Nasionalisme Komersil…

Mon, Sep 7, 2009

Uncategorized

Tulisan ini adalah opini pribadi gue, tentang nasionalisme yang komersil.

Kemarin, seseorang melaporkan sebuah posting yang seperti marah karena ada yang buka toko Indonesiaunite di Ambassador.

Lalu muncul teriakan teriakan “Indonesiaunite di komersilkaaan!”

komersil


“kecewa terhadap orang yg mengkomersilkan indonesiaunite”

“harusnya gue tau bahwa ini akan terjadi”

“Abis itu orang ini ngaku ngaku temennya pandji lagi!”

Hehehe

Orang itu, memang temen gue. Namanya Iman Sjafei.

Dia pernah nanya sama gue tentang membuat toko yang menjual merchandise termasuk didalamnya kaos, indonesiaunite.

Gue bilang sama dia, gue stuju.

Lalu dia jadi bikin dan melaksanakan idenya itu (tidak sperti banyak orang yg ngomong doang tanpa realisasi)

Tiba tiba, orang orang ngamuk.

Padahal maksud dia adalah supaya orang dimudahkan kalau mau beli atribut.

Faktanya adalah, sampai hari ini orang selalu nanya ke gue SETIAP HARI bagaimana caranya beli kaos atau atribut Indonesiaunite…

SETIAP HARI.

Walaupun gue slalu mengarahkan ke invicuts, provotoko, DAMN i love indonesia, Wadezif, bolbal, dll tetep aja banyak yang nanya kemana harus beli.

Rasanya, harusnya ada lagi yg menyuguhkan hal hal berbau nasionalisme.

Malah kalau bisa di tiap area di Jakarta, tiap kota di Indonesia.

Termasuk toko si Iman di ITC Ambassador ini.

Toh, atribut adalah bagian penting dari sebuah perjuangan.

Atribut berfungsi utk 2 hal.

Menunjukkan keberpihakkan. Ini penting dan tidak bisa ditahan, karena ini adalah aktualisais diri

Kedua, atribut adalah alat yg penting untuk menyebarkan pesan.

Kalau gue jalan jalan pake pin pita kuning di dada gue, besar kemungkinan orang nanya

“Pita Kuning itu apa ya?”

Dari situ, gue akan terangkan semua, dan nyambung kepada anak anak penderita kanker yg diasuh oleh yayasan C3 (Community for Children w/ Cancer) sebagai mantan seorang sales gue tau bahwa lebih mudah kita menyampaikan sesuatu kalau orangnya duluan yang tertarik.

Indonesiaunite, harus terus disebarkan pesannya

Karena itu, atributnya harus ada.

Gue tau elo setuju bahwa indonesiaunite harus terus jalan, dengan itu pesan harus terus disampaikan, maka jawab pertanyaan gue, elo mau punya atribut dari mana? Bikin? Okay, tapi orang orang lain mau bikin ga?

Menurut gue, tidak ada salahnya menarik keuntungan dari nasionalisme.

Kenapa?

Karena walaupun elo me-non-profitkan karya lo, rejeki tetep akan datang ke elo.

Kenapa?

Karena itu (setau gue) dijanjikan Tuhan.

Kalau kita berbuat baik secara tulus, Tuhan menjanjikan rejeki yang berlipat.

Kalau kita membantu orang lain, Tuhan balas dengan rejeki

Walaupun tentunya, jangan berbuat baik berharap dapat rejeki Tuhan.

Nekat amat mau ngebohongin Tuhan, kita smua tau kita tidak bisa meliciki Tuhan

Tuhan akan berikan rejeki kepada orang yang BERHAK akan rejeki itu.

Misalnya gini

Gue memberikan profit RBT Kami Tidak Takut 100% untuk para pejuang sipil.

100% !!! gue ga terima duit sepeserpun padahal lagu ini adalah lagu gue yang paling terkenal , karena gue merasa salah bagi gue narik untung dari sebuah lagu yang telah menjadi kendaraan bagi bangsa Indonesia utk menyuarakan keberanian!

(please jangan dianggap sbg usaha menyombong, if you do, well i wont blame you. Its not ur fault u were born sceptical..)

Tapi kalau ternyata usaha itu membuat gue (misalnyaaaa) jadi terkenal gimana?

Gimana nolaknya coba?

Tuhan tau motivasi gue, kalau memang motivasi gue sbenernya pura pura beramal padahal mah nyari untung tidakkah Tuhan akan menahan rejeki itu?

Siapa kita untuk merasa bahwa seseorang tidak berhak akan rejeki?

Karena menurut gue pribadi, bukan elo atau gue yang berhak menentukan rejeki orang.

Tuhan yang menentukan rejeki orang.

Misalnya, Saykoji selalu bilang bahwa Garuda Hiphop tidak akan menarik uang, tidak akan mengkomersilkan karyanya.. kalau ternyata kami dipilih untuk keliling Indonesia, hotel enak, pesawat enak, makan enak oleh pemerintah untuk menyebarkan pesan nasionalisme, masak kita nolak?

Misalnya karena proyek Garuda ada seorang warga negara Indonesia yang senang dengan karya kami lalu kami diberi sekarung apel malang sebagai rasa terimakasih, masa kami musti menolak?

Gue diajarkan agama untuk tidak menolak rejeki. Rejeki datangnya dari Tuhan.

Okelah kita bisa menolak pemberian apel itu, tapi kita kan ga bisa menghentikan keinginan orang yg ingin memberi kepada kita sebagai rasa terima kasih.

In one way or anther, a goodness will be repayed by another goodness.

I believe in that.

Contoh terdekat, adalah par apejuang sipil yang akan mendapatkan hasil RBT Kami Tidak Takut tgl 10 november nanti.

Mereka berjuang ga minta apa apa… tapi bertahun tahun kemudian, gue dan banyak orang yg pake RBT KTT pengen berterimakasih dengan memberikan uang.

Masak mereka harus nolak? Padahal banyak diantara mereka yang hidupnya nggak makmur..

Tega sekali???

Jadi biarkalnlah kalau ada yg mengkomersilkan Indonesiaunite, one way or another, he?she will be helping a lot of people

Biarkanlah kalau ada yg mengkomersilkan nasionalisme karena komersil ataupun tidak, rejeki akan datang kepada merek a yang berbuat kebaikkan.

