“Do you ever laugh outloud at the same joke twice?”

Sun, Dec 13, 2009

Uncategorized

 

Gue ada disana.

Gue ada disana tahun 1998

Gue ada dijalanan berbaris, berjalan bersama berteriak menuntut agar tirani diturunkan

Dan kami berhasil

Soeharto turun

Tapi mari gue kasih tau mengapa kami berhasil waktu itu:

Karena kami semua 100% meyakini hal yang sama, dan sama sama 100% turun ke jalan pada 1 hari yang sama di semua kota di Indonesia

Sekarang, bagaimana anak anak yang Cuma ber 10 di bunderan HI itu mau terdengar tuntutannya kalau teman teman sekampusnya sendiri, teman teman kampus lain, tidak mendengar ajakan mereka untuk ikut turun ke jalan?

Pada hari anti korupsi sedunia yang pada akhirnya sepi itu, terus terang gue kecewa.

Dari CANTEEN Plaza Indonesia ext gue melihat ke arah Thamrin

Berkelompok kelompok mahasiswa mondar mandir

Setiap kelompok rata rata membawa 8-10 bendera…

Dari 10 bendera tersebut, 9 adalah bendera identitas kampus/ identitas jurusan.

Dan 1 bendera adalah bendera Indonesia

Ini mungkin nggak aneh utk elo, tapi untuk gue, membuat gue bertanya

“kalau memang semuanya datang dan turun ke jalan untuk tujuan yang sama, apa pentingnya bawa banyak banyak identitas kampus?”

“Bawa 1 bendera kampus kan cukup bukan? Kenapa nggak bawa 10 bendera merah putih aja kalau memang mereka melakukan ini untuk kebaikan Indonesia dan bukan untuk kebaikan kampus mereka?”

Di sepakbola ada ucapan, “Nama di dada lebih penting daripada nama dipunggung”

Artinya lebih penting nama yang kita bela daripada nama pribadi.

Kadang hal hal seperti ini membuat gue bingung.

Apalagi kalau gue liat 15 mahasiswa di bunderan HI bawa tulisan tulisan di kertas A4 atau A3 sementara bendera himpunan atau bendera kampusnya besar besar dibawa dan dikibarkan

Apa yang mereka ingin sampaikan sebenarnya? Pesan tuntutan yang tertulis di kertas, atau identitas kampus?

Memang, memaaaang identitas kampus tetap penting supaya jelas siapa yang bertanggung jawab terhadap aksi ini

Tapi kalo bawa 2 bendera raksasa sementara tulisannya lebih kecil kan aneh juga diliat orang?

Kalau bawa 10 bendera kampus sementara Cuma bawa 3 lembar kertas bertulis tuntutan kan aneh juga bukan?

Tulisan ini terdengar skeptik terhadap demonstrasi dan blog gue (kalau elo search dengan kata : demonstrasi) sudah sering memicu perdebatan sengit (terutama dengan mahasiswa/i) tentang demo

Kali ini gue terangkan lagi

Gue bukannya ga setuju dengan menyuarakan hak kita dan mewakili suara rakyat yang tidak terwakili di DPR, tapi gue berharap mahasiswa menemukan solusi baru dari turun ke jalan

Karena rakyat, belajar , meniru dan mengikut dari mahasiswa.

Mahasiswa demo, ya rakyat demo

Bedanya kalau rakyat demo, mereka bisa disusupi

Akhirnya rusuh

Sehari sebelum hari anti korupsi sedunia, di makassar sesama mahasiswa berantem.

Sesama mahasiswa.

I dunno bout you, but i feel kinda stupid

Banyak yang akan bilang “Demo terbukti keberhasilannya menurunkan Soeharto!”

Betul, tapi sekaliu lagi gue ingatkan

Itu terjadi karena kami semua 100% meyakini hal yang sama, dan sama sama 100% turun ke jalan pada 1 hari yang sama di semua kota di Indonesia

Resiko dari mempertahankan demo adalah, saat ini demo sudah kebaca oleh “orang orang jahat” di Indonesia

Gue takut demo dimanfaatkan pihak pihak yang jahat.

Mana mungkin elo ga pernah dengar tentang jasa penyediaan demonstran?

Di berita berita aja banyak, orang orang demo dan ga ngerti apa yang mereka tuntut.

Mereka Cuma dibilang utk turun ke jalan dan dikasi uang 5000,-

Banyak pejabat yang bahkan ngaku pernah ditawarin orang yg menawarkan jasa demo.

Ada proposal dan paket paketnya.

Gila ga tuh?

Kalo penonton Dahsyat dan Inbox aja ada koordinatornya, masak demo ga ada?

