Memang terhitung terlambat gue menulis soal insiden Om Pong Harjatmo.
Sebenarnya, sejujurnya, gue rada enggan untuk menulis tapi entah kenapa kepikiran mulu.
Mungkin sudah dengar kabar bahwa atas dasar kekecewaan, Om Pong Harjatmo, aktor kawakan senior yang sering berperan jadi tokoh antagonis memutuskan untuk manjat gedung “kura kura” DPR ketika yang lain sedang Shalat Jumat, dan mencoret dengan pylox atas gedung tersebut dengan 3 buah kata:
JUJUR, ADIL, TEGAS.
Belakangan, setelah ditangkap, beliau dilepaskan.
Kejadian ini, meledak nggak karuan di twitter.
Di timeline gue, orang orang terbagi 2 rata.
Ada yang setuju dan menganggap Om Pong adalah pahlawan yang berani bertindak.
Ada yang nggak setuju dengan anggapan bahwa biar gimanapun juga, yang beliau lakukan salah karena vandalisme.
Gue sendiri cukup mengenal beliau, kami sempat cukup lama shooting bareng untuk sebuah program acara televisi.
Karena gue cukup mengenal beliau, gue ragu kalau tindakan beliau disebut kalap atau impulsif atau hilang akal.
Om Pong adalah jebolan pendidikan akting. Bahkan juga mengajar.
Beliau secara refleks mengajari gue cara bersikap, berdiri, berbicara, bahasa tubuh, cara berhadapan dengan perempuan kepada gue ketika melihat gue membawakan acara.
Sikap dan tutur beliau sangat rapih, tenang dan terstruktur.
Agak nggak mungkin kalau beliau hilang akal.
Apapun yang Om Pong lakukan adalah karena beliau sudah memikirkan secara matang.
Itu gue yakini.
Lalu apa pendapat gue sendiri?
Gue sih nggak setuju
Alasannya akan gue terangkan..
Pertama tama, gue harus jelaskan dulu 1 hal: Gue adalah penggemar berat BANKSY.
Untuk yang belum tahu, silakan cek di wikipedia atau google picture aja nama itu.
Beliau adalah seniman yang luar biasa yang menggunakan fasilitas umum sebagai kanvasnya.
Di tangan beliau, vandalisme jadi sesuatu yang indah, namun tidak hilang dari tujuan vandalisme “Mencuri Perhatian”
Untuk apa perhatian publik dicuri? Untuk menyampaikan sebuah pesan.
Dalam konteks Om Pong pesannya jelas: Kecewa kepada DPR.
Kedua, gue datang dari latar belakang desain. Desain Produk tepatnya. Sehingga gue agak sedih gedung itu dicoret coret. Karena di mata gue, DPR secara kelembagaan tidaklah salah. Nggak mungkin salah. Itu adalah buah pemikiran Bung Hatta yg di awal masa kemerdekaan banyak bekerja untuk menyiapkan sistematika bernegara.
Termasuk UUD 45.
Yang salah anggota DPR-nya. Yang harusnya “diserang” adalah anggota DPRnya.. Gedungnya salah apa?
Banyak yang bilang “Gedung itu adalah simbol dari anggota DPR yang payah”
Menurut gue, gedung itu adalah simbol dari DPR. Gedung itu tidak mewakili isinya. tidak mewakili orang orangnya.
Yang gue takuti adalah, kalau kita semua berpikir bahwa lembaga DPR yang salah , maka selamanya kita akan antipati dengan DPR.
Coba gue tanya sama elo, Imam Samudra membom Bali atas nama Islam. Apakah elo lalu menyalahkan Islamnya?
Nggak kan?
Kenapa tidak bisa kita berpikir yang sama akan DPR?
Bukan lembaga DPRnya yang salah, tapi anggotanya.
Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Satu hal: BERPOLITIK!
Berpolitik tidak harus jadi politisi.
