Jadi di Belitung gue nginep di hotel yang ga ada TV kabelnya…
Ga masalah sebenarnya utk gue karena gue menyibukki diri untuk menulis
Tapi gue tiba tiba kepikiran saudara saudara gue se-Indonesia yang tidak punya pilihan lain, selain TV lokal.
Ketika gue berpindah dari satu channel ke channel lain, gue tidak mampu menemukan tayangan yang sesuai dengan yang gue mau.
Isinya pada jam 20-21an adalah sinetron, lawakan TV, film kelas C dan dialog politik yang ruwet.
Gue baru pulang kerja jadi gue ingin sesuatu yang menyenangkan.
Ga pengen pusing, dan ga pengen (tepatnya ga bisa) ketawa melihat orang yang melawak dengan menghina atau menyakiti orang…
Kalau gue punya kabel, maka gue tinggal switch ke HBO, Starmovie, Starworld, ESPN, Starsports atau yang selalu jadi andalan, History channel, Discovery channel, Travel and Living, NatGeo, atau kalau mau senyum senyum absurd ada cartoon network atau playhouse disney kalau ga mau pusing.
Tapi yang tidak punya kabel, terjebak pada tayangan yang menjemukan…
Polanya seperti kebaca.
Pagi pagi musik “live” , siang siang gosip atau berita, sore sore gosip atau sinetron, malam malam sinetron atau film..
Kemanakah pilihan kita?
Gue sebenarnya pro pilihan.
Pro keseimbangan.
Belakangan ini, keseimbangan itu yang tidak ada.
Waktu JavaJazz Festival hari pertama ramai akan tweet ga ada sinyal GPRS atau 3G. Hari kedua gue datang dan tidak merasakan apa apa. Gue lalu ngetweet dari sore sampe malam.. mungkin ada belasan tweet saat itu. Lalu gue bilang orang orang bahwa sinyal ga ada masalah kok di JJF. Orang orang yang tidak datang dan bilang sinyalnya ngaco gue kounter dengan jawaban “Enggak kok, gue bisa bisa aja ngetweet”
Lalu seseorang menyahuti saya dari jalur pribadi dan bilang “Elo pro amat sih sama JJF? Kerasa banget ngebelainnya?”
Gue menjawab “Gue bukan pro JJF, gue pro yang gue anggap benar… Saat itu, gue ga merasa ada masalah apa apa. Sementara tweetnya sama sekali ga imbang. Yang beredaran adalah masalah sinyal GPRS yg hilang. Faktanya tidak seperti itu, maka yang gue lakukan adalah memberikan pilihan”
Kalau gue diam, maka informasinya akan timpang. Gue hadir dengan tweet2 gue untuk memberikan pilihan. Dan pilihan itu benar adanya. Sehingga kalau orang liat hashtag #JJF ada yang bilang sinyal bermasalah, ada yang bilang tidak. Itu baru adil.
Orang orang juga kesal dengan TV dan koran yang beritanya buruk semua.
Lalu apa yang mau kita lakukan? Ngomel doang? Ngomel ga akan merubah keadaan.
Yang bener adalah yang dilakukan @GNFI atau http://goodnewsfromindonesia.com yang memberikan pilihan untuk orang menyeimbangkan berita buruk yang dia liat di TV.
Demokrasipun sudah mulai keliatan usaha untuk menyeimbangkan pilihan. Awal tahun 98 sampai mungkin tahun 2007an kita hanya melihat demo dari satu sisi. Sekarang kalau ada demo anti SBY tiba tiba ada juga yang demo pro SBY… hehehehe
Itu sih yang kayaknya dibutuhkan orang orang di Indonesia.. pilihan.
Sebenarnya kita bisa jadi penyedia pilihan itu.
Pertanyaannya mau ga?











March 10th, 2010 at 11:44 am
tapi, di antara rumpunan “sampah” acara tivi lokal masih bsia ditemukan berlian-berlian penggugah dan inspiratif lho. Sebut aja bisa! *yang host-nya elo hahaha, sayang durasinya singkat banget*, kick andy, rossy *edisi Obin kemaren kereeeeen*, pesona Indonesia-nya Trans TV.
