Di bab ini gue menerangkan mengapa harga CD gue yang relatif mahal justru menguntungkan penjualan CD gue…
Sempat ada omongan bahwa Rp 50.000,- terlalu mahal.
Tepatnya terlalu mahal untuk hiphop dan terlalu mahal untuk ukuran CD musisi Indonesia.
Little do they know, I put such price for a reason.
Untuk memperkuat positioning CD terhadap segmentasinya.
Di buku TREASURE HUNT oleh Michael J Silverstein, dikatakan bahwa jaman sekarang berbelanja telah menjadi olahraga dunia.
Dan fenomena terbaru adalah:
TRADE UP or TRADE DOWN.
Apa yang dimaksud dengan TRADE UP?
TRADE UP adalah dorongan manusia untuk berbelanja barang yang cenderung lebih mahal dari yang biasanya, atau dari yang dia mampu.
Atau, beli yang paling murah sekalian alias TRADE DOWN.
Orang berbelanja untuk kebutuhan status.
Status apa yang didapatkan dengan membeli barang yang lebih mahal dari biasanya?
Status sebuah pencapaian. Sebuah perbedaan status.
Kadang seringkali kita lihat atau bahkan mengalami situasi dimana seseorang membeli TV Plasma, kemudian berhemat hemat karena sebenarnya uang yang dipakai untuk membeli TV Plasma tersebut “memakan” uang jatah makan sebulan misalnya, atau uang lifestyle, dll.
Membeli barang yang relatif lebih mahal membuat seseorang merasa menjadi bagian dari sebuah status atau kalangan. Perasaan berharga itulah yang membuat orang seringkali membeli barang yang dia tahu sebenarnya mahal.
True story, waktu itu ibu dari mantan pacar gue ikutan buka stand di pameran baju muslim. Ada sekitar 8 stand termasuk milik beliau.
Harga baju baju beliau paling murah dibandingkan yang lain dengan harga 3-5jutaan perpotong.
Namun walaupun desainnya lebih bagus daripada yang mahal, stand beliau tidak laku.
Pada hari terakhir, beliau justru menaikkan harga pakaiannya sehingga sama dengan yang lain.
Pada hari itu, baju bajunya ludes.
Can you believe that?
Orang berbelanja untuk kebutuhan status.
Status apa yang didapatkan dengan membeli barang versi murahan?
(biasanya KW atau bajakan)
Status dihargai sebagai seorang smart shopper.
Stupid? I know, but is true.
Sering juga kita mendengar obrolan seperti ini
“Wuih, kaos lo bagus banget man… Beli dimana lo?”
“Tebak gue beli harganya berapa?”
“Hmm, sekitar 200ribuan lah”
“SALAH! Gue beli cuma 50ribu!!”
“Ha? Yang bener lho? Beli dimana?”
I know you’ve heard that before many times.
Membeli barang barang murah sekalian adalah cara kita menyeimbangkan pengeluaran kita.
Jaman sekarang ada buanyak sekali yang tersedia, Starbucks, Blitz Megaplex, I phone, dll.
We want everything!
Bagaimana cara umat sedunia mendapatkan semua yang dia inginkan dengan uang terbatas?
TRADE DOWN.
Maka itu berarti di dunia retail, hanya ada tempat untuk yang murah. Dan yang mahal.
Yang biasa biasa aja, tidak memberikan emotional benefit apa apa karena tidak membawa status apa apa.
Ketika gue memasang harga Rp 50.000 untuk CD gue, orang yang gue incar secara mereka sadari atau tidak akan merasa “tidak semua orang bisa/mampu beli CD ini”
So in essence, they know who this CD is for.
For them.
Believe me, everybody loves to be a part of the exclusives.
Di bab berikutnya gue menunjukkan bagaimana cara gue mengalahkan pembajakan. Pembajakan tidak bisa dihentikan dan kita tidak bisa menghentikan orang beli bajakan. Tapi kita BISA MENGALAHKAN. Next…











May 13th, 2008 at 9:08 am
mas pandji, malahan tadinya gw kira cd lw harganya lebih dari 50rb. soalnya cd lw ekslusif n worthed gitu. abisnya di gmhr lw ga pernah announce hargonyo,hehe. pandji promo album di acara basketnya RISKA mau ya… ya..ya.
salut bwt pandji yang inspiratif banget. c u
May 13th, 2008 at 4:11 pm
hmmm, gw kira kalo utk urusan cd lokal sih engga berlaku ya nji teori lu ini,
gw beli cd andezz seharga 50rb jg, space system 45rb, tapi gw ga berasa ekslusif tu. krn gw jg beli cd-nya andra yg soft cover – versi murahnya yg cuma 25/35rb.
jd, kalo buat cd lokal sih teori lu agak kurang kuat tu di bagian ini.
orang udah bisa beli cd, berarti udah di level yg sepantar, kecuali lu bilang lu keluarin lagu lu dalam format kaset, gw baru percaya bahwa lu menyasar kalangan bawah dan bicara ekslusifitas.
tapi kalo orang udah beli cd, gw rasa mereka udah siap spend duit dengan range disitu.
hukum lu baru berlaku kalo orang memilih beli cd artis luar – rekaman import, dibanding yg diremaster di indo. kan beda jauh tu harganya, yg rekaman lokal 75rb, yg import bisa sampe 2x-3x lipatnya.
tapiiii, itu pun blm pasti menegaskan teori lu ttg ekslusivitas.
mungkin aja mereka membeli karena qualitas cd nya yg lebih jernih kl import.
gw begitu, gw beli bubble yg lokal 75rb, tapi kurang puas sama kualitas soundnya shg gw membeli lagi cd importnya seharga 135rb.
pure bukan karena gw merasa ingin ekslusif. tapi semata2 karena qualitas.
jd, utk bab ini gw menegasikan teori lu. tapi gw acungin jempol utk teori lainnya, lu sungguh2 memikirkan tiap step menuju kesuksesan, good luck panji!
May 13th, 2008 at 5:42 pm
panji…
That’s right man… Lifestyle memang sekarang jadi senjata ampuh untuk jualan. Sampe divisi gue Design and Development pun di bawah Direktorat Lifestyle…can u imagine that… Yang dimakan adalah golongan yang gampang dimakan gengsi…sampe pendidikan aja harus cari yg bahasa pengantarnya english…padahal orang tua mereka dan anak yg kuliah lupa bahwa yg terpenting adalah si anak itu sendiri yang menetukan dia mampu bersaing di dunia kerja.
Banyak orang yang pandai ngomong tapi semua isi omonganya standar….tapi di blow up sedemikian rupa sehingga seolah2 HEBAT…
Tapi ironisnya orang yang bener2 pinter susah untuk berpendapat karena muak dengan lifestyle, muak untuk basa-basi, muak untuk menjilat,…
Termasuk orang yg beli cd lo…pasti karena alasan Lifestyle…harus update…harus ikut apa sih yang lagi happening sekarang. No Offense bro…
Yang pinter memang orang seperti lw…pinter memanfaatkan keadaan. hehehe
BTW nice try bro…salut dengan yg apa lo buat sekarang dan seterusnya
Semoga Sukses Selalu….