Dan kalau tau hal hal seperti ini, masak para mahasiswa sebagai yang ditiru oleh rakyat ga ada tanggung jawab untuk menemukan metoda baru?

Yang aman?

Gini deh utk menerangkan mengapa gue menganggap metoda demo kalau diulang ulang terus akan mengurangi efektifitasnya, jawab pertanyaan ini

“Do you ever laugh outloud at the same joke twice?”




Share on Facebook

22 Responses to ““Do you ever laugh outloud at the same joke twice?””

  1. Hamdan Nasrullah Says:

    Dan pada akhirnya bisa timbul yang salah menjadi benar, dan yang benar menjadi salah. Sometimes we ever laugh outloud at the same joke twice at right time and the right chance.

    Reply

  2. Cynthia Says:

    yah w jg sbagai mahasiswa jg prihatin yg ikut demo jg sedikit.. menurut pengamatan w, mahasiswa skrg sdh tdk perduli lg terhadap negara`a… no comment lah…

    Reply

  3. Blue Eyes Says:

    Menurut gua Pandji tepat (bukan karena dia banyak ide dan banyak akal). Jika ingin menyampaikan pesan tentunya bijak-bijak untuk memilih cara menyampaikan pesan yang benar dan efektif. Kita tau kok hari itu hari anti korupsi. Kita tau institusi kepolisian seringkali korupsi dengan menerima duit “damai” dijalan. Kita tau kasus-kasus yang terjadi di MPR kita. Kita tau seringkali membuat KTP saja butuh duit selipan. Kita semua tau. Lalu apakah kita perlu di ingatkan dengan cara bikin macet di jalan?huehehehehe…
    By the way, i never laugh twice at the same joke…

    Reply

  4. Venus Says:

    KRITIS..itu jawabannya bung..bangsa ini harus kritis terhadap masalah yang ada dan terhadap jalan apa yang akan dilaluinya.

    “Do you ever laugh outloud at the same joke twice?””

    WARKOP !!!

    Reply

  5. fitorio Says:

    kalo menurut gue, banyak hal yang mempengaruhi aksi jalanan
    jaman reformasi, aksi mahasiswa nggak berlangsung sehari saja kan? seinget gue, aksi sporadis sudah berlangsung sejak akhir 1997 tapi tidak di jakarta. di jakarta mulai sibuk setelah UAS
    apa yang membuat mahasiswa dulu sangat solid? sederhana. karena rezim sangat represif sehingga ada mahasiswa yg tewas. jujur saja bahwa itu yang membuat mahasiswa seindonesia turun ke jalan

    rezim skrg tahu, bila semakin keras ditekan, maka mahasiswa semakin solid. makanya, aksi kemarin malah dibiarkan. bahkan polisi diinstruksikan mengawal.

    ini karena momen titik jenuh itu belum datang. itu saja kok

    soal bentuk aksi, banyak hal nji, bisa lewat dunia maya kayak yg lo lakuin ama IU, bisa lewat facebook. nah tapi kalo memang diperlukan, people power masih relevan kok. ini masalah bentuk perjuangan saja

    Reply

  6. Joyo Says:

    “Koin untuk Prita”
    menurut gue itu salah satu contoh bentuk dukungan yg ‘out of the box’ a.k.a beda…
    ide2 seperti itu yg perlu terus dikembangin…

    Reply

  7. ma6ma Says:

    28 oktober 1928 pemuda seluruh indonesia bersatu untuk satu tujuan indonesia
    17 agustus 1945 pemuda seluruh indonesia bersatu untuk satu tujuan kemerdekaan
    mei 1998 pemuda indonesia bersatu untuk menurunkan tirani

    “Do you ever laugh outloud at the same joke twice?”” YES!!!

    satu point penting yg kita punya, common enemy atau common issue yang dirasakan oleh seluruh elemen bangsa indonesia. kalau common issue ini kita punya, bukan tak mungkin demonstrasi menjadi berhasil.

    memang demo sekarang sudah menjadi cemoohan2 orang karena metode yang tidak simpatik, maupun pesan yang kurang mengena.

    tapi saya tetep percaya kalau sebuah aksi pergerakan masih menjadi jurus ampuh untuk meruntuhkan tirani.

    salam kenal… .

    Reply

  8. Tiyo Prasetyo Says:

    kalo di sepakbola, nama di dada itu sekarang bukan nama club (paling ada logonya doang) tapi tulisan yg gede adalah SPONSOR.. jd mungkin kata2 itu udah obsolete bro..