Kita pegang kendali bernama remote control, knapa gak memilih channel lokal dengan tayangan berbobot dan meninggalkan siaran sampah?
March 10th, 2010 at 11:48 am
Dari insider info waktu JJF ada jamming sinyal dari provider sponsor.
Iya…kita harus “ngomong” biar informasi jadi seimbang dan memberikan pilihan, tinggal audens aja filter informasi mana yang dia butuhkan. thanx for sharing.
@_riky
March 10th, 2010 at 11:51 am
hmmm… sepakat sama pandji klo tv2 indonesia ini berpola sama. bukannya itu tak lepas dari rating. dulu, pagi2 mana ada acara musik di tv. ketika ada 1 yang booming, yang laen pada ikutan. begitu juga sama yang laen.
ketika uang berbicara, mau gak orang2 tv memberikan pilihan laen????
March 10th, 2010 at 11:59 am
tapi ykin ko msih ada acara yg gak ancur amat……banyak ko yg keren nji pagi yg musik palingan cuma dashyat,inbok,dering,60 mnte,ama monchows yg saya tau masih ada acra bagus di metro kayak yg dibawain edwin lau…siang ada si bolang,sore ada siaran langsung ISL,malem kalo dibandung ada acara buat bobotoh persib di TV lokal bandung he….jd sekarang tinggal kita memilih jika tidak suka tinggal matikan lalu buka internet ada banyak ko yg bagus ato gak ambil bantal dan tidur sapa tau dapat mimpi yg bagus….:)
March 10th, 2010 at 11:59 am
kalau emang ada pilihan, tentunya rakyat kita juga pingin menonton acara2 TV yang bermutu dan cerdas, tidak hanya “dipaksa” harus melihat sinetron2 panjang yang ngga mutu, ato lawakan kasar yg isinya menghina orang, atau live show dengan band2 kualitas gitu dech.
kick andy, rossy, just alvin adalah produksi lokal dengan isi yang lebih bermutu…. ataupun produksi luar seperti oprah, are you smarter than a 5 grader….tetapi memang tidak setiap hari bisa ditonton.
so………sayang pilihan itu ngga ada……………
March 10th, 2010 at 12:03 pm
setuju gw ama lu dji. makanya pengen banget someday gw bikin stasiun TV sendiri yg isinya acara2 berbobot yg positif tapi tetep profitable. sayangnya banyak orang idealis (kayak elo pan) jaman sekarang yg gak mikirin profit juga (nah… lo mikirin profit juga gak tuh. hehe :p). jadi mereka mau nya bikin yg bagus2 aja, tapi gak bisa sustain tahan lama berpuluh2 tahun lamanya karena mereka cuma mikirin amal tanpa mikirin profit. padahal profit itu juga penting untuk sustainability nya…
March 10th, 2010 at 12:07 pm
Tulisannya keren bang, terkadang kita tidak berani untuk memberikan pilihan-pilihan lain karena terjebak dalam rasa nyaman
.
Ditunggu artikel-artikel selanjutnya
.
March 10th, 2010 at 12:07 pm
gimana kalo kita gaet TVRI buat ngebikin siaran tv yang ga kalah bagusnya sama siaran tv kabel? kita aja yg produksi, TVRI cuma nayangin doang. siapa ya yg kira2 bisa dan mau bantu ngemodalin?
kita bikin “TVRI Champion”, program kompetisi adu skill tertentu yg indonesia banget dan pesertanya merupakan perwakilan dari masing2 propinsi. iye… emang ini konsepnya nyontek tv championnya jepang. tapi paling nggak ada kebanggaan dari orang2 di daerah dan mereka ngerasa dilibatin. gak jakarta lagi jakarta lagi. iya kan? daripada sinetron hayoh??