Berpolitik itu dengan tidak alergi dengan politik, mengikuti perkembangannya, mempelajarinya, mengenalnya, dan dengan menggunakan kekuatan politik kita dengan benar.
Indonesia adalah negara demokrasi terbesar di dunia, kita memilih anggota legislatif, kita memilih presiden.
Penggunaan kekuatan politik kita memang belum sempurna, tapi kita sudah punya dasarnya. Pemilu oleh rakyat.
Anak muda nggak boleh anti politik. Kalau semua anti politik lalu siapa orang bersih yang mau masuk DPR dan menggeser keluar politikus busuk?
…
Kini, orang sudah mulai lupa akan kejadian Om Pong.
Nama beliau tidak lagi disebutkan sama sekali di twitter.
Kini, yang tersisa adalah sebuah pertanyaan besar yang menggantung di kepala.
PErtanyaan yang jadi alasan utama kenapa gue nggak setuju dengan tindakan Om Pong:
“Bagaimana caranya Om Pong menerangkan kepada anak anak yang vandal di tembok rumah orang, bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak boleh, tapi apa yang Om Pong lakukan boleh… Bagaimana ?”












August 2nd, 2010 at 12:27 am
Yang dilakukan Om Pong adalah mencoreng zona nyaman seseorang sehingga malu dan (semoga) bisa menjadi pribadi/lembaga yang lebih baik.
Kalau ada yang ingin mencoret2 rumah saya, sekaligus membuat saya menjadi orang yang lebih baik. Gw persilahkan!
August 2nd, 2010 at 12:35 am
menurut gw, tindakan Om Pong bisa disebut sebuah perintis. Gerakan pemberontakan memang perlu sebuah perintis. Ga bisa dipungkiri kalo setelah ini diluar sana bakal banyak tindakan serupa atau mungkin lebih parah. Sisi positifnya,anggota DPR akan lebih sering diledek. Sisi negatifnya, beberapa fasilitas umum mungkin akan rusak (jika mereka melakukan hal sama). Tinggal bagaimana masyarakat bisa menyikapinya dengan melakukan tindakan langsung menjurus ke anggota DPR. Memang dibutuhkan suatu gerakan kalo menurut gw. Yang pasti pintar-pintar mengambil sisi positif dan negatif dari tindakan Om Pong kemarin.
, hanya pendapat)
(maaf kalo ga menjawab pertanyaan
August 2nd, 2010 at 12:36 am
1st of all gw mo bilang,pertm kali liat pandji di variety show di rcti ‘duh ne org ga ada ganteng2nya’
But now…hmm i’m amazed by ur thought lho..talking about wise..semua tulisan lo di atas sangat2 bijaksana.
I totally agree with you bout this ‘pong insident’.
When i was reading ur writing i was like ‘damn,cucokk abiss’
Sekarang soal pertanyaan lo.
Ga ada pembenaran dr aksi vandalnya om pong..ujung2nya cuma satu “is it worth it?”
Is the consequences worth it? Is the attention worth it?
Selama anak2 vandal yg otaknya cukup berkualitas harusnya bs mikir.
Buat anak2 vandal di luar sana ya..”IS IT WORTH IT’”
#IMHO
August 2nd, 2010 at 1:10 am
Gampang. Om Pong tinggal bilang, apa yg dia lakukan utk nyentil/jewer/shock terapy ke anggota DPR. Bukan vandalisma coretan iseng. Beliau jg ngaku salah dan bersedia menghapus coretannya lg. Kl ada anak2 atau org2 yg mau vandal di tembok org utk tujuan iseng dan ga mau nghapus lagi, itu bedanya dgn apa yg dilakuin Om Pong.
Hidup Om Pong! Salam perubahan!