    Reply

  9. Tiyo Prasetyo Says:

    jadi kalo jawaban pertanyaan lo adalah “NGGAK MUNGKIN!” kira2 menurut lo, mahasiswa (yg mau & merasa mampu ngerubah dunia) harus bikin “joke” apa lagi dong????

    Reply

  10. Venus Says:

    Namanya juga “MAHA” siswa…masa cuman bisa bikin macet dijalan.. (bhs dekan gua bgt nih)..
    Gua ngerti penulisan lo..i have the same fear bahwa generasi di Indonesia menjadi generasi yang tersesat karena proses regenerasi yang hilang. Kini yang terjadi adalah anak muda yang demen “meniru” dan mencari penyelesaian yang paling “instant” tanpa berpikir panjang akan efek negatif yang ditimbulkannya.

    Reply

  11. rendy Says:

    menanggapi @venus gw bilang yah MAHA siswa, gw selalu memberikan pencerahan ke junior2 gw dikampus mengenai ini.. mahasiswa itu MAHA yang artinya lebih bukan. nah mahasiswa ini bukan cuman mempelajari sesuatu bukan tapi menciptakan sesuatu,,, nah jadi mereka ga salah kalau mereka menciptakan sebuah perubahan di tahun 1998 yang namanya reformasi nah.. speak up mind for a while. gw balik cerita lagi.. apa dengan turun ke jalan membuat sebuah perubahan? kalo gw baca itu hanya bikin macet di jalan bos.. kalo mahasiswa ini pinter, gw lebih setuju mereka turun ke jalan untuk “aksi” loh kok gw ga suka tapi gw dukung aksi, yah aksi yang pinter dong.. jangan aksi tulalit… korlap dimana, dinlap dimana… kalo gw baca aksi sekarang kok banyak yang koar koar bla bla bla… ngga satu koordinasi.. dimana satu korlap bilang duduk yah duduk satu korlap bilang maju selangkah yah maju selangkah… nah kalo sekarang mana ada yang nurut. mereka semau sendiri.. “DONT BE A HERO” mungkin quotes itu gw ambil dari salah satu film zombie.. dont be a hero kalo ngga mau jadi korban dong.. sekarang mereka tereak aparat keparat, tapi apa mereka ngga sadar mungkin bokapnya, omnya, kakaknya atau sanak saudaranya itu juga aparat. mereka bekerja yah sesuai dengan perintah dari komando… nah kalo emang mahasiswa itu masih merasa jadi maha… saran gue cuman 1… think twice bos… turun ke jalan aksi yah boleh tapi aksi apa dulu neh, aksi pinter dong. aksi simpatik kek, aksi mengenai AIDS, aksi turun ke masyarakat kasih penyuluhan, bimbingan belajar buat anak2 kolong jembatan kek… gw ngomong gini karna gue bertindak ngga cuman bullshit menggurui seseorang but i do this to provoke all of youth in indonesia buat berpikir CERDAS dan bertindak dengan BENAR… ANARKI itu so yesterday bos. sekarang mari kita merdekakan negara kita dari kebodohan, kemiskinan. karna kebodohan itu sungguh sangat dekat dengan kemiskinan. dan kalo kita udah miskin harta miskin ilmu.. ditiup ama negara sebelah juga udah terbang…
    ps : sorry kalo kata2 gw kasar..

    Reply

  12. Orang Indonesia Says:

    iyah, demo skarang cuman sebagai ajang pamer bendera kampus dan tereak2 memaksakan kehendak, demo hanya menjadi ajang rutinitas tanpa hasil..
    mending kuliah, wisuda jadi PNS dan rubah dari dalam segala ke bobrokan yang ada..
    tapi kadang pas nyampe “dalem” lupa dengan semangat anti KKN yang dulu di koar2kan..
    aneh..
    but, p’ple changes!!

    Reply

  13. Tulus Says:

    Demo sama seperti Marketing Communication.. People have to find a new way to get attention from their market target…!!!! then, the target market will act to buy the product… :-)

    Reply

  14. ayu Says:

    iya.. setuju deh… tujuan memperingati hari anti korupsi kemaren jd harus di pertanyakan lagi.. kalau emang bener2 tujuannya untuk INDONESIA, kenapa harus bawa atribut macam2? sekarang kelompok2 masyarakat udah ga kayak dulu lagi, sekarang egoisme kelompok semakin besar, ya merasa paling jag, ya merasa paling pintar.. makanya kemarin banyak atribut2 selain bendera Indonesia…

    d kampus saya aja, egoisme program studi/jurusan terasa banget, ini lah yg menyebabkan kita ga bisa se kompak dulu :(

    Reply

Leave a Reply