Nasionalisme buta, udah ada dari dulu, sama bahayanya sejak dulu
Bokap gue cerita, dulu, Nasionalisme buta “lebih blo’on dan ga masuk akal”
Minjem istilah beliau
Katanya, dulu kalau ada 3 cewe jalan bareng; yang satu baju merah, yang satu baju putih dan yang satu baju biru, mereka ditangkap dan dianggap mata mata
YEeukkhh..
Aneh amattt.
Hari ini, Indonesia bergerak.
Pemicunya #indonesiaunite
Bukan, ini bukanlah gerakan online, tapi memang harus diakui, gerakan ini dimulai dari internet.
Hari ini, Indonesia bergerak.
Gerakannya serempak ke segala arah.
Setiap orang, berkarya untuk Indonesia. Atas nama #indonesiaunite.
Semua orang bereaksi.
Ada yang smangat.
Ada yang skeptis.
Ada yang berusaha untuk terus realistis.
Beberapa hari yang lalu, ada kritik yang menyatakan bahwa seharusnya, gue, orang yang dibilang membakar semangat orang orang, harus memakai 100% barang Indonesia.
Lalu, gue termenung…
Itukah makna #indonesiaunite?
Haruskah dukungan gue membuat gue seperti itu?
Maka gue lempar pertanyaan ke twitter dan opini mereka membuat gue semakin kaya akan pendapat.
Beberapa pendapatnya:
RT @endihamid: TIDAK. Mdukung #indonesiaunite tidak membuat gw kehilangan kebebasan memilih
RT @ma6ma:membeli & memakai produk indonesia = mendukung perekonomian indonesia = meningkatkan pendapatan indonesia = meningkatkan kesej …
RT@namasayayudi:hanya beli produk lokal? no way. yang bener adalah menggunakan produk yang terbaik untuk membangun bangsa. harus objektif
RT@byto:menurut gue itu nasionalisme buta. Kita kn pny hak utk memilih yg terbaik. Kalau produk lokalnya lbh berkualitas sih apa salahnya
RT @hirokuhiromu: g harus, kalo yg luar msh lbh baik. Knp g? Mending ATM aja. Amati,tiru,m0difikasi. Biar produk indonesia g kalah saing.
RT @diyswara: bukan hanya membeli tapi harus bangga mengunakanya…terus Promosi ke sapa aja…kapan aja…dimana aja…#indonesiaunite
RT @anggity: pake sepatu lokal,tas lokal,bisa ganti-ganti tiap hari dibanding tas,sepatu impor yg cuma dapet satu biji #indonesiaunite
RT @namasayayudi: 1. tarik investor; 2. tingkatkan kinerja; 3. tingkatkan kualitas; baru produk lokal bisa bersaing
SDM generally
RT @oemarishaq:kadang kt pake brand luar bkn krn kualitasnya tp sekdr krn prestise. stop it. kl prod lokal berkualitas, use it w/ pride!
RT @adhityamulya:here’s one. 1 kg kopi petani ekspor bisa cuman dpt USD 5 dolar devisa msk. Orang kota bli sbux 3 cangkiran, devisa keluar.
RT@adhityamulya:kita ekspor kain garmen berapa bal dptnya ga seberapa.Kita bli sehelai baju impor mahal bener. Bisa ga imbang. Yg gini2 lho.
Seperti juga yang pernah gue tweet, gue bilang bahwa
“Pada akhirnya kita yang akan memutuskan apa yang terbaik untuk diri kita sendiri, tapi tidak tanpa mendengar apa yang orang lain harus katakan”
Maka gue menyarankan ketika kita memiliki sebuah opini kuat terhadap sesuatu, buka dulu kuping kita untuk masukan dari orang lain. Itu akan memperkuat opini final kita. Apapun itu. Jangan bimbang tapi, pastikan elo mengambil keputusan.
Gue memutuskan:
Tidak 100% pake barang Indonesia.
Sudut pandang gue adalah dari seorang desainer produk/pengusaha.
Bagi gue ga adil kalau produk gue kalah bersaing, tidak dibeli orang, karena gue dilarang jualan oleh negara itu. Bukan karena produk gue buruk.
Bayangkan, sebagai orang Indonesia, gue menyimpan obsesi utk membuka toko REF Basketball Clothing di seluruh dunia.
Betapa sedihnya gue kalau produk gue ga bisa dijual disebuah negara karena gue orang Indonesia.
Kalau mau bersaing ya dari sisi produk, jangan menyunat gue.
Sama halnya dengan kita di Indonesia.