August 2nd, 2010 at 1:11 am
Kenapa vandal dirumah orang g boleh tapi apa yg om pong lakukan boleh? Kalo menurut gue sih jawabannya begini: Gedung kura-kura MPR itukan istana rakyat, rumahnya wakil rakyat, pemiliknya adalah rakyat karena dibangun dengan uang rakyat. Dengan kata lain, rumah itu dimiliki oleh seluruh rakyat Indonesia, termasuk om Pong dan 200 juta lebih lainnya. Nah g ada salahnya dong kalo salah satu pemilik rumah (rakyat) mencoret rumahnya sendiri karena kesal dengan kelakuan orang2 yang dibikinkan rumah itu, yang justru mempergunakan rumah itu sebagai tempat rapat untuk menipu bosnya (rakyatnya) sendiri…Nah, terang aja ini beda dengan anak2 yg vandal dirumah orang lain. Lebih jelas lg bedanya kalo anak2 itu, orang Indonesia, vandalnya di “gedung MPR-nya” Amerika
August 2nd, 2010 at 3:19 am
deface website = vandalisme.
sebuah pesan kebaikan disampaikan dg cara yg “salah” (tidak biasa) itu wajar dilakukan, apabila 1001 cara2 “benar” (biasa) lainnya sudah pernah dilakukan semua.
cara menerangkan kpd anak2 itu gini mas:
anak2 sebelum kalian mau corat-coret tembok rumah orang lain, coba deh corat-coret tembok rumahmu dulu, kalo orang tuamu pada enggak marah, boleh lah kamu corat-coret di tembok orang laen.
tapi minta ijin dulu sama yg punya rumah ya, bisa kan..?! berani kan…?!
August 2nd, 2010 at 3:13 pm
itu sebabnya warga masyarakat indonesia masih menyukai hal2 yg sentimentil dan sombolik, sehingga banyak yg menganggap orang seperti pong adalah pahlawan, yang sudah menyelesaikan masalah…
setidaknya, kita jadi berpikir, mencari solusi yg baik dan benar2 solusi, bukan sentimentil dan simbolik…
August 2nd, 2010 at 7:20 pm
Kalo om Pong berceloteh kecewa di tv/radio pasti akan bernasib sama dg yg lain..
lenyap terbawa angin..
Tulisannya sih biasa, yg kecewa juga udah banyak kok..
TAPI yg unik di sini adalah cara mencuri perhatian, kalo gak gini pasti gak booming
caranya emg vandalis & khawatir ditiru anak muda lain yg nyoret2
tembok rumah org sesukanya, tp saya yakin masyarakat kita makin dewasa
melihat makna inti dari intinya dari goresan om Pong ini..
August 3rd, 2010 at 3:21 pm
menurut gue apa yang dilakukan om Pong itu gak termasuk aksi vandalisme. Isi coretannya bermaksud mengkritik para anggota DPR supaya bisa berlaku lebih jujur, adil dan tegas dan lagi bila tidak memakai cara seperti itu, mana didengarkan oleh petinggi DPR
lagipula gedung DPR itu menurut saya bukan milik pribadi anggota DPR melainkan milik masyarakat juga, dibangun dari pajak negara, jadi sebenarnya tidak masalah juga
kalo mau nerangin ke anak-anak mungkin harus diberi tahu bahwa aksi coret-coret itu boleh dimana saja asal ada pesan yang ingin disampaikan dan berani bertanggung jawab atas perbuatannya
August 3rd, 2010 at 4:38 pm
hmm.. kenapa om pong ga naro kertas atau spanduk aja ya di atasnya?
