Sebuah diskusi terbuka…
Category: Uncategorized | Author: Pandji Pragiwaksono
-
Pagi ini gue menemukan sebuah shout di pandji.com yang mengarahkan gue ke sebuah link.
Disitu gue bertemu dengan Avanti yang punya masukan terhadap lirik di album gue.
Menarik sekali bahasannya Avanti, gue kemudian membalas opininya disini.
Silakan baca dibawah ini ya…
Ji, pertama2 sukses ya albumnya.. tp sejujurnya pas denger lagu lo, gw langsung bingung dan mengrenyitkan dahi.
Yang gw dapet dari liriknya kurang lebih = ‘Jangan cman membuat wacana-wacana tanpa solusi’ alias, Jangan suka ngritik doank, tp gag ngasih jalan keluar.
Bukannya wacana dan solusi itu suatu proses yang gradual dan berkesinambungan? Gimana mgkn kita bisa ngasih solusi atau do something kalo ga pernah ada wacana dan kritik itu sendiri?
Terus juga gw agag bingung ama lirik lagu dia yg judulnya ‘Ada Yang Salah’.
“Ada lagi nih, Masalah surat kabar, atau koran.
Yang merasa berlangganan coba angkat tangan?
Namanya langganan pasti bayarnya diblakang, tapi, buat apa kalau kabar buruk doang ha?
Pembunuhan, Kebakaran, Korupsi, lalu pemerkosaan.
Ga mampu bayar sekolah lalu bunuh diri, atau artis, ketangkap bawa ecstasy, masak sih? Hutan kita tebang cuma buat gini?
Buat apa bayar untuk dapet kabar sedih?
(Eh tapi ini fakta bung)
Tapi faktakan nggak harus begini, coba usik orang orang yang demo di jalan.
Metoda yang sama dipake tahun 60an, coba gue tanya prosentase keberhasilan, dalam metoda kalian turun kejalan, bandingkan dengan keberhasilan kalian bikin macet di jalan?”Sebagai orang yang membaca koran tiap hari, gw ngerasa lirik Panji ini cukup ada yang salah. Apa mgkn koran yang dibaca Panji itu mgkn koran lampu merah? Kalo itu gw sepakat, isinya emang trashy bgt, dan ga perlu dilangganin. Menurut gw, membaca itu adalah suatu sikap hidup yang sangat membangun kita. Koran juga menjadi jendela kita melihat kondisi dunia dan juga negara kita. Koran (bukan lampu merah dan sebagainya-red) membuat kita bisa lebih aware dan care untuk do something untuk memperbaiki negeri ini. Seperti misalnya, kasus anak bunuh diri karena gag bisa bayar sekolah, ini menurut gw bukan kisah sedih yang diangkat oleh koran tanpa alesan. Ini jelas menunjukan bahwa kemiskinan di Indonesia ini udah semakin parah, dan kita harus aware dan melakukan sesuatu dengan cara kita masing2.
Terus juga soal demonstrasi,ya Panji, fyi, demonstrasi adalah suatu konsekwensi logis dari negara demokratis. Demonstrasi adalah salah satu cara untuk mengaspirasikan pikiran kita. Parameter kesuksesan suatu aksi bukan semata2 langsung terkabulkannya materi yang di demonstrasikan.Tp dengan kita berdemonstrasi bisa membuat pihak pihak lain lebih aware dan malah mgkn terinsipirasi. Orang ga mgkn demo kalo ‘gada yang salah’ dengan negeri ini. Jadi pesan dan esensi dari demo itu sendiri harus dikontemplasikan dulu. Bukan menstigma demonstrasi = kemacetan.
Ya mgkn itu opini gw sih, Ji
Mudah2an kita bisa sama-sama membangun Indonesia dan menjadikannya lebih baik lagi.Sukses deh sekali lagi albumnya, gw salut lo berani keluar dari comfort zone. Terus berkarya dan berkesenian!
-
Pandji Pragiwaksono said… - Hai Avanti

Ini response-ku ya?“Yang gw dapet dari liriknya kurang lebih = ‘Jangan cman membuat wacana-wacana tanpa solusi’ alias, Jangan suka ngritik doank, tp gag ngasih jalan keluar.
Bukannya wacana dan solusi itu suatu proses yang gradual dan berkesinambungan? Gimana mgkn kita bisa ngasih solusi atau do something kalo ga pernah ada wacana dan kritik itu sendiri?”Gue setuju.
Dan terus terang, yang elo dapet bukanlah yang gue beri (ciee, keren ya
)
Album gue tidak memberikan pesan itu karena gue juga meyakini bahwa kritik tidak selamanya harus langsung disertai solusi. Kadang solusi datang setelah melewati proses dimana diskusi bisa jadi salah satu bagian dari proses tersebut.
Album gue ingin memprovokasi.
Karena dari provokasi, harapan gue, muncullah diskusi (persis seperti yang kita lakukan sekarang
)
Dari diskusi akhirnya kita bisa betul betul membahas dan mempelajari sebuah subjek secara cermat. Di akhir semua itu, Insya Allah yang terbaik akan muncul ke permukaan.