Rasanya persaingannya ga sehat kalau seperti itu dan pada akhirnya, ga mendidik juga.
Gue lebih senang Indonesia bersaing sehat.
Produk terbaik akan menang.
Untuk menang, Indonesia harus cerdas.
Kita harus tau bagaimana cara bersaing. Memang, kebanyakan perusahaan di Indonesia hanya bisa AT (amati-tiru) tanpa modifikasi.
Modifikasi adalah bagian yang terpenting, terutama supaya ga kena cap nyontek
Modifikasi akan memasukkan unsur kesesuai-an dengan pasar.
Sesuai…
Kata yang aneh. Se.. Su.. Ai.
ANYWAAAAYYY
(sori konsentrasi pecah)
Pada akhirnya, gue akan selalu inget ucapan bokap gue.
“Its not the gun, its the man behind the gun”
Jangan liat bendanya merk apa, atau datang dari negara mana, liat apa yang digunakan dari benda tersebut.
Bayangkan aja, anak anak UNIKOM yang juara dunia robotik itu selama kuliah pake komputer merk dari mana? Tapi liat mereka, membanggakan nama Indonesia.
Disaat dunia berasumsi yang jago robot pasti Jepang atau Cina (juara dunia sebelumnya) tim Indonesia MENANG JUARA DUNIA.
Bayangkan, youtube dan twitter! Siapa yang bikin dan punya coba, tapi liat hasilnya untuk generasi muda Indonesia terutama.
Lagu KAMI TIDAK TAKUT yang elo suka? Gue ga yakin dengan pasti tapi semua alat pendukung dari mic sampai ke mixer bukan buatan Indonesia, tapi yang pentingkan apa yang gue lakukan dengan alat itu.
Dari sana, lahir lagu YOU THINK YOU KNOW (INDONESIA), UNTUK INDONESIA, KAMI TIDAK TAKUT, GBK…
Gue sangat terinspirasi oleh Gandhi.
Dia melepas semua baju buatan inggrisnya dan hanya pakai kain asli India.
Dia jalan suangat jauh untuk bikin garam dari lautnya India karena saat itu garam di monopoli pemerintah Inggris.
Tapi dia adalah hasil pendidikan universitas Inggris.
Seorang pengacara.
Bahasa inggrisnya juga sangat sangat inggris santun.
Pada satu masa dalam hidupnya, diapun merasakan keuntungan merasakan sesuatu yang tidak asli dari negrinya.
Pendidikannya, adalah pendidikan inggris.
Tapi yang penting adalah, dengan pendidikan itu, apa yang dia berikan untuk negaranya
Sekarang pertanyaan gue: Sebutkan pahlawan Indonesia yang sekolahnya di Belanda! Siapa aja ayooo?
![]()











July 29th, 2009 at 9:51 am
Setuju lah! Tapi mudah2an anak muda kreatif dan berbakat kita juga nggak cuma ingin dan bangga kerja di perusahaan besar milik luar negeri aja, soalnya kalo begitu sampe kiamat juga dunia usaha lokal nggak bakal maju-maju, orang yang punya bakat maunya keluar negeri, yang disini tinggal ampasnya doang, nanti malah terus aja produk mereka AT tanpa M.
menjawab pertanyaan : Sutan sjahrir, Muhammad Hatta, dan banyak lagi…sebagian kayanya nggap dianggap pahlawan karena masuk ranah komunis…atau musuhan dengan Bapak yang Dielu-elukan itu…
July 29th, 2009 at 10:01 am
Aaahh biasa itu mas..banyak yg menginginkan sesuatu yang besar tanpa inget bahwa sesuatu yang besar berawal dr yg kecil. Jadi suka kelewat sama hal2 kecil yang sebenernya gampang dan bisa dilakukan untuk Indonesia.
July 29th, 2009 at 10:14 am
Hihihi.. gua stuju banget sama lo nji, yapp..yang terpenting adalah output nya, klo smua harus pure 100% made in indonesia, mnurut gua bakal susah dan akan sangat lama untuk bisa mengejar ketertinggalan dgn negara2 lain…
“ATM” (Amati, Tiru, Modifikasi) yeahhh..gua stuju juga nih, hehehe..ngomong2 theme wordpress buat web lo ini pun mengadopsi “ATM” itu, ini aslinya http://www.woothemes.com/demo/?t=6
yeahh..apapun itu, sekali lagi yang terpenting adalah output nya, terserah mo proses nya gimana
Cheers!