biar ga ngerusak fasilitas negara.. *mikir
August 3rd, 2010 at 7:44 pm
kl gw setuju ji (sok asik bgt, pdhl br liat lo di tipi), tindakan seseorang pertama gw menilai dari tujuan, tujuannya om pong bagus kok, kata2nya jg bagus. nah yg kedua dari sisi sosial, menurut gw ga ganggu orang lain kok. tp kl dari segi estetis gw ga setuju, gw jg anak desain ji, jd mnurut gw lbh bagus lagi kl om pong bkinnya lbh kreatif, kan bisa jd ambients media gtu
August 5th, 2010 at 9:32 pm
yang jelas tindakan beliau bukan hal yg baik untuk ditiru. mungkin maksud beliau benar. tp untuk cara itu nol besar menurut saya. sebenarnya untuk saat ini kita sedang berupaya untuk mengatisi masalah anarkisme yg banyak digunakan dlm berdemokrasi. rumor pemindahan ibukota mungkin salah satunya karena anarkisme turut menyumbang kemacetan dan tentu juga karena makin rusaknya sarana umum. lalu?mungkin yg dilakukan beliau bisa menginspirasi atau mengingatkan kembali bagi org2 yg gemar berdemokrasi dgn negatif. vandalisme akan jd sahabat baru anarkisme dlm mengeluarkan pendapat nantinya. terlebih lagi mereka tidak akan sungkan karena yg dicontoh tidak terjerat hukum melakukan itu.
August 6th, 2010 at 10:02 am
hmmm…. kalo boleh bicara nih, sesama alumni dari institusi yg sama nji
dulu, pemuda yg merobek bendera belanda di atas hotel yamato, melakukan hal yg sama, bahkan lebih vandal, merobek bendera negara. tapi kita mengenangnya sebagai salah satu momen bersejarah indonesia.
itu dari sisi sejarah nji
sekarang kalo dari sisi desain
lo pasti tau atau familiar dengan istilah2 branding kan? selling point?
nah kalo dari sisi ini, tindakan pong punya sisi selling point yg bagus, sehingga mendapat sorotan media yg cukup. kita semua tahu media berperan besar pada setiap isu yg terjadi di dunia ini. jadi kalau mau visi kita terdengar orang, ambil perhatian media.
buat gw, pong secara tepat telah memilih dan mengeksekusi cara untuk menyampaikan suaranya
terus, kalo soal gedung salah apa, sekali lagi ini masalah simbol nji, bendera merah putih biru jg salah apa sampe dirobek2? gedung kempetai jepang di sby jg salah sapa sampe di ratakan dgn tanah? yg skrg dibangun tugu pahlawan? gak bisa separsial itu kan nji melihatnya? ayolaaahh……
memang bukan gedung yg salah, tapi apa kemudian lo minta pong untuk memaki2 dan mencoret muka setiap mereka yg diduga korup? cara itu bagus, tapi harus dilihat feasibilitasnya, mungkin atau tidak?dan apakah pesan yg disampaikan akan dapat dengan tepat diterima masyarakat? jangan2 malah dikira pong punya masalah pribadi dgn org yg disemprotnya.
menurut gw, karya pong itu bukan merusak, karena pesan dibalik itu yg sangat indah, kejujuran, keadilan, dan ketegasan memang sangat dibutuhkan bangsa ini nji
lo kan punya wawasan desain, entertainer lagi, lo harusnya bisa melihat lebih obyektif nji…..
hehehe maaf untuk kali ini gw kurang setuju dgn tulisan lo
August 6th, 2010 at 10:55 am
tindakan om pong adalah sia-sia..
cuma luapan emosi yg nekad.
berbuat dan bertindak utk kemajuan masyarakat dan membantu sesama lebih dibutuhkan saat ini dan untuk negeri ini.
contohnya : pandji.
thanks
August 6th, 2010 at 1:46 pm
Tindakan Pong memang provokatif, dan juga salah, juga benar.
Provokatif, cukup provokatif untuk bikin banyak teman2 di kaskus minta bikinin Pin, Stiker, Kaos buat nunjukin dukungan mereka. Memang ada yang nakutin satu hal… vandalisme berlanjut tanpa arah. Tapi mernurut saya, vandalisme yang memiliki pesan baik akan tetap benar karena baiknya, soal kesalahan penempatan itu masalah yang akan selalu bermasalah.