Terlalu sering kita menelan mentah mentah tanpa menyaring terlebih dahulu.“Sebagai orang yang membaca koran tiap hari, gw ngerasa lirik Panji ini cukup ada yang salah. Apa mgkn koran yang dibaca Panji itu mgkn koran lampu merah? Kalo itu gw sepakat, isinya emang trashy bgt, dan ga perlu dilangganin. Menurut gw, membaca itu adalah suatu sikap hidup yang sangat membangun kita. Koran juga menjadi jendela kita melihat kondisi dunia dan juga negara kita. Koran (bukan lampu merah dan sebagainya-red) membuat kita bisa lebih aware dan care untuk do something untuk memperbaiki negeri ini. Seperti misalnya, kasus anak bunuh diri karena gag bisa bayar sekolah, ini menurut gw bukan kisah sedih yang diangkat oleh koran tanpa alesan. Ini jelas menunjukan bahwa kemiskinan di Indonesia ini udah semakin parah, dan kita harus aware dan melakukan sesuatu dengan cara kita masing2.”
Avanti, bagi gue Koran adalah salah satu musuh global warming.
It doesnt make sense.
Bukan rahasia bahwa untuk membuat koran, begitu banyak pohon yang jadi korban.
Lalu buat apa kita melihat begitu banyak KAMPANYE PENANAMAN 1000 POHON kalau kita tetap mengkonsumsi secara boros produk yang menumbangkan pohon??
Kayak nanem 1000 pohon dan kemudian tebang 1000 pohon.
Kenapa? Terutama ketika sekarang sudah ada detik.com, kompas.com, liputan6.com, metrotvnews.com, cnn.com, tempointeractive.com, time.com, dll.
Bikin koran itu, nebang pohon, kemudian dengan sejumlah truk dibawa ke pabrik untuk jadi pulp, dibawa lagi ke pabrik lain untuk dipotong dan dijadikan kertas, kemudian dibawa lagi ke pabrik lain untuk diisi tinta dan menjadi koran.
Apakah kita harus melalui semua proses mahal dan boros tadi 10-15 tahun dari sekarang?
Berapa banyak limbah dan polusi dari semua proses itu?
Tentu internet belum bisa diakses dgn mudah oleh semua orang, tapi untuk yang bisa seperti elo dan gue, buat apa langganan koran?
Ngapain nunggu besok pagi untuk tahu berita terpanas? Gue bisa tau detik ini.
Gue sebenarnya gapapa kok dengan berita buruk itu, tapi gue ga mau bayar dan menumbangkan pohon untuk itu.
Provokasinya adalah: Berhenti langganan koran
“Terus juga soal demonstrasi,ya Panji, fyi, demonstrasi adalah suatu konsekwensi logis dari negara demokratis. Demonstrasi adalah salah satu cara untuk mengaspirasikan pikiran kita. Parameter kesuksesan suatu aksi bukan semata2 langsung terkabulkannya materi yang di demonstrasikan.Tp dengan kita berdemonstrasi bisa membuat pihak pihak lain lebih aware dan malah mgkn terinsipirasi. Orang ga mgkn demo kalo ‘gada yang salah’ dengan negeri ini. Jadi pesan dan esensi dari demo itu sendiri harus dikontemplasikan dulu. Bukan menstigma demonstrasi = kemacetan.”
Gue mau memfokuskan pada kalimat
“Demonstrasi adalah salah satu cara untuk mengaspirasikan pikiran kita. ”SALAH SATU.
Bukan SATU SATUNYA.Tapi faktanya adalah (terutama bagi mahasiswa)satu satunya cara untuk mengaspirasikan pikiran kita, kepedulian kita terhadap keadaan negara, adalah dengan demonstrasi.
Mana cara yang lain?Apa yang salah dari demonstrasi?
Demonstrasi adalah bukti bahwa kebanyakan orang (terutama mahasiswa) saat ini stagnan. Dan nyaman di Comfort zone.
Sumpah pemuda, Kebangkitan Nasional, adalah bukti bahwa jaman dulu anak mudanya inovatif dan keluar dari solusi yang umum pada masa itu.
Saat ini, semua orang, rakyat Indonesia disemua daerah belajar dari para mahasiswa.
Merekapun, berdemo.
Tapi apa yang terjadi dengan mereka ketika berdemo?
RUSUH.
Elo dan gue dan siapapun yang baca obrolan kita ini tau bahwa banyak demonstrasi yang berakhir rusuh.
ITU BUKAN SEMANGAT DEMONSTRASI.
Mereka disusupi.
Disusupi provokator.Bagaimana cara kita (terutama mahasiswa) menghentikan aksi rusuh terhadap sesama bangsa Indonesia?
SOLUSI LAIN UNTUK MENGASPIRASIKAN PIKIRAN KITA DILUAR DEMONSTRASI
Mahasiswa = MAHA SISWA.
Siswa paling MAHA.
Seharusnya mahasiswa lebih pintar untuk mencari solusi solusi lain.
Solusi baru.
Yang bisa menjadi solusi baru untuk rakyat yang selalu menatap kepada para mahasiswa.Dengan provokasi untuk mencari dan menjalankan solusi baru, mahasiswa jadi kembali inovatif.
Saat ini, semua berdemonstrasi karena sekedar demosntrasi.
Gue pernah melihat 8 orang demo di bunderan HI dengan bendera organisasi yang lebih besar daripada pesan pesan yang tertulis di kertas A2 yang mereka bawa.
Apa yang sebenarnya sedang diteriakkan?
Pesan?