menjawab pertanyaan lu: gua taunya cuma Muhammad Hatta man yg skolah di belanda, huehuehue…
July 29th, 2009 at 10:29 am
gw tau…gw tau….acung…acung…..hm….Bung Hatta…dy pernah sekolah di Handels Hoge School di Rotterdam tahun 1921…terus sapa lagi yah?aduh kayaknya lumayan banyak deh pahlawan Indonesia yang “ngelmu” di luar teritori negara tercinta kita ini…hm…ga hapal sih…tapi mungkin beberapa bisa gw sebut selain proklamator kita Bung Hatta, ada H.O.S Tjokroaminoto, Adam Malik, mungkin banyak yang tidak setuju klo gw masukkan nama ini sebagai salah satu pahlawan Indonesia…Tan Malaka…pemikiran-pemikiran jauhnya tentang sebuah republik Indonesia..jauh sebelum proklamasi dikumandangkan dari corong RRI tahun 1945…beliau menulis sebuah buku yang berjudul MADILOG (materialisme, dialektika,logika)..
Buku ini mengajak dan mengajarkan bangsa Indonesia untuk berpikir secara ilmiah bukan secara hafalan atau contek-abis-buku-teks-lo..Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti.
yah…jadi penjabaran sejarah deh…tapi merujuk dengan tulisan lo diatas ji…gw setuju…ilmu boleh produk luar tapi itu kita pakai untuk mensejahterakan bangsa sendiri (bukan menindas)..kan ada Hadist dari seorang Nabi besar “tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina”..jadi kenapa harus merasa mengkhianati bangsa sendiri karena kita bkerja/belajar di dan dari negeri orang…toh prestasi yang kita capai nantinya untuk harumnya nama Indonesia juga ko…
July 29th, 2009 at 11:23 am
Setuju banget… memang menyakitkan.. tapi Indonesia harus mulai menjadi bangsa yang lebih cerdas untuk memenangkan persaingan.
Rakyat Indo 230 juta dan potensi pasarnya amat sangat besar, tapi hanya berapa persen yang sering pakai produk lokal, karena dianggap produk Indo berkualitas buruk, tdk tahan lama, dll? Kalo produsen2 Indo bisa mementahkan itu semua, gua rasa Indo akan jadi negara yang jauh lebih sejahtera. Apalagi Pemerintah sudah melakukan proteksi dengan penetapan bea impor yang lumayan tinggi untuk produk2 yang sebenarnya bisa dibuat di Indo. Tinggal pemberantasan korupsinya jalan terus (di pihak2 yang berhubungan dgn impor barang), produsen2 Indo bisa ambil keuntungan dr bea impor tinggi itu kan…
soal kita harus selalu pakai produk lokal, memang balik lagi ke kualitas produk dan apa bisa memenuhi needs and wants kita (teori marketing neehh) hehe… kalo memang belum bisa, ngapain dipaksakan?
July 29th, 2009 at 11:24 am
Semua orang gak perlu 100% indonesia. I never actually said that if you notice. Dalam twitter gue juga gak pernah bilang semua orang harus 100%. Gak mungkin lah 100%, kita belum maju. Kita juga gak bisa menghalangi free trade dan global commerce. Kalo iya, Indonesia akan dikucilkan oleh semua negara karena mau enaknya aja. Tambahan lagi, kita juga gak berhak mengontrol bagaimana pola konsumsi individu. Tapi sebagai individu, tentunya kita bisa milih dan mencermati, pola konsumsi mana yang menggerus devisa negara dan pola mana yang membantu negara.
Coba liatnya dari sudut pandang sebuah negara. Mungkin postingan gue di sini bisa memberi insight tentang apa yang gue bicarakan di sini. http://suamigila.com/2009/07/28/devisa/#comments
ps: baru dikasih tau istri bahwa elu temennya rini codetz ya? Weleh dia adek ipar gue.
July 29th, 2009 at 2:21 pm
Inspiring!
Gw setuju dengan pemikiran lo.
Memang kalo ngomongin nasionalisme pasti bakal banyak celetukan pertanyaan2 yang nyangkut nasionalisme buta, entah penceletuknya memang ngga paham dalam arti ngga bisa melihat permasalahan secara lebih menyeluruh, atau hanya semata2 skeptis dan sinis (yg berarti sebenernya paham, tapi ngga suka aja).
Gw setuju, it’s not about WHAT we use, it’s about WHAT WE CAN DO & GIVE BACK if we use it. For your country, or simply for the people you care the most.