Terakhir dari gue, berhubungan dengan tokonya Iman dan kawan kawannya di Ambassador

Tidakkah elo sadar bahwa gara gara dia mau memudahkan orang utk beli atribut indonesiaunite dia jadi harus bayar sewa di ITC ambassador? Bayar gaji karyawan?

Dengan segala usahanya mendesain kaos, mengumpulkan atribut indonesiaunite dari rekanan rekanan lain supaya elo ga musti kemana mana lagi, dengan segala usahanya memudahkan elo beli atribut nasionalis, tidakkah elo mau berterima kasih kepada mreka?

Gila lo, mereka kan capek melakukan itu semua untuk kita.

Bukannya gampang melakukan apa yang mereka lakukan?

Tidakkan elo mau memberikan apresiasi kpd mreka dgn memberikan mereka keuntungan?

Tidakkha elo mau memberikan mereka rejeki lebih?

Gue sih mau.

PS: Semua kesalah pahaman ini , menurut gue hanya karena orang orang tidak saling kenal aja. Kita cenderung menolak apapun yang tidak kita pahami secara utuh. Sayangnya banyak orang bereaksi dan berkesimpulan, tanpa memiliki fakta yang utuh.. Capek lah berantem antar sesama..


294 Responses to “Nasionalisme Komersil…”

  1. pipit Says:

    iya, knp harus merasa gituh??
    semuanya kan tergantung niatnya…
    eh, nhomong2 tokonya dmn???
    di ITC lt. brp???
    hehehehhee….

    Reply

  2. Audri Sani Says:

    dji, melalui kontroversi yg beredar (either ttg indonesia unite maupun penjualan atribut2nya), mungkin bisa dilihat juga nasionalisme ada level2nya, mungkin pada level tertentu dg pake kaos, jualan kaos dan beli kaos ada yg merasa sudah nasionalis (mendukung perjuangan IU). Pada level lain bener2 ‘turun’ ke masyarakat dan bener2 jadi agen sosialisasi perjuangan, atau bahkan kaya g gak punya kaos IU gak pernah ikut2 aksi IU (plg cm via twitter), tp g tau dalam hati nasionalisme a/ bagian inheren dr identitas g. Iya g setuju, gak semua orang bisa ‘royal’ (not only in material) dalam ngasih apresiasi Intinya, let the controversion arise, liat itu sebagai keragaman, bukankah kita terbiasa dg hal2 yg beragam? just keep on ‘movin…. never give up.

    Reply

  3. agn Says:

    Kadang-kadang bahkan gw juga merasa Pandji juga mengkomersialisasikan diri dengan label nasionalisme untuk ajang mencari popularitas.. Tapi semoga gw salah dan gw juga ngga bisa berburuk sangka. Semoga nggak bener.

    -wassalam

    Reply

  4. Qirul Says:

    Panji.. Tokonya di lantai brp? Gw punya beberapa ide ttg kaos yg bisa promosiin Indonesia.. Bisa gw jual di toko temen lo itu ga yah?

    Reply

  5. Iman Sjafei Says:

    Sekali lagi makasih banget mas Pandji. Jujur gw punya ide ini semata-mata niatnya ingin supaya trend nasionalisme atau cinta tanah air tetep hidup sampe kapanpun. Oke mungkin ini gk semulia gerakan temen2 lain yg bikin baksos atau apa,cuma ya inilah yg ada di pikiran gw buat mempertahankan gerkana ini.

    Nah buat semua, siapa yg punya desain produk #indonesiaunite atau yg punya produksi sendiri dan mau kita salurkan,gw persilahkan dengan senang hati buat meramaikan ide ini. Oke guys.

    Reply

  6. Teguh Prasetya Says:

    bener ndji..ngapain sih tuh orang..ribet banget dah… udah tau dikasih cara gampang malah mau cari cara yang susah….buat mas imam sjafei lanjut gan!!

    Reply

  7. Muhammad Shidqy Says:

    Ji, ada satu quote bagus yang gw lupa dapet darimana:
    “akan selalu ada orang yang tidak suka pada kita”.

    jadi, cuek aja lah! selama niat kita baik, pasti hasilnya baik kok,,,

    Harusnya kita tuh seneng, semakin banyak orang yang buka toko atau menjual segala sesuatu yang berbau indonesia. Gw gak mau sok dibilang nasionalis berlebihan atau gimana, dari hal yang paling simple aja deh, yang gw yakin lo semua pasti akan melakukan kalo lo ke luar negeri, lo pasti akan mencari souvenir dari neara itu kan?? jujur aja, kalo saat ini juga ada temen gw dari luar negeri yang minta dibeliin souvenir dari Indonesia, gw pasti akan bingung! apalagi di jakarta, nyari dimana coba??
    kalau suruh nyari yang tulisannya “jakarta”, “borobudur”, “bali”, mungkin banyak, tapi yang tulisannya “indonesia”??? pasti susah !

    anggep aja ini sebagai salah satu kemajuan di negara kita, kita gak bisa nyalahin Indonesia yang punya beratus2 kebudayaan yang masing2 bisa berdiri sendiri dan terlihat bagus, tapi kita juga gak bisa nyalahin siapa2 kalau ternyata masih lebih terkenal Bali ketimbang Indonesia.

    Reply

  8. foreverdoomed Says:

    Rupiah masih berbau harum, gan…:P

    Reply

  9. aditvampir Says:

    Temen lo itu ada rencana nyumbang sebagian (ga mungkin semua lah ya kan lo bisnis) keuntungannya buat sosial ga? Kan dia bisa dibilang menjual buah dari tragedi nih.

    Reply

  10. aditvampir Says:

    Saya tambahkan juga komentar teman saya. Mungkin Pandji bisa cek @felixdass di Twitter.

    “Kebanyakan bisnis kaos di Indonesia memberikan untung yang besar untuk pedagang retail. Produsen yang menyablon dan menjahit sih nggak ada apa-apanya.

    Ongkos sablon sewarna gitu paling Rp.2.000,00 dan ongkos jahitnya Rp.3.000,00. Bandingkan sama harga jualnya. Akan sangat keren kalo dia buat model bisnis Oxfam atau maketradefair.com. Jadi dari sel paling bawah sampai sel paling atas, semuanya dapet keuntungan yang setara.”