Mungkin nekat, tapi hal itu memiliki dasar yang kuat. emosi itu kebetulan nggak punya media penyampaian, jadilah begitu… agak sulit menyampaikan pesan benar dengan cara yan benar, tapi …
LEBIH BAIK MENYAMPAIKAN PESAN BENAR DENGAN CARA SALAH
DARIPADA TIDAK PERNAH MENYAMPAIKAN PESAN BAIK
ATAU MENYAMPAIKAN PESAN SALAH DENGAN CARA BAIK
Mari berfikir dan bertindak lebih
Untuk INDONESIA
Pandji, you’re the inspiration.
August 9th, 2010 at 1:19 pm
“Bagaimana caranya Om Pong menerangkan kepada anak anak yang vandal di tembok rumah orang, bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak boleh, tapi apa yang Om Pong lakukan boleh… Bagaimana ?”
Jawabannya gampang aja Bos. Om Pong says :
Vandalisme adl paham merusak, & menggangu kepentingan orang lain.
Yg sy lakukan adalah Menyampaikan Pendapat (mungkin dgn cara yg agak ekstrim).
Ini adalah untuk masa depan kalian semua anak2.
Kelak kalian akan mengerti kalau negara ini,
memiliki anggota dewan yg tidak ‘tunduk’ pada Rakyatnya.
Anggota2 dewan ini..BUSUK ! BAU ! BUSUK !
#gw juga sangat setuju sm komentar dr : 1.Darmo 2.fitorio
gw ga setuju sm pendapat lu Bos. Krn gw bs memahami kekecewaan sebagian rakyat Indonesia (yg terwakili oleh om pong). Tp gw SALUT akan kesediaan lu,
meluangkan waktu lu untuk membuka wacana ini. Thx Bos.
August 10th, 2010 at 10:52 am
Gua gak setuju dengan tulisan ini, karena gua sangat mendukung tindakan Pong Harjatmo. Hampir semua orang sudah muak dengan kelakuan anggota DPR. Bila lewat jalur resmi, apa iya akan ditanggapi? Pasti akan menjadi angin lalu lagi.
Pong Harjatmo adalah wakil rakyat sesungguhnya yang menyuarakan kekesalan dan kekecewaannya atas ketidakberesan bangsa ini.
Jika tindakan Pong dikatakan vandalisme yang merusak… lalu bagaimana dengan tindakan mahasiswa tahun ’98 yang menyerbu, menduduki dan menginjak-injak gedung DPR? Jadi semua orang boleh menyerbu dan menduduki rumah orang lain? Lihat dulu esensi tindakannya, Bos.
dari tulisanmu:
Kini, orang sudah mulai lupa akan kejadian Om Pong. –> anggota DPR mungkin iya berusaha melupakannya, tapi kita-kita tidak akan pernah lupa atas tindakan heroik ini.
Nama beliau tidak lagi disebutkan sama sekali di twitter. –> karena rasanya Pong berbuat demikian bukan supaya menjadi omongan di Twitter. Dan dengan tidak menjadi TT, bukan berarti beliau dilupakan.
Kini, yang tersisa adalah sebuah pertanyaan besar yang menggantung di kepala.
PErtanyaan yang jadi alasan utama kenapa gue nggak setuju dengan tindakan Om Pong:
“Bagaimana caranya Om Pong menerangkan kepada anak anak yang vandal di tembok rumah orang, bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak boleh, tapi apa yang Om Pong lakukan boleh… Bagaimana ?”
–> dengan menjelaskan bahwa segala tindakan jika tujuannya positif tentu diperbolehkan. Tujuan Pong sangat positif dan sangat mulia, jangan samakan dengan begundal yang corat-coret untuk merusak.
August 10th, 2010 at 11:26 am
Kadang tindakan orang untuk menyampaikan pendapat ke orang lain berbeda – bedan itulah om pong dengan segala perbedaan belia menyampaikan ke kecewaannya dengan vandalisme.. mungkin juga om pong ngeliat beberapa kasus yang tidak kunjung selesai seperti tabung gas 3kg yang sampe sekarang belom ada pemecahan terbaik buat bangsa kita… DPR terkesan lamban untuk menyelesaikan masalah
semoga penerus – penerus politik di indonesia menjadi penerus yang bersih dan bisa menjadi orang yang di percaya rakyat sebagai penyampai aspirasi
hehe
August 10th, 2010 at 1:15 pm
“Satu hal: BERPOLITIK!