#indonesiaunite
July 29th, 2009 at 2:23 pm
Gw ga reply di twitter karena jawaban gw pasti lebih dari 140 char. :p
Abang gw sekarang kerjanya membuat baju chef – mulai dari resto baru buka sampai “celeb” chef (Chef Tatang, Ragil, etc). Awal kerjanya dari istrinya yg kerja di perusahaan yg mengimport baju chef. Dari situ timbul ide untuk buat baju Chef sesuai dengan permintaan. Sampai sekarang, alhamdulillah sudah berjalan 7 tahun dan telah memasok ke hotel2 besar (termasuk Marriott, Ritz-Carlton, Grand Indo, etc). I’d say abang gw dan istri sudah melaksanakan semangat #indonesiaunite banget – amati, tiru, modifikasi. Bahan2-nya Indonesia asli, penjahitnya urang awak (lol), pemasarannya mereka berdua. Dan kalau bukan gara2 baju chef import dari Australia, mereka ga akan punya ide untuk bikin seperti ini. Kualitas? Boleh tanya sama chef2 hotel tersebut – mereka bahkan ada yg bisa ngambek kalo dibeliin baju produsen lain.
Modal? Pertama adalah kartu kredit – produksi luar (visa, master). Tanpa kartu kredit tersebut, mereka ga akan punya modal.
Kesimpulan: Your dad is right. It’s not the gun, it’s the man behind the gun. Atau lokalnya: Baju dimana2 tergantung gantungan.
July 29th, 2009 at 2:36 pm
brati initinya adalah hidup inggris…. hidup MU… hahaha
July 29th, 2009 at 3:21 pm
gw sama kalo lo ndji… memilih karena kualitas dan kualitas brand,, jangan sampe dibutain nasionalisme buta.
afte all, postingan lho sekarang banyak longkap longkap yah… nga enak diliat tapi masih enak dibaca
.. mungkin bisa alternative utak atik CSS nya ndji
July 29th, 2009 at 4:24 pm
Setau gw, ungkapan “Gunakanlah produk dalam negeri” hanya sebuah imbauan. Dan dengan mendukung gerakan #indonesiaunite, menurut gw, gak berarti kebebasan kita untuk memilih dikekang. Kebebasan tetep ada ditangan setiap individu.
Gw kurang setuju kalo orang2 bilang produk lokal mutunya buruk, atau tidak berdaya saing. Kita pasti tau banyak produk luar yang diproduksi di Indonesia. Kenapa mereka masih percaya untuk “maklun” di kita kalo kualitas produk buatan kita buruk?
Masalahnya, menurut gw, ada di mindset orang Indonesia sendiri. Bahwa produk luar kualitasnya pasti lebih bagus dan produk lokal kualitasnya pasti lebih jelek. Sebagian besar dari kita (klo gak semua) beli karena prestise (baca: brand minded). Gw gak munafik, gw sendiri masih berpikiran seperti itu.
Sekarang semua kembali ke kita sendiri. Apa kita mau mendukung produk lokal dengan lebih mengutamakan untuk membeli produk lokal ketimbang produk luar apa engga? Kalo nunggu sampe produk lokalnya bagus dulu kualitasnya, percuma! Kalo produk lokal udah bagus kualitasnya, gak perlu dukungan dari kita. Pasti bisa survive! Justru kita dukung itu sebelum kualitasnya bagus. Kenapa? Logika aja. Kalo produknya laku, produsen pasti untung. Klo untung, modalnya pasti nambah. Kalo modalnya nambah, dia mampu beli peralatan. Kalo udah gitu, produknya pasti berkualitas tinggi. Kalo kualitasnya udah tinggi pasti harganya harus naek dong. Masih mau beli?
Gw coba ambil satu contoh yg gw tau. Pada tau Tomkins? Belum pernah denger? Itu merk sepatu lokal. Perusahaan yang memproduksi Tomkins adalah perusahaan Indonesia yang pernah memproduksi NIKE, FILA, dsb. Apa produk Tomkins kualitasnya buruk? Engga! Walaupun gw gak tau apakah kualitasnya sebagus NIKE. Kalopun engga, menurut gw masuk akal. Kenapa? Apa kalo kualitas Tomkins sama dengan NIKE kita2 bakal beli? Belum tentu juga, kan? Kembali lagi ke “brand minded”. Lebih2 lagi, kalo kualitas Tomkins sama dengan NIKE, pasti HPP nya tinggi, otomatis harga jualnya tinggi. Lebih pada gak mau beli kan? “Masa produk lokal harganya mahal!.” Nanti malah keluar kata2 itu. Ya gak?
Gw jadi mikir, apa baru sampe situ pemahaman kita untuk mendukung Indonesia? Untuk membeli produk lokal, untuk mendukung pariwisata lokal, untuk mendukung apapun supaya Indonesia bisa maju.