    Mungkin teman Anda berniat begini?

    Reply

  11. naufal fileindi Says:

    hahahaha…
    berhubung gw kenal Iman dari SD, jadi kurang lebih gw udah tau lah arah pemikiran dia.
    emang sih dia pasti bakal dapet keuntungan (walaupun ga akan banyak banget) dari hasil penjualan merchandise IU ini, tapi menurut gw ini salah satu bentuk perjuangan dia untuk mendukung IU.
    bener kata lo Ndji, mendingan gerak daripada ngomong-ngomong doang.

    terutama soal Iman (gw akan lebih berfokus ke tindakan dia, karena gw temennya), gw jarang banget ngeliat dia begitu ‘eager’ untuk ngelakuin sesuatu yang narik minat dia.
    sejak IU muncul, dia selalu aktif ngikutin perkembangan IU.
    dia bilang sendiri ke gw, dia akan berfokus pada pengkondisian ‘tren’ ini, supaya ‘tren’ yang bernama Indonesia Unite ini tetep bergaung.
    apalagi Pandji salah satu penggeraknya. makin ‘hot’ lah dia untuk ikutan gerakan ini.
    because whether you realise it or not Ndji, Iman’s one of your biggest ‘best friends’.
    (dateng ke IIMS cuma buat ketemu sama lo apa namanya kalo bukan sahabat :D )

    nah, konklusinya menurut gw adalah jangan juga kita bersikap skeptis atas apa yang orang lain lakuin.
    despite what they’ll get in return, I think it’s really big of them to do something rather than just be sceptical about other’s actions.
    malah seharusnya kita ngaca, KITA UDAH NGAPAIN YA?????

    Reply

  12. Dedi Says:

    Mas Naufal, pertanyaan “KITA UDAH NGAPAIN YA” itu adalah soal yang laen menurut saya, karena saya sendiripun gak akan pernah menulis panjang lebar tentang apa yang saya udah perbuat buat bangsa ini (dan saya yakin banyak orang yang seperti ini). Yang menjadi issue sekarang adalah komersialisme nasionalisme untuk gerakan IU ini, terutama adanya ide untuk membuka Toko Kaos dan pernak perniknya di Ambasaddor. Ya memang bolehlah orang membuka toko merchandise tentang Indonesia, tapi tolonglah jangan mengambil dari konsep Indonesia Unite ini, cukup buka toko “INDONESIA”, karena dengan membuka toko berarti sudah lari dari tujuan awal dibentuknya Indonesia Unite..ada unsur duit disitu. (mas Muhammad Shidqy, tulung note ya masalah toko ini.)

    Bisnis kaos adalah bisnis yang luar biasa untungnya, kalau kita pintar kita bisa mengambil untung diatas 75% dari modal, mari berhitung:
    Ongkos Sablon + Kaos polos = 30.000
    Dijual: 75.000
    keuntungan (belum dikurangin dengan overhead bulanan) = 45 ribu
    itu per kaos, belum dihitung perkalian penjualan perbulan dan dikurangi overhead bulanan.

    Bisnis kaos itu memang menggiurkan, band2 jaman sekarang banyak yang terselamatkan dari pembajakan dan download karena penjualan merchandisenya. KOIL bisa rekaman dengan kualitas bagus dan punya alat2 bagus karena GOD INC. Anak2 muda bandung banyak yang jadi Milyarder karena bisnis kaos. Oleh karena itu wajar jika ada orang yang langsung bertanya dengan ide untuk pembukaan toko Indonesia Unite ini? sangat wajar malah… apalagi yang membuka ini adalah seorang individu yang tentunya akan makin dipertanyakan :P

    gua setuju dengan ide Felix, kalau idenya untuk membantu orang kita bikin saja sistem keuntungan sama rata dari semua pihak yang terkait binis ini.

    Kalau gua punya uang sih gua patenkan saja Indonesia Unite ini, dan kalau ada yang bertujuan komersialisme gua suruh dia tandatangan kontrak yang berisi pendistribusian profit yang rata untuk semua orang. Tapi itu kalau gua punya uang dan mau usaha ..:D

    Reply

    • naufal fileindi Says:

      note:
      1. yang mau ngebuka bukan individu, tapi usaha bersama.
      2. indonesia unite bukan milik seseorang, tapi milik kita bersama. kalo anda yang mau mempatenkan merk indonesia unite ya silakan-silakan aja. jadi keliatan kan siapa yang sebenernya mau dapetin keuntungan dari IU? :/
      “Kalau gua punya uang sih gua patenkan saja Indonesia Unite ini, dan kalau ada yang bertujuan komersialisme gua suruh dia tandatangan kontrak yang berisi pendistribusian profit yang rata untuk semua orang. Tapi itu kalau gua punya uang dan mau usaha ..:D”
      kata-kata ini udah menggambarkan niat loh.
      3. kenapa jadi ngebahas untung-untungan gini? seharusnya kita lebih berfokus untuk ngebahas akses & kemudahan yang bisa didapatkan kalo toko ini dibuka.
      belum tentu juga untung besar. belum tentu juga SEMUA keuntungannya bakal diambil untuk kepentingan pribadi.
      4. sekali lagi, tanyain aja sama diri sendiri kita udah ngapain. ga usah digembar gemborin kok kita udah ngapain. gw juga ga peduli. yang penting kita sadar, bahkan lebih baik, menginsyafi & mengoreksi perbuatan kita sendiri. daripada ngomongin perbuatan orang terus.

      salam

      Reply

      • Dedi Says:

        1. Secara garis besar, di dalam kontek diskusi kali ini (nasionalisme komersialisme) Individu atau sekumpulan individu adalah sama.
        2. Apakah mas tau kata “sarkasm”?
        3. lho ini khan memang dari awal konsepnya toko? toko itu bisnis bukan? bisnis pasti mikir untung, terus kalau udah ada kata2 untung, berarti wajar kalau kita bahas untung2an?
        4. Setuju sekali, ini kita diskusi. Kalau diskusi tapi gak boleh ngomongin orang,terus ngomongin apa dong kita? :P

    • naufal fileindi Says:

      1. kenapa bisa disamakan? individu ya individu, kelompok ya kelompok. individu bertindak atas nama dirinya sendiri, kelompok bertindak atas nama kelompok. tanggungjawabnya pun beda. apalagi di sini udah ada subjek yang diangkat di sini, Iman Sjafei ini. bisa-bisa ini malah mengacu ke dia.
      2. tau. tapi mas juga tau ga kalo tulisan bisa dijadiin dasar yang kuat tanpa mempertimbangkan niatnya.
      3. bisa bisa, bisnis memang ngomongin soal keuntungan. tapi di atas kan udah gw bilang, nanti untungnya dipake buat apa dulu. bukannya permasalahannya di situ? ada pihak yang memperkaya diri sendiri dengan ‘label’ nasionalisme (Indonesia Unite)
      4. kalo ngomongin orang namanya gosip dong, haha

      salam

      Reply

  13. Felix Dass Says:

    Hi Pandji!