Atau Bendera organisasi-nya?Provokasinya: Cari solusi lain SELAIN demonstrasi
Begitulah kira kira jawabanku yang singkat…
21 Comments
1 Trackback(s)
- May 13, 2008: Mendobrak keterbatasan… | Pandji Pragiwaksono



































21 Responses to “Sebuah diskusi terbuka…”
By
magda on May 8, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
pandji… gue salah satu yang terprovokasi dengan masalah koran… gue berenti langganan koran.. (walaupun masih beli yang hari minggu karena banyak berita seni-nya).. tapi ya.. gue pikir.. gue bisa online kapan aja dan dimana aja.. ngapain gue harus memotong pohon (secara ngga langsung)… lagipula.. ngga ada untungnya baca koran pagi2… malah jadi “panas” hati ini.. mendingan begitu kita siap untuk hal terburuk.. lahap deh tuh berita… online saja lah.. hehehehhe..
sukses ya ‘ndji… I like your thought… a lot!!
By
TaRee on May 8, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Ndji, gw bahkan belum pernah berlangganan koran dari dulu krn biasanya akses informasi gw dapet dr browsing internet, televisi dan radio tentunya..
Tapi kalo beli buku gpp kan Ndji??
By
Rama on May 8, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
“Website is the New Morning Newspaper” nah kalo itu salah satu campaign gue
Menurut gue, nggak perlu ribet lah ngitung berapa banyak pohon yg dibutuhin untuk produksi koran, toh untuk listrik yg kita pake untuk komputer yg dipake buat baca berita juga ada energi-energi yg modalnya dr lingkungan yang terpakai. Berarti kalo mau sayang lingkungan kita bisa-bisa miskin informasi?
Lagian kenapa nggak program tanam nya aja dibanyakin, kalo buat koran2 itu butuh 1000 ya berarti tanam nya 2000 pohon dong.
Soal Demo… pendapat gue straight to the point aja ya: Orang Indonesia nggak cocok dengan budaya demo turun ke jalan.
Saudara-saudara kita itu kalo udah berkumpul dan berada dijalan langsung berasa jadi raja dan sah ngapain aja. Demo di lagu Pandji gue anggap adalah demo yang turun ke jalan yang SELALU bikin macet. Jangankan demo, saudara2 kita pengendara motor itu kalo udah ujan merasa sah kalo rame-rame berteduh dibawah jembatan, nggak peduli bahwa mereka semua menggunakan 3 jalur dari 4 jalur jalan! Dalih nya kalo bikin macet “ya kan lo enak nggak ke ujanan, walaupun macet”, padahal kalo mereka kena macet mereka akan ngomel yang berbeda.
Coba liat esensi demonstrasi, artinya kan menunjukkan sesuatu. Kenapa nggak berkumpul di satu lapang luas, nggak bikin macet, kalo memang ramai pun pasti akan disorot media. Kecuali memang tujuannya beda ya. Untuk para mahasiswa yang suka demo, coba deh pikir ulang, berkumpul di tempat umum yang melibatkan banyak banyak pihak lain itu resiko disisipi oknum nya besar, buntut nya malah nggak dapet simpati.
Kalo dilapangan, paling ‘disisipi’ copet hehehe…
Waktu kuliah gue juga ikutan demo-demo itu, tapi cara kita beda. Kita lebih seneng nempel-nempel poster gambar terompet (gue nggak tahu darimana ide gambar terompet itu, gue jd pekerja aja saat itu) dan bikin iklan koran gambar orang utan (kalo ini gue yang bikin, udah lupa tapi alesannya apa).
By
Henri on May 8, 2008 | Reply | Review of this comment
+1
Hai Ndji,
Gua adalah salah satu orang yang tertarik dengan lirik lagu lo….,
tapi ada yang mengusik pikiran gua mengenai motto lo yang provocative proactive, yang lo tuangin di lirik-lirik yang loe buat…
Provokasi yang lo buat memang sangat menarik untuk didiskusikan, diskusi,
diskusi….,diskusi……..,diskusi…………., tanpa ada tindakan nyata yang berarti secara global dan bersama sama, contoh apa yang sudah lo dan lingkungan sekitar lo sudah lakukan misalnya….
Gua dengerin lo setiap pagi di GMHR dan lo juga ada di beberapa di acara TV yang bukan merupakan acara untuk memberikan sesuatu yang sensitif atau memprovokasi tapi acara entertainment….
Lo mendekati artis, bukan provokator…………
Apakah lo membuat semua ini untuk mendongkrak reputasi, atau lo benar-benar ingin melakukan provokasi dari dalam hati ? apakah lo punya target, misal : berapa banyak yang berubah karena provokasi yang lo lakukan ?
Ini adalah pertanyaan provokasi buat lo…
God Bless, salam buat temen lo yang mukanya tua…….
By
oi on May 8, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
sebenarnya g setuju dengan maksud pandji lewat lirik lagu “ada yang salah”, tapi g juga merasa avanti punya sesuatu lewat pendapatnya..terus terang g juga berlangganan koran karena g merasa ada yang kurang kalo tidak membaca koran satu hari saja,walau pun ada internet di kantor(atau pun di rumah), tetap aja g cari berita di koran.knapa?lewat koran g menemukan suatu kepuasan tersendiri dan itu tidak bisa g temukan ketika g membaca berita lewat internet(kompas.com,detik.com,etc..)
g bisa membaca koran dalam 1/2-1 jam/hari ..kalo membaca berita yg sama lewat laptop/pc dengan waktu yang sama,berapa energi listrik yang harus di keluarkan dan radiasi monitor yang dihasilkan,walau kecil tapi tetap aja ada listrik yang digunakan.