Berpolitik tidak harus jadi politisi.”
gw setuju bgt dengan hal diatas…
mari kita anak2 muda ber-POLIKREATIF (BERPOLITIK SECARA KREATIF)
supaya bisa didengar seluruh orang…
om Pong sdh mmberikn contoh yg berani….
tapi klo bisa kita ciptakan cara2 lain yg lbih kreatif,nyentil,edukatif,dan bermanfaat…
saya senang mas Pandji mmbuat acara di TV, semoga sukses mas acaranya…
August 21st, 2010 at 11:36 pm
just my opinion, menurut gw Mr.Pong melakukan ‘vandalisme’ karena sudah sampai disebuah titik dimana aspirasi sudah buntu alias macet, hari ini banyak yang orang lakukan saat aspirasi sudah macet dan tak tahu harus gmn lagi utk berkeluh dengan pemerintahan yang sah ini. Orang orang sudah mulai menggunakan cara cara tak lazim, kalo dulu mengadu ke polisi sekarang mengadu ke televisi, karena maybe televisi dianggap satu2 nya media yang bisa me-relay smua keluh kesahnya langsung dan diketahui khalayak ramai tentunya. lembaga lembaga yang jargon nya memediasi aspirasi dianggap terlalu lamban, okelah kita mungkin tahu,masalah di negeri terlalu komplek. Vandalisme untuk tujuan pengrusakan terhadap keindahan sebuah kota mungkin tidaklah bisa di benarkan (walaupun dalam sebuah kasus tertentu bisa bernilai estetika), namun tindakan Mr.Pong bagi saya adalah sebuah luapan kekesalan yang saya rasa sulit di bandingkan dengan bomber bomber yang mlakukan vandalisme liar dijalanan..ini kasus yang beda,walaupun media tetaplah sama,sebuah tembok dan sebuah cat pilox, tapi esensi dari coretan tetaplah beda. gw rasa sebagai seorg senior entertainment Mr.Pong sudah berfikir berkali kali untuk melakukan nya. Karena mungkin bagi nya melakukan nota protes pada wakil rakyat melalui meja aduan akan berakhir pada laci penyimpanan yang tentu tidak akan ada realisasi dan action selanjutnya. mungkin itu cara EKSTRIM tapi mungkin satu satunya shortcut tercepat menghindari laci laci penyimpanan kasus yang tak tahu kapan akan dibahas, itu cara terbaik dari yang terburuk, sorry Mr.Pandji untuk kasus ini kita beda pemikiran, salam kenal !
August 22nd, 2010 at 12:46 am
“……–> dengan menjelaskan bahwa segala tindakan jika tujuannya positif tentu diperbolehkan. Tujuan Pong sangat positif dan sangat mulia, jangan samakan dengan begundal yang corat-coret untuk merusak.”
corrected.. sip beda pendapat menjadikan kita lebih kuat,.. ane setuju ma om pong, vandalisme yang dilakukan oleh orang yang profesional dengan tujuan yang “baik” walau terkesan sebaliknya. substansinya disni jelas sekali berbeda. berpolitik itu pilihan, tapi hak dan kewajiban warganegara harus tetap berjalan. bukan hasutan atau pemaksaan. saia pilih tidak ikut berpolitik, saia mau dagang saja.. hehehe *kidd
August 27th, 2010 at 2:30 pm
kalo nimpuk Presiden pake sepatu boleh gak?
menurut gua kasus ini mirip dengan waktu George Bush ditimpuk pake sepatu ama wartawan Iraq. dan gua dukung 100000% wartawan itu, sangat disayangkan gak kena.
dan kali ini gua juga dukung Om Pong.