    Saya Felix. Saya yang menulis ‘ungkapan marah’ di Multiply. Dulu kita beberapa kali berurusan di Bandung. We share the same ‘blood’ from Pejaten Barat. Tulisan gue itu dipicu oleh Re-Tweet Jonjot (gue juga yakin elo masih mengingatnya) di Twitter.

    Yang menurut gue menjadi masalah adalah ketika ini menjadi bisnis profesional.

    Kenapa? Logika dasarnya deh, nasionalisme kok didagangin sih? Pake harus membebankan pembiayaan pegawai bulanan, biaya maintenance bulanan, dan berbuku-buku perasaan tegang barang laku atau tidak.

    JIka kemudian alasannya untuk membuat orang-orang yang susah mendapatkan barang bisa menjawab kebutuhannya dengan seksama di toko tersebut, ya it’s just another reason.

    Sama halnya kenapa kita harus peduli kepada bangsa ini setelah didera berkali-kali bom.

    Alasan selalu akan ada di sana dan kalau dibenturkan ya susah. Kayak debat di warung kopi kita. Tapi, gue merasa perlu untuk mengungkapkan alasan gue.

    Gue juga sama sekali tidak bermasalah jika kemudian ada orang mencerca gue dan menganggap gue anjing mengongong yang mengganggu kafilah suci yang sedang menegakkan panji Indonesia berdasarkan sentimen trend yang sedang hangat-hangat tahi ayam ini (semoga saya salah).

    Silakan.

    Pada dasarnya, gue sedih karena ide yang awalnya sederhana lantas menjadi sebuah bisnis yang punya proyeksi besar.

    Kita sama-sama bisa memperkirakan berapa uang yang diperlukan untuk menjalankan sebuah toko di ITC Kuningan, salah satu ITC paling panas di Indonesia.

    Mas Iman –kalau bisnisnya tidak laku– pasti akan mengejar target kuantitas penjualan untuk mendapatkan pencapaian yang ideal buat bikin dia nggak tekor.

    Itu kan iklim bisnis yang standar.

    Kalau bisnisnya laku, mungkin dia akan bisa menyumbangkan sebagian penjualannya ke lembaga tertentu yang merepresentasikan tingkat tindakan nyatanya (semoga juga asumsi saya ini bisa dijawab dengan nyata).

    Nasionalisme buat saya pribadi sudah tumbuh subur sejak saya berusia kecil. Saya masih ingat dengan jelas betapa rasa bangga mampir melihat I Made Pasek Wijaya mempertahankan sisi kiri tim nasional Indonesia di awal 90an. Waktu itu saya berusia sekitar 7-8 tahun.

    Hal sederhana itu membuat saya punya persepsi sendiri tentang nasionalisme. Modalnya murah kok, cuma sepasang mata yang terbuka, teh manis atau air es, serta alokasi waktu. Nggak perlu pake kaos. Nggak perlu beli merchandise.

    Jadi deh saya sekarang punya nasionalisme yang tidak perlu saya umbar. Orang tua saya pun tidak tahu berapa besar nasionalisme saya.

    Saya skeptis. Tapi saya punya perjuangan sendiri yang bahkan tidak akan saya share sama teman terdekat saya. Biarkanlah saya yang tahu.

    Untuk diskusi warung kopi yang semoga semakin menghangat!

    Cheers,
    Felix.
    *Unifikasi ada di dalam diri kamu. Bukan dalam baju yang kamu pakai.”

    Reply

  14. lakzmie Says:

    setiap tahun menjelang tujuhbelasan, selalu banyak pedagang musiman yang tiba-tiba jualan bendera di jalan-jalan, mulai dari yang kecil2 buat dmobil sampe yang buat dikibarin pas upacara, hasilnya? laris manis

    setiap musim bola, badminton, or olahraga apa lah itu, pedagang2 macem di Senen, banyak yang ngejual kaos kaos bola bertuliskan “INDONESIA” di balik punggung, dan hasilnya? laris manis

    dan aneh ya, dari dua contoh diatas kok gak ada yang protes ya?
    padahal sama2 menjual nasionalisme kan dua2nya?
    emang pedagang2 kecil itu dodrop in barang2 dari siapa?
    pasti ada penggagasnya kan?
    ya si penguasaha tentunya, cuman dia gak keliatan, karena pake perantara..
    yang ini kebetulan dia sendiri yang langsung menjual, apa karena itu orang2 pada protes?
    atau mungkin karena yang jual, adalah temen dari pandji yang notabene artis kah?

    Reply

    • rio Says:

      Laxzmie, lebih baik dibaca baek2 dari atas.. ini konteknya adalah IndonesiaUnite bukan Indonesia.
      Gua mah malah dukung kalau si panji yang artis ikut mempromosikan hal2 kayak gini. Secara artis khan lebih punya kesempatan untuk dilihat daripada orang biasa.

      Reply

  15. saha Says:

    Tuhan menciptakan makhlukNya dalam keberagaman, pun Indonesia, jadi biarkanlah kita mencintai Indonesia dengan cara kita masing2, biarkanlah kalo ada yang mencintai Indonesia dengan memakai atribut, atau mencintai Indonesia hanya dengan ” teh manis dan waktu”, biarkanlah bila ada yang berkoar-kora mencintai Indonesia, dan biarkan pula bila ada yang dalam hati setengah mati cinta sekali sama Indonesia. Inilah cara indah Tuhan dalam menciptakan makhlukNya : beragam. Yang tidak booleh tentunya bila kita tidak mencintai Indonesia.
    Mari mencintai Indonesia dengan cara kita masing-masing, dengan damai.