Kalo mau ngedukung itu justru saat dukungan itu dibutuhkan. Gw pikir, MU juga tanpa dukungan kalian, taun lalu, tetep bisa juara.
Gw setuju dengan persaingan sehat. Tapi lebih setuju untuk mendukung sesama. Tau Proton kan? Mobil buatan Malaysia itu lho. Proton, kalo gak didukung pemerintahnya, pasti akan hancur sebelum dia bisa berdiri. Tapi karena pemerintahnya memberikan subsidi supaya harga jualnya murah, dan memberlakukan tarif masuk yang tinggi untuk produk luar, mau gak mau rakyat Malaysia beli juga. Sekarang bahkan Proton gak cuman udah bisa berdiri, tapi mereka udah bisa lari2. Udah bisa bikin pabrik di Indonesia.
Kata2 elu diatas “Bagi gue ga adil kalau produk gue kalah bersaing, tidak dibeli orang, karena gue dilarang jualan oleh negara itu. Bukan karena produk gue buruk” udh gak relevan skrg ini. Kita udah mau masuk era Free Trade, dimana negara gak berwenang untuk melarang suatu produk untuk dijual di negaranya. Gak boleh memberlakukan tarif masuk. Perlakukan produk luar dan lokal harus sama. Coba renungkan sejenak apa akibatnya buat negara kita?
Apa jadinya Indonesia ke depan kalo produsen kita yang belum siap ini “digempur” produk asing, yang jelas2 mereka udah siap tempur dalam persaingan? Ngeri..!!
Apakah ada yang bisa kita lakukan? Jangan khawatir. Jawabannya: ADA!
Gak perlu nunggu pemerintah lah. Gak perlu nunggu dipaksa pemerintah lah. Mulailah dari kita sendiri. Mulailah membeli produk dalam negeri!
Skrg gw tanya, apa kita mau membantu produsen lokal (terutama UMKM) kita supaya bisa survive? Mau bikin negera kita hebat? Kalo gak mau, ya itu terserah masing2. Gak ada paksaan, gak ada kekang2an.
Jadi, ANGKAT TANGANMU UNTUK INDONESIA!
PS: Gw bukan karyawan perusahaan TOMKINS, atau apapun. Gw cuman anak negeri yang pengen liat INDONESIA JAYA!
July 29th, 2009 at 8:03 pm
mendukung bukan berarti menjelekkan produk/negara/sesuatu yang lain…
daripada sibuk menjelekkan yang lain,
mendingan sibuk membagusi apa yang kita punya…
*aku reblogged tulisannya ya kaaak
July 29th, 2009 at 9:28 pm
bener dji.
gue suka banget nih ma pemikiran lo.
untuk maju Indonesia harus cerdas!!
gue juga ga bisa koment pa lagi.
yang jelas gue salute sama post ini.
#indonesiaunite
July 29th, 2009 at 10:23 pm
Memang enggak bisa dipaksakan, kalau nasionalisme itu harus 100% produk lokal. Banyak manfaat yang sejujurnya diambil dari produk luar. Dan itu sudah terbukti sejak lama. Selama untuk tujuan mulia memajukan bangsa, hal ini tidak bisa ditolak begitu saja. Yang penting pakai akal sehat saja lah.
July 30th, 2009 at 7:57 am
sedikit masukan dari http://suamigila.com/
mudah2an membantu
#########################
DEVISA
Devisa adalah salah satu faktor yang penting (kalo gak yang terpenting) bagi sebuah negara. Devisa yang kasus kita memakai USD, quite simply bisa dianalogikan sebagai semua tabungan yang sang ayah miliki dalam sebuah keluarga.
Ketika si anak sakit, sang ayah menjebol tabungannya untuk belanja obat. Ketika atap bocor, si ayah keluarkan tabungannya untuk benerin atap.
Ketika anaknya pengen sekolah, ayah bayar SPPnya pake devisa.
Dari mana ayah dapat devisanya? Ada banyak caranya.
Ayah 1, menanam kopi di kebunnya dan di depan rumah bikin gerai kopi. Dia jual capuccino mahal. Untung besar setelah rugi sedikit dari bikin gerai kopinya. Sekalian dia nanem sayur dan piara dan buka gerai burger. Di kebunnya juga ada kayu jati. Di garasi dia bikin mainan kayu dan dia jual mahal mainan itu. Ayah 1 ini menjual barang jadi.
Yaitu harga jual = modal + bahan mentah + keahliannya.
