Kecewa dengan keputusan orang lain…
Category: Uncategorized | Author: Pandji Pragiwaksono
Kemarin gue kerja di Bali.
It was fun.
After 3 weeks of recording, it was like the perfect closure.
Ngemsi rapi punya waktu juga untuk babalian
Gue ngajak Gamila dan Dipo kesana dan nginep di Risata.
But the point of this blog post is when we were at the airport goin home.
Gue keluar dari gate 15. Disana ada kafe yg cukup gede sehingga gue dan Gamila memutuskan untuk istirahat disana. Berhubung gue bawa laptop, tas kamera dan handy cam, dan tas Dipo yg isinya segala keperluan anak gue berisi susu kaleng, sejumlah botol, baju ganti, mainan, popok, etc.
Baru 15 menit disana, Gamila nggak nyaman dengan asap rokok orang orang yang pada duduk deket situ. Maka Gamila dan Dipo jalan keliling area tunggu untuk menemukan tempat enak untuk Dipo.
10 menit menghilang, mereka kembali. Gamila bilang “Seblah sana udaranya lebih enak”
Pindahlah kami dan memilih duduk di sebuah warung kecil…
Here comes the story…
Belum 10 menit kami duduk dan ngaso, serombongan orang datang.
Mayoritas wanita.
Mereka kayaknya peserta acara yg geu emsi-in malam sebelumnya.
Gue denger mereka ngomong “Wah, tapi ada bayi bo. Ga enak gue (kalau ngerokok disini)”
Mereka tahu ada gue, Gamila dan Dipo yang baru berumur 8 bulan.
Ga lama setelah itu, semua rombongan merokok. Sekitar 5 orang mungkin.
Gamila langsung berdiri dan pergi bawa Dipo.
I know she’s upset.
She didnt show it.
But i know.
Salah seorang wanita kemudian nengok ke gue dan bilang “Duuh, maaf ya”
Otomatis, jiwa melayu penuh kesopanan gue menjawab “Oh iya gapapa”
Dalam hati gue kecewa dengan keputusan mereka.
How ignorant ??!!!
They KNEW Dipo was there, yet they still decided to SMOKE???
THEY KNEW!
Saying Sorry is nice, but it doesnt mean its goin to make my son any safer.
Maaf tapi tetap merokok, serombongan, tetap akan membahayakan anak gue.
Mereka bisa bilang “Tapi kan asapnya ga kearah sana”
Come OOOOOoooooonNNN!
Mereka bergerombol ga sampe 1 meter dari tempat kami duduk.
Kalau gue komplen ke mereka, di kepala mereka pasti “Ih, rese banget sih”
Padahal, gue duluan disitu dengan keluarga gue, MEREKA TAHU ADA ANAK BAYI disitu, dan tetap merokok.
Gue memutusukan utk ga komplen.
They’re ignorant.
They are not going to care.
Kecewa gue.
Kecewa dengan keputusan orang lain.
Yang egois, dan membahayakan anak gue.
….



































19 Responses to “Kecewa dengan keputusan orang lain…”
By Anonymous on Jan 14, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
I’m so sorry, to say this..
Because I’m gonna say it into Pandji’s blog, one of the person I like, or furtherly, I admire, in his career as a broadcaster..
So please, no offense personally, ‘Ndji..
Let just see this (as I see ur post) as a different side of view..
FYI, I’m not a smoker, or should I say, I’m no longer a smoker.
Sorry if I’m being harsh,
but honestly I’m sick with the attitude of (some) people, let’s just say they who own child/children/babies or pregnant women, who act as if they own the world already!
Coba liat, di warung tempat lo duduk itu, ada sign “dilarang merokok” gak?
Tentunya gak ada krn klo ada gue yakin bgt pasti lu bakal protes ke mereka.
Menurut gue, admit it, that the place that we’re living in, especially Indonesia, isn’t a beatiful world, a paradise (in whatever aspect) to raise a child, sad but true..
Having a child, is our own decision isn’t it, it’s a choice!
Now, people had decided to have a child, in Indonesia, in the city that let’s say the pollution is high..
So, it’s our own risk!
I’m sick with the kind of parents, who always wanted we (the seems like not a parent yet kind aka singles.. ;p) to always understand their children, understand them.. :/
Apa iya para orangtua itu minta maaf klo kita lagi nongkrong di kafe2 yg tenang dan memang lagi pengen ‘look for solitude’ trus out of nowhere anaknya lari2 keliling kafe sambil teriak2 plus mampir lagi ke meja kita dan gangguin..
Gue gak bisa marah, karena gak ada tulisan “dilarang bawa anak” di kafe itu.. ;p
Atau juga,
ada bayi muntah dan kena ke area gue (ini terjadi di kereta, sial bgt ya gue.. ;p) plus tangisannya bikin gue gak bisa tidur dalam perjalanan antar kota yg makan waktu seharian..