    Reply

  16. finozaini Says:

    #indonesiaunite kan (katanya) milik bersama. Berarti gak bisa dong menguntungkan sepihak atau seorang atau sekelompok. Apakah akan ada laporan bulanan berapa masuk, berapa keluar, berapa operasional, berapa charity yang disumbangkan? Kalau gak ada berarti jangan pake nama #indonesiaunite. kasih aja nama “TOKO INDONESIA” atau “PERNAK PERNIK INDONESIA” atau apalah. itu baru namanya bisnis yang bagus, gak mendompleng popularitas kelompok tertentu. dan kalau memang ada toko seperti itu dengan harga terjangkau, gue akan senang sekali!

    Kalau orang jualan bendera di bulan agustus, atau kaos bulutangkis/sepakbola bertuliskan Indonesia, ya silakan saja. dia independen kok, gak membawa institusi tertentu. produksi sendiri, jualan sendiri, untung sendiri dan rugi sendiri.

    gue sempet posting tulisan di bawah ini di multiply Felix Dass, mudah2an bisa jadi pertimbangan:

    “Sekedar memberikan ide. Kalau memang benar keuntungannya untuk sesuatu yang berguna buat bangsa ini. Tapi kalau keuntungannya untuk kantong pribadi ya gak usah diikutin saran gue.

    Menyewa kios ukuran 2,7×2,7 di ITC Kuningan sangat mahal. Antara 40-70 juta rupiah per tahun. Tergantung lokasi. Belum lagi service charge dan listrik yang bisa mencapai 1,5-2 juta per bulan. Gaji pegawai antara 600-800 ribu per bulan per orang.

    Apakah bisa income per hari lebih dari 1 juta? kalau gak mencapai target, bisa2 kejar target buat nutup operasional atau kerugian saja, nilai charity-nya boro2 terlaksana.

    Mendingan jualan online! ini paling bagus. misalnya jual kaos satunya Ro 50.000. Modal kaos (ya gak usah ditutup-tutupin lagi, karena kita semua tahu modal bikin kaos) antara 30-35 ribu per kaos. 5 ribu ongkos kirim dalam kota. sisa 10 ribunya buat charity. Gak pake keringet, gak pake ketar ketir gimana caranya bayar service charge dan pegawai bulan depan. tinggal jalan ke TIKI terdekat dari rumah lo. everybody happy.

    tapi kalo niatnya untuk menguntungkan diri sendiri, ya silakan saja. kalau perlu buka di Grand Indonesia dan Pondok Indah Mall sekalian. Nanggung kalo cuma di ITC Kuningan. Asal tahu saja, jualan di ITC Kuningan tidak seramai parkirannya. hahahaha…”

    Reply

  17. berlagakgangster Says:

    yah, namanya nasionalisme sih untuk konsumsi semua rakyat. klo rakyat kecil punya kaos tulisan indonesia yg gak bermerek dan dibeli dengan harga 15ribu perak, dan orang2 wangi ac punya kaos indonesiaunite harga puluhan ribu.. gw mah udah gak percaya lah sm bla ble blo nasionalis tai kucing.. karena ujung2nya emang pasti duit. sorry yah, bukannya gw menuduh klo orientasi kalian profit. gw justru gak ngomongin tentang harga menchandise indonesiaunite dijual di mana dan dijual berapa. menurut gw, itu adalah produk yang lo keluarkan, label yang lo buat, dan lo berhak2 aja jual harga berapa aja. tapi oom, jangan karena lg tren aja lo bikin label ini, atau lo gembar gembor ngomong nasionalisme bla ble blo tapi akhirannya lo jualan kaos. jelas aja orang pada ngamuk2.. karena akhirnya lo akan terlihat seperti orang yang mencari fame, untuk fortune. cuma salah langkah aja. hahahahaha…

    Reply

  18. @willjonz Says:

    wow..
    seru sekali.

    halo bapak pandji… pa kabar bro.
    halo juga bung felix…
    gk nyangka kita reunian bertiga disini.
    mau ikutan bercuap-cuap dikit nih… mungkin sedikiiiit aja memberikan sudut pandang lain.
    mengingat bung felix terinsipari dari tweet kecil gw soal merchandise #indoensiaunite.

    jadi..
    memang betul apabila mengkomersilkan nasionalisme itu sah-sah saja. seperti si penjual kaos dipertandingan bola, atau pertandingan2 timnas kita lainnya.

    yang saya mau tekankan disini adalah, sejauh mana teman-teman semua melihat INDONESIAUNITE? apakah sebagai sebuah bentuk nasionalisme, atau lebih dari itu sebagai sebuah GERAKAN..?

    jujur aja, gw sangat tertarik pada INDONESIAUNITE….sebagai sebuah konsep gerakan. dan layaknya sebuah gerakan… harus diarahkan, jangan kemudian bebas mengarah kemana setiap individu merasa itu benar. bukan berarti membatasi, namun biar tidak disalahkgunakan, atau….lebih tepatnya biar jadi lebih maksimal.

    contoh salah ya seperti kejadian dikaskus kemarin ketika mengcounterattack malaysia dengan embel-embel indoensiaunite. sayang khan.

    nah..
    dalam konteks merchandise #indonesiaunite…
    seperti tweet saya waktu itu… kurang lebihnya adalah “apakah memungkinkan kalau merchandise GERAKAN INDONESIAUNITE memberikan sedikit banyak profitnya untuk “give back” pada indonesia sendiri? untuk amal lah…
    contoh bagus dari pandji buat RBTnya… salute boy.

    mas iman sudah memberitau saya bahwa akan ada profit yg disumbangkan.

    namun gimana dengan yg lainnya?
    wajar juga kalau banyak yg merasa tidak nyaman, ketika banyak pihak/brand yg mengatasnamakan nasionalisme, berlomba mengambil keuntungan tanpa melakukan “give back”.
    coba bayangkan kalau merchandise ini memang juga dijadikan bagian dari gerakan yg aktif, tidak lagi sekedar “branding” yg tiada henti. saya yakin, teman-teman juga akan lebih semangat membeli merchandise #indonesiaunite.