memang sih jumlah pohon yang ditebang untuk sebuah koran,tdk bisa dibandingkan dengan penggunaan energi listrik tuk laptop/pc (blum ada surveynya..?), jadi menurut g kesimpulannya,smua balik ke pribadi masing2x, mana yang menurut kita lebih bisa menyelamatkan bumi ini,entah dengan berlangganan satu jenis koran saja, atau di siplin dalam penggunaan laptop/pc,sehingga energi listrik(walau kecil) yg di gunakan tdk (menjadi)boros,.. karena segala sesuatu pasti ada resiko dan harga yang harus dibayar, tinggal bagaimana cara kita memandang suatu perubahan..pandji you are right, we need to think out of box..avanti,i agree with you opinion,i still need newspaper to teach me about the world and what happened with it,especially about our coutry..
tentang demonstrasi,khususnya yang berkaitan dengan maha siswa..g kgk bisa bilang apa2x ,g kgk bisa bilang maha siwa salah langkah,
para maha siswa mungkin harus mencoba “think out of box”dalam menyampaikan aspirasinya,dan tidak terjebak dalam kisah 1998..
memang tidak gampang dalam menyampaikan suatu aspriasi/solusi,apalagi ke negara ini,tapi saya percaya para maha siswa indonesia,punya kemampuan intelektual yg dashyat dalam menganalisa suatu masalah dan solusi,yang sayang aja,kalo cuma di salurkan lewat demonstrasi yng rawan di susupi provokator atau pihak ke-3,yang akhirnya berakhir rusuhh
ayo kita sikat2008..!!
mari hentikan kekerasan mulai dari diri kita sendiri..;-)
By
Avanti a.k.a Vai on May 9, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Pandji, kalo ga keberatan, gw boleh sedikit komen singkat, ya? Hehe..
Pandji, kita, Indonesia ini punya banyak sekali persoalan. Krisis ekonomi, krisis pangan, global warming, keadilan, korupsi, menghadapi kekuasaan yang represif dan lain sebagainya. Dan yang perlu diketahui bahwa SEMUA persoalan itu cukup berat. TIDAK ADA yang lebih berat dari pada yang lainnya, dan SEMUANYA perlu mendapatkan prioritas. Oleh karena itu, masalah-masalah ini JANGAN DIADU. Seperti misalnya kita harus mengorbankan kebebasan mengutarakan pendapat (dalam hal ini misalnya koran) untuk mengatasi global warming.
Sama seperti halnya Kita tidak bisa mengorbankan DEMOKRASI untuk mengatasi kemacetan lalu lintas karena demonstrasi. Seperti yang gw katakan sebelumnya, dan juga km sepakati, demonstrasi adalah SALAH SATU cara untuk mengemukakan pendapat. Seperti halnya Pandji mengemukakan pendapat dengan cara nge-rap. Yang perlu di garis bawahi, semua orang mempunyai cara masing2 untuk mengemukakan pendapatnya. TIDAK ADA yang PALING BENAR, ATAU PUN SALAH. Itulah sesuatu yang perlu kita hargai. Dan kita juga patut bersyukur hidup di negara yang DEMOKRATIS. Bukan negara TOTALITER.
Generalisasi sudah dikenal membawa kita kepada kesimpulan yang salah. Oleh karena itu Pandji, mungkin ada baiknya segala masalah atau segala FENOMENA itu dipandang dan dianalisis secara KOMPREHENSIF. Agar menghindari pengambilan kesimpulan yang tergeneralisasi tanpa tahu benar seluruh aspek dan kondisi.
mgkn itu sedikit tanggapan gw, Pandji
Btw, thx banget loh dah mau menanggapi sedikit masukan dari gw di blog ini 
By
aldi on May 9, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
ikutan komentar yah
mau share pengalaman soal demonstrasi mahasiswa. kebetulan gue termasuk yang pernah ikut merasakan demonstrasi mahasiswa itu di bawah bendera organisasi mahasiswa universitas yang pakai nama negara ini.
kalau yang gue alami dulu, pas kita demonstrasi, kita gak sekedar demonstrasi teriak-teriak di jalan. pas kita ke dpr, kita beusaha menemui para anggota, dan menjelaskan maksud dan tujuan kita. tapi kita gak maksa untuk langsung setuju apa gimana. kita minta diskusi.
granted, emang ada beberapa demonstrasi yang berakhir rusuh, atau cuma bikin macet aja. tapi gak semua gitu kok. ada yang berjalan baik dan pesan yang dibawa tersampaikan.
By
Erwin Baja on May 9, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Hi Ndji,
Menurut gw, orang Indonesia terutama orang mudanya memang perlu diprovokasi untuk mulai berjuang dengan cara-cara lain, dan terutama berjuang lewat karya-karya nyata…
Gw setuju kalo soal demo itu…meski demo memang konsekwensi negara demokrasi, tapi efektifitasnya dalam mencapai tujuan sangat dipertanyakan. Selain itu, di negara ini demo pada akhirnya cenderung anarkis dan destruktif, apalagi biasanya para peserta demo kebanyakan adalah ‘tentara bayaran ‘
Tapi kalo yang soal baca koran, gw setuju dengan Avanti. Lagipula gw ngerasa loe rada bias juga, pesan yang mau loe sampaikan sebenarnya soal isi yang tidak bermutu (’kabar buruk’ katamu) ataukah soal global warming ? Kalau isi-nya banyak kabar buruk, so what ? Loe pernah dengar khan istilah’ bad news is good news’.. gw langganan koran bukan buat soal berita baik atau berita buruk, tapi lebih ke mendapatkan informasi dan knowledge. Lagipula kalau semuanya mau lewat metoda on-line, apa sodara2 kita di kampung dan dusun2 terpencil sudah bisa on-line? Kalo gak ada koran (in paper) bagaimana mereka bisa dapat informasi yang juga kita dapatkan ? Coba bayangkan seandainya versi paper dari koran di haramkan di negeri ini dengan dalih menyelamatkan hutan, apa masih ada lagi kebebasan mendapatkan informasi ? Tambah parah lagi dengan UU ITE terbaru dimana pemerintah bisa aja kelak seenaknya menutup akses ke situs2 yang dianggap tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah.
