2 yang sudah sadar akan hal itu. sekarang mungkin akan lebih baik kalo mulai menyebarkan virus ini kesemua orang tua dan calon orang tua.
kakak gw punya mimpi buat organisasi dimana dia masuk ke sekolah-sekolah, ke lingkungan dan tempat-tempat lainnya untuk menjelaskan profesi apa aja yang ada di dunia. karena menurut hasil penglihatan gw dan kakak gw, kayaknya anak2 indo gak tau apa yang mereka mau sebenarnya. Jangankan anak-anak yang lo temuin di perkampungan belakang BSD, coba tanya anak2 SMA di tengah kota jakarta, berapa persen mereka tau apa yang mereka mau. berapa persen yang mantep masuk ke universitas bukan karena suruhan orang tua, bukan karena gengsi semata karena universitas tersebut bergengsi. hal-hal seperti ini yang akan menjadikan mereka gak akan sukses 100%. hal-hal ini yang gak akan merubah kondisi Indonesia. indonesia akan tetep terpuruk karena bibit-bibit potensialnya ternyata salah arah dan menjadi orang yang tidak potensial lagi.
February 17th, 2009 at 6:58 am
@Lei : Eh iya man.. thx ralatnya.. gue benerin ah..
February 20th, 2009 at 9:27 pm
Hii Dji Salam Kenal….
Gue setuju banget, pepatah mengatakan gantung mimpimu setinggi bintang dilangit, yah kalopun meleset minimal masih dilangit gitu lho
Mulailah dari kita sendiri yang juga calon ortu or yang baru aja punya anak, sehingga tercipta generasi baru yang tahu apa mimpi dan cita2 yang harus dikejar…semoga bangsa kita belajar dari pengalaman karena pengalaman adalah guru yang paling baik
February 26th, 2009 at 5:18 pm
Kadang ambisi orangtua itu yang menahan kreatifitas anak.
Gue inget waktu pertama kali nganter anak gue ke sekolah TK.
Baru baris ajah, semua orang tua berlomba2 buat ngatur anaknya masing2,
” .. hey ujang itu dengerin ibu gurunya ”
” aduhhh .teteh itu nyanyinya yang keras atuh … ”
“itu .. ucok tangannya diangkat … nah gitu ”
padahal ada guru yang sedang membimbing, dan gue yakin Ibu guru tersebut bilang dalem hati, yang jadi guru itu gue ato elo sih .. huehuehu
dari hal2 yang kecil itu kadang gue liat si anak selalu ragu2 dengan apa yang di perbuatnya
March 28th, 2009 at 10:14 pm
DON’T DREAM IT OVER