    Bisnis clothing-merchandise kaos- bisnis yg sangat mengiurkan. ratusan teman saya menjadi miliuner. masalahnya bukan saya tidak mau membayangkan Mas IMAN jadi miliuner, tapi coba bayangkan besarnya sumbangan yg bisa dihasilkan. lumayan buat disumbangkan pada keluarga korban bom JW-Ritz. bukankah kejadian itu juga yg mengumpulkan kita dan ribuan orang indonesia lainnya dalam indonesiaunite?

    bagaimana? memungkinkan gak sih?
    saya melihat INDONESIAUNITE sebagai sebuah gerakan… bukan sekedar nama yg mengingatkan kita sebagai bangsa indonesia saja.
    mungkin sudah saatnya ditata lebih serius untuk hasil yg lebih maksimal?

    gw siap bantu boy… AMDG deh.

    btw, teman-teman, tlg jangan menjudge orang-orang yg berkomentar bahwa mereka cuma ngomong dan tidak melakukan apapun. mungkin saja, mereka sudah melakukan tapi memang tidak terpublish.

    Reply

  19. Miss Says:

    Dari semua komen yg super puanjang di atas, komen gw singkat aja. Gw setuju ma pendapat lo Ndji…!

    Itu namanya realistis, dibalik kebaikan pasti akan ada kebaikan (memang sudah sepantasnya!). In one way or another, a goodness will be repayed by another goodness (like u said) :)

    Viva la IndonesiaUnite!

    Reply

  20. agu tri Says:

    dari tdi mantengin comment2 di atas, mw ikutan comment jg bngung eh, tiba2 ada ide muncul….
    setelah gw baca, smw masalahin knp toko #indonesiaunite, ywda klo gitu namae diganti ae toko INDONESIA tp d dlmna ngejual bbrapa merchandise #INDONESIAUNITE…
    gmn??
    masuk gak saran gw??

    Reply

  21. albarn Says:

    @ agu tri..

    gw sempet belajar ttg branding di dunia design……
    CMIIW warna,nama,logo itu bisa kita patenkan,dan ada hukumnya bila di salah gunakan
    utk #indonesiaunite sendiri gw ga tau udeh di paten kan pa belon…..
    kalo toko #indonesiaunite bakal banyak yg ga setuju ……
    apa lagi toko indonesia yg notabenanya adalah nama suatu negara :)

    pendapat gw sih boleh ngejual pernak pernik #indonesiaunite atau indonesia ,dan harus ada aturan yg jelas sampai dimana nama2 itu bisa di pergunakan…

    buat gw tampa aturan yg jelas,apapun bentuknya akan kacau…..
    “(tidak sperti banyak orang yg ngomong doang tanpa realisasi)” menanggapi ini gw rasa pas 17 agustus kemaren gw berjanji “lebih berusaha mentaati peraturan “…….

    wassalam

    Reply

    • agu tri Says:

      tu kan gerakan yg masiv, katae c gak bakal dipatenkan….
      gak tw lg yg d jakarta sono mwnya gmn, klo dipatenkanya jadi aneh donk…
      trus siapa yang megang hak patennya??
      katae gerakan masiv, dan smw org uda ikut gerakan ini??

      Reply

  22. albarn Says:

    @ agu tri

    sejujurnya gw ga bisa ngejawab apa yg lo tanyain,dan itu juga pertanyaan yg ada di kepala gw…..
    mungkin ada bagusnya kalo di tanya ke #indonesiaunite nya….

    tapi pendapat gw pribadi tetep harus ada dasar hukum atau aturannya agar ga terjadi penyalahgunaan …….

    Reply

  23. Nanang Librianto Says:

    akan lebih baik lagi kalo, keuntungan nya gak buat individu aja, tapi untuk kepentingan indonesiaunite, karena bagaimanapun tujuan awal gerakan ini dah sangat bagus ( saya dukung, banget ).
    Tapi ya kembali ke kamu nji, karena kamu adalah pelopor gerakan ini, jadi ya, komersil boleh, asal komersil untuk tujuan yang bener, jangan komersil untuk tujuan keuntungan pribadi, wah itu dah salah kaprah.

    WAROX,

    Reply

  24. Joni Says:

    coba ditanyakeun lagi ke yang mau buka di ITC (individu atau kelompok sama saja toh akhirnya berbicara bisnis). Apakah mereka bener mau pure buat nasionalisme atau numpang nasionalisme untuk memperkaya diri sendiri atau dua2nya? coba dikasih jawaban jujurnya…
    karena kalau dipakai buat diri sendiri, koar koar ribuan IU akan terasa mubazir dan sepertinya ada azas aji mumpung dan opportunis. Tapi kalau buat tujuan Indonesia secara umum sih gua dukung habis2an…

    Reply

  25. @imansjafei Says:

    Ide toko gw ini :

    1. Namanya bukan hanya #indonesiaunite store… cuma gw bakal bawak #indonesiaunite karna emg gw jual barang #indonesiaunite

    2. Niatnya gak cari untung, bahkan kalo diitung itung, lebih untung gw kalo jualan online di kaskus ato FB. kebetulan aja temen gw ada yg tergerak buat kerjasama dalam hal kios di ITC, jd gw pikir org bisa lebih mudah dapetin kaos2 #IU

    3.Kalaupun ada keuntungan yang gw ambil, itu semata2 buat kompensasi “pemerasan” ide gw buat desain dan manajemen dan juga kompensasi tenaga gw buat operasionalnya.

    4.Gak usah ditanya atau dituntut, gw udah pasti menyisihkan hasil penjualan buat kegiatan sosial yang diadakan atas nama gerakan #indonesiaunite. bahkan gw ngitungnya dari penjualan satu kaos.

    5.Gw juga membuka kesempatan bagi kawan2 yg lain kalo ada yang mau mengajukan desain atau bahkan menitipkan barangnya. Ya tentu saja ada konsinyasinya lah walaupun gak bakal terlalu ribet kalo gw mah.

    sebenarnya gw berpendapat memang gak ada salahnya kalo kita menjual nasionalisme untuk kepentingan pribadi karena intinya negara ini kan punya kita semua, jadi ya gak salah dong kalo kita memanfaatkannya. TAPI, untuk gerakan gw kali ini, SUMPAH gw gak ada niat menjual nasionalisme demi kepentingan pribadi gw. terserah pada mau percaya apa nggak.hehe.atau kalo ada yg mau main2 dan audit2 ntar kalo toko udah buka,ya gw persilahkan aja.hehehe

    jadi maaf kalo udah bikin sodara2 gerah, marah, ngamuk2, dan mengumpat2 kotor di bulan puasa ini..hehe.