Kalau loe concern soal penebangan hutan, gw sarankan in your next album supaya kasih provokasi soal pemberantasan pembalakan liar
Segitu dulu Ndji…salam buat Steny ya…
By
theo on May 9, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
ngga tau kenapa..pertama kali dengerin lo bawain provokatif proaktif ..gw langsung “jatuh hati ” ama lo dan acara itu ..(in the right way yaa..) sebenarnya yang sekarang negara kita butuhin adalah orang - orang kaya lo, gw sudah cukup muak dengan banyak banget orang yang cuman bisa ngomong dan ngga pernah ngelakuin apa yang mereka omongin..gw pengen muntah denger semua janji yang pernah diteriakan dimana-mana dan itu hanya jadi seperti dongeng semata yang ngga pernah jadi kenyataan. Negara ini terlalu kaya, dan sangat di sayangkan jika hanya diisi dengan orang -orang yang hanya menggunakan mulutnya dan bukan otaknya, tapi bukan berarti kita mau diam juga kalo ada yang ngga bener ya..cuman pointnya..actions speak louder than words rite? gw belajar banyak dari pikiran dan karya lo bro.. semoga lo bisa jadi inspirasi buat banyak orang, jadi keep in a gud work yaaa…salam manis buat gamila dan dipo …
bless..
By
Bauer on May 11, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
ndji, gw sbenrnya sepakat sama avanti. menurut pendapat gw koran itu lebih simple dan lebih efektif dan efisien dibawa kemana2 dan dibaca dimana2.
kalo lo bilang dengan ngakses informasi dari internet biar ngurangin pembelian koran demi mencegah global warming, apa lo ga tau kalo laptop dan komputer itu juga ngabisin energi? terus juga kan bandwith internet itu juga harus dihemat, ndji? jadi kayak gali lobang tutup lobang aja donk?
terus kalo soal demonstrasi, gw sendiri sih ngerasa itu suatu ekspresi yang harus kita hargai dari masyarakat. emang gw sendiri ga menyarankan orang2 utk ngaspirasiin pendapatnya lewat demonstrasi doang, ada banyak cara memang sperti yng lo bilang, cman gw sendiri ngerasa lebih bijak kalo ga menghakimi tindakan demonstrasi itu cman bikin macet aja. Emang sih ndji. ada demonstran2 yg ditunggangi provokator, tp, banyak juga yg enggak loh. Mgkn emang ada baiknya jangan digeneralisasi hanya dari comot beberapa kasus.
ok mudah2an bisa jadi masukan hehe.
salam buat penyiar2 hardrock yg lain ya
By
Pandji Pragiwaksono on May 12, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
By TaRee on May 8, 2008 | Reply | Edit
“Tapi kalo beli buku gpp kan Ndji??”
Gapapa Tari, buku tidak dibuang. Koran abis dibaca, besok dibuang. BUAT APA BELI? Tissue dibeli utk dibuang, tapi pengganti tissue apa? Dan kalau ada pengganti koran, kenapa beli?
By Rama on May 8, 2008 | Reply | Edit
“Lagian kenapa nggak program tanam nya aja dibanyakin, kalo buat koran2 itu butuh 1000 ya berarti tanam nya 2000 pohon dong.”
Saran elo itu seperti terus mengisi air pada ember yang bocor dimana seharusnya supaya ga capek dan buang buang energi, kita menambal lobangnya.
By aldi on May 9, 2008 | Reply | Edit
“kalau yang gue alami dulu, pas kita demonstrasi, kita gak sekedar demonstrasi teriak-teriak di jalan. pas kita ke dpr, kita beusaha menemui para anggota, dan menjelaskan maksud dan tujuan kita. tapi kita gak maksa untuk langsung setuju apa gimana. kita minta diskusi.
granted, emang ada beberapa demonstrasi yang berakhir rusuh, atau cuma bikin macet aja. tapi gak semua gitu kok. ada yang berjalan baik dan pesan yang dibawa tersampaikan.”
Yang aldi lakukan juga dulu gue lakukan ketika mahasiswa, tahun 1998 gue juga menjadi bagian dari mahasiswa yang turun ke jalan. Dan hasilnya kita semua tau. Tapi gue-pun tau banyaknya mahasiswa (gue harus jujur kepada diri sendiri dan kepada kalian) yang dengan sengaja memancing aparat untuk memukulnya agar bisa dijadikan senjata bahwa aparat berlaku kekerasan (Gue liat dengan kata kepala gue dan mendengar rencana itu dengan kuping gue sendiri)
Dimana kebenaran dari itu?