kalo soal JJF 2010, gw termasuk salah satu “korban” yg terkena jamming. paling berasa di hari pertama. hari kedua nggak separah hari pertama, tapi masih dalam kategori ngeselin. hari ketiga udah lumayan normal lagi. apakah karena ada lawatan RI1? entahlah…
March 10th, 2010 at 12:16 pm
kalau mau ngomel tentang Indonesia, saya selalu inget ‘pesan’ dari alumni pertukaran pemuda yang saya ikutin mas.. : “jangan tanya apa yang negara berikan padamu, tapi apa yang sudah kamu berikan ke negara?”
nice post, mas..
semog tulisan-tulisan mas pandji bisa menginspirasi banyak orang biar lebih cinta sama Indonesia!
March 10th, 2010 at 12:24 pm
tetap ada kok acara bermutu dan inspiratif,,,yah walopun kuantitasnya kalah sama acara2 yang ngga mutu,,,,setidaknya kita tetap punya pilihanlah walaupun hanya diiiiikiiit banget,,,,,,ngga bisa juga dipungkiri dunia tv adalah dunia industri dan di indonesia industri tv kita masih diatur banget sama rating!!!
March 10th, 2010 at 12:42 pm
semoga suatu saat nanti ada acara tv yg setiap detik durasinya merupakan donasi bagi dompet sosial. amien.
semoga mas pandji tidak termasuk dalam kategori “orang yang melawak dengan menghina atau menyakiti orang lain…”. amien.
kalo pun mungkin suatu saat mas pandji bs “terpeleset” dlm kategori itu, saya doakan lekas diberi sadar & peringatan dari-Nya. amien.
hehehehe….
March 10th, 2010 at 12:43 pm
Ketersediaan pilihan bagi kita2 yg mungkin tidak berselera dgn tayangan tv yg kurang bermutu. Tapi memang kita jg mau ga mau mengakui kadang tayangan-tayangan tersebut malah yg mendapat respon lebih dari penonton.. Jadi kembali kepada selera penonton. Masing2 tayangan punya segmetasi audiensinya. Jadi mgkn solusinya buat tayangan edukatif yg jg menghibur,jd pelan2 mengedukasi penonton. Mdh2an selera mereka juga semakin meningkat,bukan cuma sekedar hiburan semata..
March 10th, 2010 at 1:45 pm
AFAIK orang yang pake operator “itu” di hari pertama jg masalah kok untuk ber-GPRS/BIS ria. Issue-nya memang di hari pertama ada lonjakan penggunaan BTS yang di luar kapasitas (tiba2 ada banyak orang yang menggunakan sinyal operator di saat yang bersamaan, sementara kemampuan BTS-nya terbatas).
petinggi operator sudah di-inform soal itu langsung malemnya (termasuk yang pake twitter), jadinya di hari kedua sudah didatangkan bantuan mobile BTS untuk meningkatkan kapasitas jaringan. Itu klarifikasinya soal sinyal di JJF
Untuk masalah pilihan, yes, I do agree with you.
March 11th, 2010 at 1:40 pm
saya setuju dengan memberikan pilihan itu. karena semua memang butuh keseimbangan, harus ada yang pro dan kontra.
tapi kadang yg ironis ketika ternyata mereka memilih memihak lawan cuma untuk membuatnya ‘berbeda’. Tanpa visi jelas di belakangnya, tanpa alasan kuat yg mendasarinya. Nggak jarang mereka sebenernya mengingkari prinsipnya sendiri. Mereka cuma ingin ‘terlihat beda’ karena berada di pihak lawan. Itu munafik kan namanya?
Menurut Pandji gimana?
March 11th, 2010 at 10:28 pm
maaf, Mas Pandji.. Sebenarnya.. Tayangan Lawak tersebut sudah diberi keterangan. (perangkat lunak, tidak berbahaya)
Jadi semua kesakitan yg nampak hanya sebuah akting… walopun ada hal yang tidak disengaja…
December 31st, 2011 at 5:59 pm
It’s good that we are able to receive the personal loans and that opens up completely new possibilities.