    I’ll keep my idea stay STRONG and stay TRUE.

    Reply

  26. Joni Says:

    OK deh mas iman, semoga yang di atas mencatat semua amal perbuatan (dan termasuk dosanya juga kalau boong) hehehhe

    Reply

  27. @imansjafei Says:

    Sip Mas Joni. Mudah2an Tuhan selalu membimbing saya dan kita semua di jalan yang benar. Amin.

    Reply

  28. Muhammad Shidqy Says:

    @dedi (karena menyebut nama saya), @naufal fileindi (yg abis terlibat perdebatan sama Dedi), @imansjafei (yg lg diomongin), @all (yg lagi sama2 brainstorming di forum ini, saya mau nyoba keluarin pendapat saya yang belom tentu benar, karena semua relatif:

    1. @nanang Librianto: kayaknya lo salah kalau bilang Pandji sebagai pelopor gerakan ini, karena sepanjang informasi yang gw ikutin dan gw terima, Pandji sama sekali gak pernah mengakui ke siapapun (apalagi media) kalau dia adalah pelopor #indonesiaunite. Buktinya adalah, silahkan liat wawancara2 yg pernah dilakuin sama tv2 kita, bukan hanya Pandji yang jadi pembicara buat #indonesiaunite, ada orang2 lainnya, dan mereka juga tidak pernah menyebutkan siapakah pelopornya. Walaupun itu yang selalu ditanyakan di setiap sesi wawancara.

    2. Kayaknya kalau kita ikutin dan perhatiin, dari awal banget topic #indonesiaunite keluar di twitter sampai akhirnya jadi gede kayak gini, selalu diomongin kalau #indonesiaunite punya semua orang, dan semua orang bebas memakai nama ini asalkan tujuannya menyebarluaskan gerakan ini.

    3. Gw sih kurang melihat ini sebagai gerakan, gw cuma ngeliat #indonesiaunite sebagai “kata” yang bikin kita ‘sedikit’ atau ‘banyak’ jadi kayak kesindir atau diingatkan kembali soal nasionalisme. Memang kalau menurut gw, #indonesiaunite selalu memprovokasi kita buat menunjukkan rasa nasionalisme kita ke semua orang, melalui hal2 ‘nyata’ dan bisa ‘kelihatan’ sama semua orang, kayak masang bendera merah putih di rumah, mobil, motor, dan kendaraan lo. Tapi mau atau nggak kita ngelakuinnya kan balik ke diri masing2, gak pernah ada paksaan. Gak pernah ada paksaan lo HARUS masang bendera merah putih, gak ada paksaan lo HARUS menuliskan #indonesiaunite di setiap tweet yang lo tulis, gak ada paksaan juga lo HARUS beli kaos yang ada tulisan #indonesiaunite atau “INDONESIA BERSATU” atau “KAMI TIDAK TAKUT”. Semua dilakuin berdasarkan kemauan dan kesadaran masing2, tanpa paksaan. Kalaupun ada paksaan, terserah diri lo masing2 juga kan mau ngelakuin apa nggak, toh gak ada hukuman atau sangsinya.

    4. Masalah kaos, sticker, pin, atau apapun bentuk merchandise lainnya, Ini emang jadi masalah yang akan selalu muncul. Bagi para pegiat Multiply mungkin masih inget kejadian heboh2 begini sekitan 1-2 tahun yang lalu. Masih inget kejadiannya Mas Iwan Esjepe dan Idah (istrinya) yang ngebikin kayak semacem suatu gerakan bernama “INDONESIA BERTINDAK” ?? menurut gw kasusnya hampir sama kayak gini, banyak yang bilang di mengkomersilkan gerakan Indonesia Bertindak,banyak yg bilang mas Iwan ini mau kayak dari jualan kaos dan merchandise, ada yg bilang kalau ini cuma strategi dia aja biar biro iklan tempat dia bekerja jadi laku, dsb. tapi waktu ngomong langsung sama orangnya waktu dulu radio tempat gw bekerja lagi ada interview dia bilang, terserahlah orang mau ngomong apa, yang penting niat saya baik, dan saya gak perlu itung2an. Orang2 itu juga gak tau kan udah berapa puluh ribu sticker yang saya bikin dan saya sebarkan?? apa itu gak pake uang??
    gw ngambil contoh ini bukan dengan maksud mau ngebanding2in atau gimana, cuma menurut gw kasusnya hampir sama. Dan mungkin bisa kita jadiin pelajaran, toh buktinya, gerakan itu masih berjalan sampai sekarang. Lagian apa yang salah coba dengan gerakan macam Indonesia Betindak dan #indonesiaunite ini?? bukannya justru bagus ya? terserah sih lo mau mikir gimana, kalo gw sih seneng2 aja kalau semakin banyak orang indonesia yang bangga sama negaranya.

    5. Kalau sampai dipatenkan atau selanjutnya, gw gak begitu tau yah, cuma agak aneh aja kalo sampe ada orang yang mau ngelakuin itu. karena dari awal udah dikatakan kalau #indonesiaunite tuh punya semua orang, dan semua orang bebas dan buat menyebarluaskannya dengan cara apapun. Bahkan Pandji selalu bilang, “jangan cuma nanya di mana bisa beli kaos indonesiaunite atau KTK, kenapa gak lo bikin sendiri dan disebarin??”. Secara nggak langsung dia dan yang lainnya udah bilang, silahkan aja kalo lo mau bikin kaos atau pin atau yang lainnya, justru malah bagus, dengan begitu gerakan #indonesiaunite semakin berkembang dan tersebar. Gw gak kebayang kalaupun #indonesiaunite mau dipatenkan dengan tujuan komersil, gw yakin si empunya paten akan kebingungan buat nagihin duit karena dia yg punya hak ciptanya, karena pas gw kemaren jalan2 ke bandung dan pas ada pameran clothing di seberang toko Kartika Sari, ada puluhan outlet yang bikin kaos dengan tulisan KAMI TIDAK TAKUT dan #indonesiaunite. Itu baru di satu tempat, belom se-kota bandung, belom yang di jakarta, semarang, medan, dan kota2 lainnya. Kalaupun mau dibawa ke pengadilan, dia pasti akan bingung buat menghadiri SEMUA sidang pengadilannya karena keterbatasan waktu. Jadi kalau ada yang protes karena ada orang yang bikin toko dengan tulisan #indonesiaunite, kenapa lo gak bikin juga?? gak usah ngiri sama @imansjafei karena dia dipromosiin sama Pandji, lo tinggal bilang aja ke dia, gw YAKIN dia pasti akan promosiin toko lo juga kok! seperti yang dia lakukan dengan twitternya pas waktu awal2 ide bikin kaos #indonesiaunite muncul, Pandji me-RT semua tweet yang menjual kaos itu. Gampangkan??