By Erwin Baja on May 9, 2008 | Reply | Edit
” Lagipula gw ngerasa loe rada bias juga, pesan yang mau loe sampaikan sebenarnya soal isi yang tidak bermutu (’kabar buruk’ katamu) ataukah soal global warming ? Lagipula kalau semuanya mau lewat metoda on-line, apa sodara2 kita di kampung dan dusun2 terpencil sudah bisa on-line? Kalo gak ada koran (in paper) bagaimana mereka bisa dapat informasi yang juga kita dapatkan ? Coba bayangkan seandainya versi paper dari koran di haramkan di negeri ini dengan dalih menyelamatkan hutan, apa masih ada lagi kebebasan mendapatkan informasi ? Tambah parah lagi dengan UU ITE terbaru dimana pemerintah bisa aja kelak seenaknya menutup akses ke situs2 yang dianggap tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah.”
Menarik. Seperti yang gue udah bilang diatas, untuk kita yang punya pilihan mengakses lewat internet, seharusnya kita mulai pindah ke situs berita online. UU ITE? Menarik juga, koran dan majalah juga pernah diberedel kan?
Nah sehubungan dengan bias apakah gue concern dengan berita buruk dan global warming? Keliatanya cara gue menyampaikan pesan harus diperbaiki
BAGI GUE, buat apa beli koran yang dengan sengaja mengumbar kabar buruk agar terjual? Buat apa membeli dan besok membuang kalau gue tahu bahwa itu semua mengorbankan pohon? Buat apa?
Ada sebuah stasiun TV yang mengiklankan program beritanya…
Presenternya berkata: TERDEPAN, TERCEPAT, TERPERCAYA, dll.. sepanjang iklan itu gambar yang ditayangkan SEMUANYA kekerasan, kerusuhan, perang. MEMANGNYA BERITA CUMA ITU? Ini iklan lho guys. Produk yang didesain untuk membuat orang tertarik. Emang cuma kekerasan yang yang menarik perhatian orang? Mana potongan gambar pemimpin dunia berjabat tangan? Mana berita bagus yang monumental? Gue ga percaya kalau selama ini ga ada.
“Kalau loe concern soal penebangan hutan, gw sarankan in your next album supaya kasih provokasi soal pemberantasan pembalakan liar
”
Hey, that’s a GREAT idea! Thx man
By Bauer on May 11, 2008 | Reply | Edit
“Mgkn emang ada baiknya jangan digeneralisasi hanya dari comot beberapa kasus.”
Gue adalah salah satu orang yang menghindari pukul rata alias generalisasi.
Tapi di benak gue, gue bertanggung jawab untuk memicu orang (mahasiswa terutama) untuk mencari solusi baru. Tidak semua berakhir kerusuhan, tapi kalau ada metoda lain, tidakkah itu akan mengurangi kemungkinan rusuh?
Ayo yang lain mana pendapatnya?
By
galih on May 12, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
halo, mau ikutan ngasih pendapat nih.
sbenernya gw bukan orang yg langganan koran, tp biasanya gw minjem koran orang untuk dibaca. hehehehe. maklum anak kost. atau gag ya patungan buat beli koran, soalnya jurusan gw mengharuskan kita selalu update dan tau isu2 dan informasi terbaru. jadi gw pikir sih daripada anti beli dan baca koran, mendingan anti beli koran sendirian. jadi mending patungan biar lebih efektif dan efisien hehehe…
kalo menggantikan koran dengan situs internet gw pikir sih bener juga si bauer. kayak mencoba memecahkan masalah, dengan membuat masalah baru. ngakses internet kan butuh listrik, energi dan bandwith juga. dan semua itu pun harus dihemat. jadi gag bisa donk mencoba menghemat kertas, dengan membuang2 listrik energi dan bandwith? gimana tuh ndji..??
soal demonstrasi, gw sebenernya termasuk mahasiswa yg bbrp kali ikut demonstrasi. jujur ndji, dulu gw sebenernya memandang sebelah mata dan menganggap kalo demonstrasi tuh gada gunanya, ngapain juga sih. samalah kayak yg lo suarakan dilirik lo.Tapi setelah gw ikut berdiskusi dan tau nilai2 yg mau diperjuangkan, gw pun ikut demonstrasi, dan berusaha menyuarakan aspirasi (kayak soalnya misalnya soal krisis pangan yg makin parah) dan gw yakin demonstrasi yg gw lakuin dengan temen2 itu tidak ditunggangi provokator. makanya gw agag ga sepakat dengan kesimpulan dan statement lo itu.
nah, kalo loe bilang loe bukan orang yg melakukan pukul rata atau generalisasi tuh ndji, berarti kesimpulan yg lo ambil itu udah berdasarkan penelitian dan observasi yang bisa dipertanggungjawabkan belum? dan kalo emang udah, emang yg udah lo teliti itu demonstrasi mana aja? mahasiswa mana aja? apa cuman pengalaman pribadi dan ngeliat bbrp demo aja? harus dijelaskan donk.. kalo soal penelitian berarti kan harus ilmiah juga jawaban dan kesimpulannya ndji. jadi orang bisa tau kalo statement lo itu berdasar apa enggak.
soal solusi lain yg lo harapkan orang2 bisa cari dan temukan itu, sebenernya bagus ndji. Gw pikir juga kita harus lebih kreatif untuk bisa memecahkan masalah. Tapi kondisinya sekarang, masyarakat kita penuh dengan keterbatasan. Apalagi masyrakat miskin. Makanya yg sering terjadi mereka cman bisa demonstrasi. Nulis di koran/website gag bisa, bikin album dan nge-rap kayak lo juga ga bisa, menduduki kursi di pemerintahan juga ga bisa. Jadi demonstrasi adalah alternatif yg paling memungkinkan mereka lakukan. Atau mgkn menurut lo hal apa yg bisa rakyat miskin lakukan untuk nyuarain pendapatnya?coba mgkn lo bisa jawab.