Ayah 2, punya hal yang sama. Dia punya kebun kopi, sapi dan hutan kayu. Tapi dia jual panen biji kopinya. Dia jual panen sayur dan sapinya. Dia jualin kayunya. Tentunya karena semuanya bahan mentah, harga jualmya gak seberapa.
harga jual = bahan mentah.
Ayah 2 jual biji kopi 500 perak 1 kilo ke ayah 1. Di mana 1 kilo bisa bikin 100 cangkir. Ayah 2 kemudian haus dan beli kopi ke ayah 1. harga 1 cangkir 200.
kebayangkan kan betapa ayah 1 makin kaya dan betapa ayah 2 makin miskin tiap harinya?
Betapa tiap harinya, devisa ayah 2 makin menipis sedangkan devisa ayah 1 makin meningkat.
Ayah 2 adalah Indonesia dan ayah 1 adalah negara maju.
Kita sebagai rakyat Indonesia gak bisa menghalangi free trading atau gak bisa menghalangi global commerce. tapi setiap barang impor yang kita beli, sebagian dari duit itu pergi ke negara lain.
Ayah kita adalah negara kita. Dia memegang devisa dalam USD. Kita sebagai rakyat memegang IDR. Sejatinya, kita sebenernya tidak memiliki USD kita secara personal. Maksudnya gini.
kasus 1:
Elo eksport biji kopi, laku USD 1000. kemudian, lu pengen beli motor. USD 1000 lu itu ada di tangan lu, tapi sebenernya itu devisa milik negara. Ini karena setelah lu ekspor kopi, lu gak mungkin memakai USD untuk beli motor kan? makanya lu pasti tukerin USD 1000 ke negara ke rupiah, barulah beli motor.
Di kasus ini, berkat elu, devisa negara bertambah USD 1000. Sebagai tukarannya, negara memberikan elu rupiah 10 juta untuk lu pake.
Kasus 2:
gue menghabiskan 2 juta per bulan beli kopi enak asal (katakanlah perancis) bernama Bax. Enak banget. Yang gue gak sadar adalah, dari 2 juta rupiah itu, katakanlah 1 juta (USD 100) diambil oleh manajemen Bax balik ke negaranya. Apakah negara itu mengambil 1 juta rupiah? gak lah, mana laku rupiah di negara dia. Untuk mengambil 1 juta rupiah itu, Bax tukar 1 jutanya ke negara Indonesia dan dengan terpaksa negara memberikan Bax USD 100. Abis itu, Bax bawa USD 100 itu balik ke negaranya. Di negaranya, USD juga gak laku. Yang laku Euro. Makanya sesampai di Perancis, dia tukarkan USD 100 itu ke euro.
Hasil:
1. Gue bokek 2 juta.
2. Negara berkurang devidanya USD 100.
3. Perancis bertambah kaya USD 100.
4. Bax tambah kaya karena dapet Euro itu.
Dari sini keliatan ada dua bahaya:
1. Indonesia adalah pengekspor bahan mentah. yang mana harganya murah.
2. Indonesia juga mengonsumsi barang jadi yang mahal harganya.
Intinya, di kala petani kita ekspor biji kopi dan garmen, mereka dapet paling cuman USD 1 juta dan menjadi devisa negara. Tapi berapa banyak orang kota minum kopi? beli baju branded? beli sepatu import? konsumsi barang impor kita bisa menggerus devisa yang petani udah susah payah kumpulkan untuk negara.
Kalo kita pengen maju, negara harus punya uangnya/devisanya. Kita komplen pendidikan gak maju. Pemerintah akan meningkatkan pendidikan kalo ada devisa untuk bangun sekolah, lab, etc. Dari mana devisanya? harus lebih banyak orang Indonesia yang buka gerai seperti Bax itu. Di mana saking kerennya, kita yang buka cabang di negara mereka dan menyedot devisa mereka menjadi devisa negara kita.
Intinya apa coba? Kita lah yang harus mulai.
1. Beli produk lokal agar
- devisa negara tidak tergerus.
- murah
- mengurangi pengangguran.
2. Bikin usaha lokal yang menginternasional agar
- bisa ambil devisa negara lain untuk negara kita.
- jadi kaya
- juga menyerap tenaga kerja
Kalo Indonesia miskin, jangan gampang salahin pemerintah. Kita liat dulu pola konsumsi kita. gue gak bilang untuk boikot produk impor. Gue juga gak bilang kita harus pakai 100% produk lokal karena jujur aja, bikin mobil dan lainnya kita belum bisa.