Why that they don’t apologize?
Coz they believe that they are acceptable, understandable..
That their babies, their children, are angels that everybody would adore without question!
Forgive me to say this, yes they are your angels, but they are not mine..
Fiuh.. sudah puas.. ;p
Sorry ya ‘Ndjie jadi nyampah nih di blog elu..
Gue yakin sih lu bukan tipe orangtua kaya yg gue jelasin tadi,
karena lu juga bilang “gapapa..” ke cewe yg minta maaf itu..
Regards,
-Lily-
PS: Mungkin ada yg mo komen, “tunggu sampe lu punya anak sendiri?” I’ll say that yes, I’ll wait..
By Anonymous on Jan 14, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Oh ya, Indonesia is definitely a country, not a city.. ;p
Jadi inget Putri Indonesia kita dulu.. ;p
By Anonymous on Jan 14, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Gue pernah punya beberapa kejadian serupa..malah yg merokok bapak-bapak serem. Kita tegor aja dgn sopan, nunjukin bahwa kita keberatan mereka merokok krn ada bayi/ anak kecil, dan dari pengalaman gue mereka nurutin kok.(walau dgn muka masam) - Ricky
By Yoel on Jan 14, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Nggak usah basa-basi bro, elo bisa bilang kalo elo keberatan. Budaya melayu kadang nggak cucok bro
By Pandji on Jan 15, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Hehehe, sebenarnya emang gue bingung kenapa di sana kok orang ngerokok dimana mana.
Coba deh kalau kalian ke Bali dan pulang lewat gate 15 dan 16, coba cek tempat ngerokoknya dimana… Soalnya gue ga liat ruangan khusus merokok, dan orang ngerokok dimana mana. Gue justru memilih untuk mengalah dan menjauh dari orang yg ngerokok. Eeeh, udah menjauh, malah dideketin lagi…
Hehehe, padahal kalau orang yg ngerokok deket gue, gue gapapa.Tapi kalau deket Dipo, gue ga bisa terima… Namanya juga sayang anak cuy…
By Anonymous on Jan 15, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Nah ntu dia..
Klo di US mungkin ya, perokok emang jadi warga negara kelas 2, dipinggirkan..
Tapi di Indonesia??
Setiap aturan terkait rokok yg ditetapkan pemerintah selalu timpang atau tidak sempurna dalam implementasinya,
krn diakui atau tidak,
cukai masih jadi salah satu pendapatan potensial negara..
Implikasinya,
para perokok di Indonesia masih ‘bebas-merdeka’,
walau sudah ada di beberapa tempat (ex. Senayan City yg gue tahu..) yg menjalankan aturan “dilarang merokok di tempat yg bukan untuk perokok” - dan menyediakan ruangan tertutup bagi perokok.
Jadi ya, airport itu yg mestinya “menetapkan dan menjalankan” peraturan..
Regards,
-Lily-
By Fitri-DRSecret on Jan 15, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Ndji, aku ngerti perasaanmu… Aku termasuk org yg sering dilecehkan orang kalo minta mereka utk berhenti merokok di area dilarang merokok. Terakhir di food court Hero gatot subroto. Udah kayak aku yg tersangka… semua orang mencibir… Tp akhirnya ya cuma bisa pasrah aja, dan ga mau makan disitu lg… Emang harus ada sanksi yg jelas berikut petugas kepatuhan di setiap sudut ruang kota kali ya…
By magda on Jan 16, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
hai ‘nji…
gue perokok.. dan gue punya anak… tapi gue tau perasaan loe kayak apa karena gue ngga pernah mau merokok di deket anak gue sendiri…
apalagi kalau di tempat umum yang tertutup, gue benci liat perokok2 yang ignorant, apalagi kalau sampai keliatan di dekat mereka ada sign dilarang merokok… udah jelas gitu lho.. tetep aja dilanggar… bukannya perokok juga berhak atas udara yang bersih??
seperti Lily bilang, dunia bukan milik orang tua yang punya anak.. true… tapi dunia juga bukan milik para perokok sembarangan…
gue pernah ditegur seorang ibu di restoran yang duduk di smoking section karena gue merokok… sorry aja deh.. di sini gue bisa debat kalo dia yang salah duduk, udah jelas2 ada bagiannya… dan gue duduk sengaja menjauh dari batas smoking n non smoking section… tapi kalo memang dia negur gue karena gue merokok bukan pada tempatnya… itu jelas hak nya dia.. dan gue ngga berhak menjadi ignorant…
By magda on Jan 16, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
oh iya ‘nji…
di airport memang sucks.. gue ada foto ruang (lebih tepatnya sih booth) untuk merokok yang dirusak oleh para perokok sendiri… gue sebagai perokok aja kesel kok ‘nji…
udah jelas2 ditulis besare dengan bakground kuning “Dilarang mematikan dan membuang rokok disini” (tepatnya di alat penghisap asap rokok) tapi justru alat itu adalah asbaknya…
padahal.. merokok adalah pilihan.. demikian juga yang memilih untuk tidak merokok… sudah selayaknya lah saling menghormati..