Nah, kalo soal mahasiswa nih, gw rasa mahasiswa sekarang ini gag cman demo aja kok. Banyak mahasiswa yg udah nulis di koran, bikin buku, bikin jurnal, blog, bikin acara sosial dan lain2. dan menurut gw semua itu adalah usaha untuk menyampaikan aspirasi dan memajukan indonesia.
mgkn segitu dulu pendapat gw,, thx dah bole numpang ngasih pendapat
By
Pandji Pragiwaksono on May 13, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
How do we explain this?
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008
Hay kawan kawan, bacalah posting gue yang berjudul MENDOBRAK KETERBATASAN

By
ananda badudu on May 14, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Pandji pragiwaksono, perkenalakan saya ananda badudu,saya bukan rapper, saya cuma mahasiswa biasa, tapi boleh kan saya mencoba untuk battle dengan anda??hahaha…..saya mau ngebattle lagu anda yang judulnya ada yang salah ok..
judulnya:
“Ada yang salah dengan lagu lu Ndji”
Yoouw..yoouw…yoouw
Eungh..eungh…eungh..orang mesti denger lagu ini….eungh
Bayangkan, Pandji!
bisakah kau berbicara sebebas ini
jika tragedi 98, trisakti, semanggi tak pernah terjadi?
dan perjuangan yang mereka lakukan, bukan hanya celoteh tanpa nada doang..
nyawa dihadapkan, dengan peluru tajam
apa itu untuk kepentingan mereka Ya?
apa itu untuk masa depannya ya?
atau untuk buat orangtuanya bangga Ya?
Yang bikin elu pandang sebelah mata
gua curiga..emang yang salah tu elunya
“ketawa”
bilang demo bikin macet doang
umur 21 ga cocok lagi demo dong ndji
mahasiswa cocoknya ngerap kayak pandji..
elu bilang masalahnya di persentasi
biar gimana juga lue bebas bicara sekarang
HaHa..
Langsung serangan balik ala chelsea..
mereka turun ke jalan untuk kebebasan elu juga ndji….
(tompi)
ini lirik, belum jadi lagu
tapi ini untuk membuka pikirmu
kalau rapper ini ngomong pikir dulu
ayo hindari oversimplifikasi pangkat tujuh..
By
Pandji Pragiwaksono on May 14, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
HAHAHAHAHAHAHA
KEREN ABISSSS!
WAH, TERSANJUNG GUE!
Cara elo menulis betul betul hebat.
Akhirnya ada juga mahasiswa yang mampir
Menarik sekali elo ngambil momen tragedi trisakti 98.
Kala itu, gue juga ikutan demonstrasi.
Bedanya, gue di Bandung.
Semua kampus di Bandung turun ke jalan pada hari yang sama, tidak ditahan oleh polisi, malah diiringingi para polisi.
Mereka senyum bercanda dengan kami, dan kami dengan bebas dan bangga menyuarakan suara rakyat.
Ketika ada ibu ibu melambaikan tangan kepada kami, gue (entah yang lain) merasa terharu dan semakin bangga.
Rasanya, kamilah yang mereka harapkan untuk membawa negri ini kepada sebuah perubahan.
Itu 1998.
Sejak itu, kebebasan bicara (termasuk oleh gue) semakin terbuka.
Nggak ada lagi kekhawatiran terhadap PETRUS (penembak misterius)
Ga ada kejadian itu, mungkin gue bisa ditembak ketika lagi ngerap.
HAHAHA
Hari senin kemarin, kompas.com bilang BIAYA MASUK PTN BISA JADI LEBIH DARI 100 JUTA.
Kata banyak orang, inilah yang menyebabkan kemahasiswaan banyak yang melempem. Bahkan ada yang bilang “mati”
Mahalnya kuliah membuat mereka semakin fokus hanya kepada kuliah.
“Kuliah mahal mahal, ditinggal untuk demo” kata mereka.
Banyak yang nggak enak sama orang tuanya.
Gue memuji mereka yang masih mau memikirkan rakyat diatas diri sendiri (walaupun sebenarnya yang bayarin kuliah mungkin orang tua)
Tapi gue juga menghormati mereka yang memilih fokus kepada kuliahnya.
Banyak temen temen gue yang demo dulu di kampus hidup dari beasiswa. Sehingga tidak perlu lagi membenani orang tua.
Bagi gue, biar bagaimana juga, mahasiswa selalu punya tanggung jawab moral kepada rakyat.
Yang rumit memang bagaimana cara agar bisa terus menjalankan kuliah dan tidak membuang kepercayaan orang tua yang melahirkan kita, dan menjalankan perjuangan rakyat dan tidak membuang kepercayaan rakyat Indonesia.
Yang selalu gue tanya adalah: APAKAH CARANYA MEMANG HANYA DEMONSTRASI??
Tidak adakah cara lain?
Hanya itu kok.
Ada nggak cara lain yang bisa menurunkan kemungkinan rusuh.
Ada nggak cara lain yang bisa tidak bikin macet.
Ada nggak cara lain yang tidak harus meninggalkan jam kuliah.