Tapi yang penting ini: gua gak berhak ngatur orang bagaimana mereka harus berkonsumsi. tapi kita semua bisa memilih 1 dari 2 hal:
1. Pola konsumsi yang menggerus devisa negara?
2. Pola konsumsi yang tidak menggerus devisa negara?
dan ingat, devisa negara lah yang membangun subway. Devisa negara lah yang membangun jembatan dan jalan.
Jadi, gue personally, gak akan maki-maki kenapa jakarta gak mampu bikin subway, kalo gue lagi kejebak macet sambil minum kopi brand import.
#####################
July 30th, 2009 at 9:24 am
Ini yg juga gue pikirin, bangsa Indonesia itu ga usah di debat kekayaannya.
Kita punya bahan mentahnya.
Tapi utk menang dalam berbisnis, bukan hanya butuh bahan dasar/mentahnya.
Ada ilmu marketing.
Ada desain.
Orang suka bilang: Beli dong produk Indonesia, orang Nike aja made in Indonesia!
Padahal, bukan itu masalahnya!
Cth: Taukah elo pabrik dan pekerja yang bikin Nike “made in Indonesia” sama dengan yang bikin LEAGUE.
Sebuah merk sepatu olahraga Indonesia.
TEMEN GUE DESAINER PRODUK yang kerja disitu.
Apakah elo beli?
Kenapa?
Wong yang bikin sama kok.
ELo ga beli, karena kekuatan marketing LEAGUE tidak sebesar NIKE.
Temen gue adalah desainer sepatu yang brilian.
Tapi dia sendirian.
Dia muda, dan dia tersibuki oleh begitu banyak jobdesc
But i have tremendous ammount of hope for him
He too, i think, understands that he’s learning.
Belajar dari mana?
Dari kompetitor, dari brand lain, yang notabene lebih maju.
Dia, mempraktekkan ATM, Amati Tiru Modifikasi.
Dia, adalah pahlawan kita.
PS: Beberapa tahun lagi, NIKE akan total berhenti produksi di Indonesia (sekarang mengurangi gradually)
Ketika itu terjadi, semua pabrik dan karyawan yg ngerjain NIKE akan HANYA ngerjain LEAGUE.
Ketika hari itu tiba dan LEAGUE tidak laku (karena tim marketing mereka ga kuat) maka bayangkan apa yg terjadi pada buruh tsb.
Salah temen gue kah?
Nggak.
Yang pasti temen gue berpacu dengan waktu.
Makanya, dia adalah pahlawan Indonesia.
Buruh dan bahan mah Indonesia banyak.
Marketer dan Desainer yang handal yang jarang.
Ingin bangsa kita pake barang Indonesia 100%?
Barang Indonesia harus 100% menang bersaing.
Ingin kita 100% menang bersaing?
Indonesia harus belajar.
July 31st, 2009 at 12:45 pm
secara garis besar setuju, gua cuman mo nambahin om
“ELo ga beli, karena kekuatan marketing LEAGUE tidak sebesar NIKE.”
mnurut gua, bukan hanya kekuatan marketing klo soal ini, soal design juga ngaruh…
In My Humble Opinion, design2 spatu dalam negeri terlalu heboh…hehehe
mungkin krn kebanyakan “modifikasi” jd terlihat lebay dan kurang menarik minat gua untuk beli (padahal mereka sebenarnya bisa BANGET bikin yg lebih simple dan menarik utk dibeli bahkan di ekspor utk bersaing dgn brand2 international yg lebih dulu ngetop)
Tanya knp? Hemmm…mungkin temen lu bisa menjelaskan soal ini om
Cheers !
July 30th, 2009 at 9:35 am
HIDUP SEPATU TAMAN PURING…. YEHHHH
July 30th, 2009 at 11:06 am
Quote “Ketika hari itu tiba dan LEAGUE tidak laku (karena tim marketing mereka ga kuat) maka bayangkan apa yg terjadi pada buruh tsb.”
Itulah kenapa kita harus dukung produk lokal dengan membelinya, nji.
Gw rephrase kata2 lu, “kualitas LEAGUE gak kalah sama NIKE. Masalahnya di marketing.”
Untuk punya kekuatan marketing seperti itu, butuh biaya yang gak sedikit. FYI (gw dapet info ini dari Sales Managernya perusahaan Indonesia yg juga memproduksi NIKE), NIKE itu dijual 9 kali lipat dari production costs-nya. Kenapa? Jelas untuk nutupin marketing costs-nya. Dan itu mau gak mau harus dibebankan ke harga jual dong. Sekarang kalo LEAGUE pengen punya kekuatan marketing kayak NIKE. Berarti harus ngeluarin marketing costs yang besar yang juga dikeluarin sama NIKE. Misalnya dengan make Pandji untuk jadi iconnya, atau Bambang Pamungkas, atau bahkan Wayne Rooney. Mahal dong? Kalo gitu, harganya pun harus seharga NIKE dong? Masuk akal, kan?