    Reply

  29. Vico Says:

    Kita kan g ikut modalin usaha mas Iman, masa kita protes IU dijadikan keuntungan
    lagi pula sudah banyak toko2 yang menjual kaos2 IU atau Kami Tidak Takut, cuma g secara langsung ditulis “menjual kaos #INDONESIAUNITE”
    gw yakin #INDONESIAUNITE milik bersama

    Reply

  30. dian Says:

    iku nimbrung walo uda agak telat.

    mas pandji, saya termasuk yg suka baca tulisan mas pandji di blog ini (twitternya nanti deh saya follow juga, hehe)

    cuma mau bilang, mas pandji maju aja terus. mungkin byk yg yg gak suka aksi mas pandji, tp jgn lupa kalo byk yg ngedukung juga. opini yg gak suka dijadikan bahan intropeksi aja, kali emang ada yg salah, tapi bukan berarti kita harus ngebalikin orang2 yg gak suka jadi suka sama kita kan. because no matter how hard we try, we just cant please everyone. jadi kenapa gak lebih fokus sama orang2 yg ngedukung kita aja, selama apa yg mas pandji lakuin itu benar (yang ukurannya relatif itu).

    ada orang yg skeptis sama aksi2 orang. kalo saya cenderung skeptis sama orang2 skeptis itu.
    apa aksi #indonesiaunite ini ngerugiin orang? apa penjualan merchandise, lagu2, dll nya itu ngerugiin orang?
    dan kebalikannya, apa ada impact yg baik dari smua aksi, merchandise, lagu2 itu?
    liat hasil2 nyatanya ajalah, klo ada yg sedih karena ngerasa nasionalisme dikomersilkan, ya itu urusan dia dan perasaannya aja. coba tanya, apa mas pandji bner2 ngerugiin secara nyata seperti ngambil hak2 orang gitu misalnya.

    kalo saya sih lebih ngeliat apa yg dilakukan #indonesiaunite bisa ngebangkitin nasionalisme karena ada penyalurannya. kalo nasionalisme cuma bisa disalurkan tiap nonton bola mah kan gak smua orang bisa nonton bola di stadion ato di tipi ato malah gak suka bola sekalian.
    kalo lagu, setidaknya kalo kita suka, kita bisa nyanyiin itu setiap hari.
    jadi kalo saya sih bertermakasih atas inisiatif mas pandji bkin #indonesiaunite sebagai penyaluran nasionalisme yg lebih ‘mendarat’ dan bisa dinikmati (oke saya gak pake kata ‘semua’) lebih banyak orang.

    saya percaya mas pandji punya idealisme, apalagi uda disebarluaskan gini pasti tanggungjawab sama idealisme makin besar, jadi jangan sedih2 lah, yakin aja selama yang dilakuin ini bermanfaat buat orang lain.
    kalo masi ada yg ngerasa ini itu gak suka, gak percaya, ya gpp. toh semua orang itu beda2 karakternya, pemikirannya, caranya, gak bisa saling dipaksakan sama, tapi malah dituntut saling menghargai aja, even itu kenal dan gak kenal. yg beda pendapat silahkan disampaikan gak pake emosi dan ngotot, dan sama pendapat yuk mari jalan sama2.
    ya gak sih..?

    *ini IMHO aja, klo ada yg gak suka juga monggo. namanya juga hak bersuara kan..hehehe..

    Reply

  31. Fitorio Says:

    Hmm.. kalo gw boleh sedikit beranalisa dengan segala azas kemungkinan nih

    Bom Marriot II meledak —-> Muncul gerakan Indonesia Unite —-> Dapat respon yang sangat bagus —-> Banyak orang yang mengikutinya atas nama kepedulian kepada bangsa, atas nama nasionalisme —-> Nasionalisme = Beda dari orang kebanyakan = Identitas diri = Eksistensi —-> Ada orang yang mengkomersialkan —-> Kemungkinan banyak orang yang akan bisa mengakses identitas diri yang sama, yaitu “kesan nasionalisme” —-> Sudah tidak beda lagi = Tidak spesial lagi —-> Ada yang pro dan kontra

    Buat gw, mau ada atau tidak gerakan IU ini, indonesia tetap bangsa, tumpah darah, dan tanah air gw,
    Mau ada yang jualan kaos IU di ITC atau nggak, gw tetap gak akan rela patok perbatasan kita dimundurkan oleh negara tetangga

    IU hanyalah produk, kalaupun IU sudah basi, sudah gak laku, lalu ada panggilan wajib militer ketika negara diserang, apa sikap lo?

    Reply

  32. free ads cars Says:

    Very great post. I simply stumbled upon your blog and wished to mention that I’ve really loved surfing around your blog posts. After all I’ll be subscribing to your rss feed and I hope you write once more very soon!

    Reply

Trackbacks/Pingbacks

  1. Great website…

    [...]we like to honor many other internet sites on the web, even if they aren’t linked to us, by linking to them. Under are some webpages worth checking out[...]……

  2. Sites of interest we have a link to…

    usually posts some very interesting stuff like this. If you’re new to this site…

  3. Great website…

    [...]we like to honor many other internet sites on the web, even if they aren’t linked to us, by linking to them. Under are some webpages worth checking out[...]……

  4. You should check this out…

    [...] Wonderful story, reckoned we could combine a few unrelated data, nevertheless really worth taking a look, whoa did one learn about Mid East has got more problerms as well [...]……

  5. Everything about home…

    Here you can find everything you want about transportation….

  6. check below, are some totally unrelated websites to ours, however, they are most trustworthy sources that we use…

    one of our visitors recently recommended the following website…

Leave a Reply