Ada nggak cara lain selain demonstrasi
Maaf kalau ternyata banyak yang terprovokasi.
Harus gue akui, memang itu tujuan album gue
By
Dwi Qenthir on May 14, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Panji benar, bagi wartawan, “bad news is a good news”. Gw wartawan (pemerintah) yg banyak bergaul dengan wartawan ^_~
By
Rana on May 14, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Waduhhh, ribut soal demo yang mana nih secara demo khan banyak banget, ada demo masak, demo musik de el el…
Kalo mo jujur, demo mah penting friends….Pandji, loe jangan ngitung costnya demo doang dengan memasukkan factor rusuh, hitung juga benefitnya… yah paling gak, benefitnya buat loe sekarang berani cuap cuap tanpa takut besok gak bisa lagi ngeliat matahari keluar hix hix….(gue dengerin loe tiap pagi, apalagi gue ketawa tiwi denger cerita microfonenya stenji pagi tadi …uppsss)
tapi….. yang loe bilang demo bukan salah satunya, gue juga setuju …kayak plin plan ye gue… but please terusin baca comment gue, kayaknya model demo udah jadi generik sekarang, semua orang pake pola demo buat ngeluarin aspirasinya…dari mahasiswa, karyawan sampe para driver angkutan kesayangan kita he he…lama lama, pola demo gak exclusive lagi. kurang nendang githu !!! trus emang didengerin???? kalo dihitung cost and benefit, gak untung malah buntung….
Demo itu harus dibuat exclusive dan selalu harus ada terobosan baru. Mungkin timingnya jangan setiap ada kasus, mau minor mau major pake pola demo, khan boseennn. Jadi demo itu sekali sekali aja dan bener bener layak seperti tahun 98 itu….semua mata memandang ke kita dan hasilnya perubahan yang lain dari sebelumnya…apa gak sedep tuh !!!
Cara lain selain demo??? wah banyaklah… terus terang, gue salut sama Slank, bisa ngumpulin slanker puluhan/ratusan ribu???? lewat lagu, juga Iwan Fals…kita tanya sama mereka apa resepnya sampe punya fans sebanyak itu… khan mereka gak demo buat ngeluarin aspirasi mereka…lu khan juga dap mulai Pandji lewat modal ocehanmu hix hix….
So….demonya dibuat periodic lah, biar terkesan Seru dan eXclu !!!
Cheers
By
phe on May 16, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
ikut comment ya……..
menurut w sih demo cuma buat capek doank!!!! kenapa?????
coba liat pa yang bisa dihasilkan dari sebuah demo!!!!! kenyataanya hanya RUSUH n MACET selebihnya gak ada…….
partanyaan gue APA YANG MEREKA HARAPKAN DARI DEMO?????
masih banyak cara lain yang lebih baik dari DEMONTRASI…
w juga seorang mahasiswa tapi bagi gue demontrasi gak ada dalam kamus w, lebih baik w berkarya like pandji>>>.he…….
kita da capek demontrasi apa pernah diliat n didengar oleh para petinggi negeri ini!!!!!! yang ada dalam otak mereka adalah JABATAN, KEKAYAAN n HARTA..
bukan w under estimet tapi itulah yang ada……
apa kurang cukup tragedi 1998????? masihkah harus ada tragedi lainnya……
ayo mahasiswa tunjukan kalo kalian bisa menyalurkan aspirasi denga hal2 positive, ya like pandji yang memprovokasi orang2 lewat lirik lagunya…..(pandji jgn geer ya!!!he…….)
By
Master LegatO on Aug 25, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
Ane mw CommenT….!!
Emm.. ane jg mhsswa ne. Lagu Panji solo+Tompi asyIk jg. So, bcR msLh kualItas lagU mnRt ane dah Paz coZ amaNatnya KonstruKtif bngET. SemPet ane meLamuN ndiRI buaT ngaPresiasiin lagu2nYa. heH hgga dapet sebUah kesiMpulan bhw ane meZti berBuat. Karena ane KlyH di FKIP, jd ane coba ngadaain Pelatihan Komputer sebatas Office duanK ama anK2 disektaR rmh dlm Skala KeciL. GRATIS..!! itu Br nm nya tidaK hnya skdR Cuap-cuap Babe, tp Live do it something. Heh, jujuR lagu yanG Ghost SonG kaLo ngedengeR na Pake Head set full Bass weiH bikin mata kuyu lgsuNg NgelOtoTs… Nah, buat nyang Punya nih Blog ama Panji, udaH ngelakuin KebaiKan nyang ada nuanSa EdukatiF beloN?? EspeciaLLy nyang ada dsktR ente Punya Rumah??? keep sMile aZa… He he he Indonesia stay in my HearT
By
ianzho on Sep 7, 2008 | Reply | Review of this comment
+0
assalamualaykum…..
gue ian, pertama denger lagu lo di trax fm. gue mikir mikir kayaknya suara yang nyanyi(nge-rap) koq ga asing. terus tnyata gue tahu kalo itu adalah pandji yang sering nongol di tipi. pertama gue salut ama lo, walaupun lo udah bapak2 he… he… tapi masih aja eksis memprovokasi kita-kita yg masih muda. kedua, setelah gue dengerin lagu lo semua ada satu lagu yang ngena di hati gue tt masa kcl gue yng mirip ama lo. itu ngebuat gue berpikir bahwa tnyata gue ga sendirian. thx….ge tunggu provokasi2lo lainnya.