Mau beli produk lokal yang harganya mahal?
Engga? Kenapa? Jawaban sebagian orang mungkin akan seperti ini. “Mendingan beli NIKE lah, ketauan”
Gw pikir, terlalu naive kalo berpikir bahwa mendukung gerakan #indoensiaunite, berarti kita harus menggunakan 100% barang indonesia.
Gw gak perlu pake contoh tim robotika UNIKOM dengan komputernya, atau Gandhi dengan pendidikan Inggrisnya. Tau bala-bala, kan? (di beberapa daerah disebut bakwan). Itu juga gak 100% Indonesia. Gandumnya dari mana? Apa berarti itu bukan barang Indonesia?
Dunia ini udah diciptakan seperti ini. Dimana setiap orang butuh orang lain untuk hidup. Kita semua pasti tau klo apa yg kita butuhkan disini tidak selamanya tersedia disini. Contoh gampangnya ya kita butuh gandum yang gak tersedia disini buat bikin bala-bala.
Menurut hemat gw, mendukung imbauan “Gunakanlah produk dalam negeri” adalah, salah satunya, dengan membeli produk2 yang dihasilkan orang2 Indonesia. Bukan berarti ngelarang beli NIKE. Kalo emg suka NIKE, usahakanlah untuk beli NIKE yang “made in Indonesia”, dimana ribuan (mungkin lebih) rakyat Indonesia menggantungkan hidupnya, cari makan dari situ. Bukan berarti juga gak boleh beli burger dan harus beli bala-bala. Disitu juga byk orang Indonesia yang cari makan. Tapi akan lebih baik lagi klo lebih mengutamakan produk yang lebih byk kandungan lokalnya. Jadi saat investor asing itu pergi (NIKE misalnya), tenaga kerja kita gak kehilangan pekerjaannya. Jelas kita paham apa yang akan terjadi jika byk orang yg di PHK. Anak2 mereka gak bisa sekolah. Kalo gitu, gmn nasib masa depan bangsa kita?
August 9th, 2009 at 4:13 pm
fans barumu nih mas pandji yg keker tapi lucu….hehe
menurut gw Indonesia gak pernah kekurangan orang pinter, cerdas, bahkan mungkin brilian….
terlalu banyak contoh kalo mau ditulis di sini…
Yang gak dipunyain Indonesia, ato spesifiknya, punya tapi dikit, adalah orang pinter, cerdas, dan brilian yang mw mendedikasikan pinter, cerdas, dan briliannya itu buat negaranya. Singapura aja sampe berburu anak-anak brilian Indonesia untuk diangkut ke sana, Belanda, Jerman ngegaet Habibie, Rexi Mainaky ke Malaysia, dll.
Kenapa potensi SDM Indonesia dengan gampangnya dibajak negara lain?
apa mereka salah kalo nerima tawaran menggiurkan itu?
apakah mereka gak nasionalis?
tentu saja tidak, mereka nglakuin itu berdasarkan hukum dasar interaksi….simbiosis mutualisme
harus ada dua keuntungan yang sebanding antara dua pihak yang berinteraksi….
Kenapa mereka memilih ngacir dari Indonesia? ya karena gak ada simbiosis mutualisme itu di sini, atau belum kali ya….^_^
So…”jangan tanya apa yang negara kasih buat elo, tapi tanya apa yang elo bisa kasih buat negara”
kayanya quote itu perlu dikoreksi ulang…..
kita gbs maksain salah satunya untuk menjadi egois….negara yang egois pada rakyatnya, atau rakyatnya yang cuman bisa nuntut negara….
yg bener adalah equilibrium…keseimbangan….order….take n give…
gw gak akan pernah bilang “right or wrong is my country”….
nasionalisme buta itu namanya………….yg bener harusnya…..gw bela kalo negara gue bener…dan bakal gw lawan abis kalo negara gw salah….
Nasionalisme kudu objektif, proporsional, cerdas….
Bahkan meskipun gw orang Israel….gw gak akan ndukung pembantaian ke Palestinakan???
November 9th, 2011 at 8:35 pm
dyso nude photo of Angelina Jolie Nude, i love this
January 26th, 2012 at 2:08 am
Nice find and great post ! Thanks for the info
Custom IDX Solutions