By Anonymous on Jan 16, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Betul bgt!
Dunia juga bukan milik para perokok,
jadi.. klo emang itu tempat ada bagian2nya..
Please, stay at where you should be! :/
-Lily-
By popeye on Jan 16, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Hi Nji,
Actually from your program (Flip Flop) there must be 2 sides from every conflict.
For your side maybe you object because you have Dipo with you.
But from their side, they also feel that they’re right!!! Because maybe there’s no “NO SMOKING” sign.
Because I’m also a heavy smoker.
And if there’s no “NO SMOKING” sign, I will smoke my cigarettes freely @ my table.
Yah the only way to avoid such conflict, I only can suggest you to move to No Smoking section.
Ok???
As we (smokers) only smoke in place designated for smoker.
Yah some kind like S’pore lah….
Clear all conflict right???
By Pandji Pragiwaksono on Jan 17, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Yah itulah, flip flopers (sori elo ga ada nama soalnya, gue bingung mau manggil apa…)
Di gate 15 dan 16 airport Bali ga ada tulisan jelas dan ga ada mana smoking section dan mana yg tidak. Ga ada smoking boothnya karena gue udah keliling keliling. Ketika gue udah menghindar dari area yg banyak orang merokok ke yg sepi tapi masih didatangi juga, gue musti gimana coba??
By Anonymous on Jan 17, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Bukannya namanya popeye, ‘Ndjie..
Nah, smokers kaya popeye gini deh yg gak seneng.. ;p
Makanya sebenarnya udah (agak) bagus smoker cewe yg di Bali itu masih ‘menyempatkan diri’ buat minta maap.. ;p
Anyways,
Pandjie gak salah Popeye, malah kasian benernya, soalnya gak ada pembedaan yg jelas antara ruang buat merokok dan tidak, dan pas udah minggir, eh masih ketemu juga.. :/
-Lily-
By istee on Jan 17, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Ngeselin emang, klo berdebat sm PEROKOK! Slalu adaaaaaaaaa aja alesannya! semua klrg gw trmasuk nyokap jg perokok (tp skrg ud insap) klo gw coba ksh tips, pandangan, himbauan, pengetahuan ttg bahaya mrokok, de el el slalu bisa aja nge’lesnya!!! malah mreka bilang, “perokok pasif itu lbh bahaya sti, krn asap yg d isap ga baik bwt lo, cpt matinya loe! klo qta (perokok) kan ngebuang asep.. jd mendingan lo ngerokok skalian!”
sial!! malah gw yg d cramahin!
apalagi klo gw liat peroko yg suka buang puntung smbarangan, masaoloo.. udah gagayaan, tp jorok! pwihh.. mls bgt!
intinya gw setuju sm pandji aja!! sabodo teuing yg laen mo ngmng apa..
slm cium tuk Dipo y.. sadar kamera bgt siyh dia =D
By winda on Jan 21, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
yah, ‘dji, jangankan loe di airport yang gak jelas dimana ngerokok dimana gak. Di building gue (BBD) yang jelas2 ada tulisan kawasan dilarang merokok di pintu masuknya, klo loe masuk, tetep aja ada orang yang ngrokok.
Dan pernah gue ‘tegur’: bukannya disini gak bole ngerokok yah??!!
Ehh.. malah dia yang kayanya mo marah balik.
Guenya sih dah kabur, susah juga soalnya, gue cewe, bukan perokok, and most importantly, mata sipit whuahha… minoritas banget deh huhuhu….
curhat colongan deh
By Pandji Pragiwaksono on Jan 22, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Winda, sebagai pemilik mata sipit juga, kita senasibb CAAAASSS!!
By Popeye on Feb 14, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Lah koq malah jadi curhat tentang SARA???
Btw gua juga sipit sich…
Hehehehe
By Didiet on Feb 23, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Tuhan Sembilan Senti
Taufiq Ismail
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok
Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara- perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’IM sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah, ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,
di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang
bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta API
penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau
penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda
andong minta diajari pula merokok
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi
tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok
Rokok telah menjadi dewa, berhala, Tuhan baru, diam-diam menguasai kita
Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di
restoran, di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika
melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan
HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok, di kantor atau
di stopan bus, kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok
Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’IM sangat ramah bagi orang
perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok
Rokok telah menjadi dewa, berhala, Tuhan baru, diam-diam menguasai kita
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang
rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
Dan ada yang mulai terbatuk-batuk
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120
orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang
bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud
untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan API dan sesajen asap tuhan-tuhan ini
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
By Anastasia Rosarini on Feb 28, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Hmmm bukannya di Ngurah Rai ada tempat khusus merokok ya? Kalo ngga salah di kafe yang di atas gituh…
Ya mbok kalo ada tempat merokok, bagi para perokok, di sana ajah ngerokoknya…