Gue mau menuliskan isi pikiran gue beberapa hari ini
Setelah kesekian kalinya, seorang remaja nanya “Mas Pandji mau jadi caleg nggak?”
Gue jawab “Sejauh ini nggak kepikiran”
Terus terang, gue rada enggan.
Gue punya seorang sahabat yaitu Tere yg menjadi anggota DPR
Beberapa waktu yang lalu gue mewawancara dia di Provocative Proactive dan dia bercerita layaknya seorang sahabat bertukar cerita
Kesan yang gue dapat dari Tere adalah bahwa menjadi anggota DPR sangat melelahkan dan sangat memakan waktu.
Kerjanya? Rapat dari pagi buta hingga pagi buta lagi.
Makanya jangan kesel kalo kita lihat bapak bapak tertidur ketika rapat.
bayangkan kalau umur elo 55 tahun, lalu kerjanya rapat dari subuh sampai subuh lagi, lalu besoknya rapat lagi dari jam yang sama… bahkan kadang sabtu-minggu-pun tetap rapat karena rakyat tidak mau menunggu akan datangnya keadilan sosial
Rapatnya berjam jam ngomongin apa? Ya ngomongin hal hal yang selama ini dituntut oleh rakyat.
Pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dll
Anggota DPR kerjanya membuat undang undang.
UU itulah yang akan membantu menciptakan perubahan.
Gue mau menekankan disini:
Gue sama sekali tidak kehilangan harapan kepada para anggota DPR
Sama sekali tidak
Gue sangat optimis terhadap anggota DPR
SELAMAAAA…
hehehe
Selama para pemilih juga memilih dengan benar.
Kekuatan rakyat dalam memilih wakilnya sangat sangat kuat.
Sayangnya, banyak rakyat yang ga terlalu sadar itu
“Wah sama sama lulusan UI, gue pilih dia ah”
“Gue pilih perempuan ini aja ah, sama sama perempuan”
“Hmmm pilih yg mana yaaaa? Ah ibu ini aja ah, mukanya kayaknya masih asli nih, belum operasi” (percaya sama gue, ada yg kayak gini. Gue kenal banget malah)
“Hohohoo, marganya sama dengan gue! Ah, kupilih dia sajalah!”
Alasan alasan orang memilih wakil rakyatnya masih sangat sangat dangkal.
Pilihlah orang yang kita mau untuk jadi pemimpin kita dan mewakili kita disana.
Apakah ada orang seperti itu?
PASTI ada.
Wong gue aja ada yg minta kok..
Yang kita harus lakukan adalah, dalam waktu kurang dari 5 tahun ini lihat benar benar keluar dan cari orang yang menurut kita pantas, terpercaya, berprestasi dan layak jadi pemimpin.
Kita punya kurang dari 5 tahun untuk mencari.
Kalau kita telah menemukan, kita tanya apakah dia mau jadi anggota DPR.
Naah, masalahnya adalah apakah orang itu mau atau tidak.
Disini dilema gue…
Pernah dengar istilah “Lions for lambs?”
Itu adalah lelucon satir orang Jerman kepada Amerika.
Seorang perwira jerman melihat kekuatan perang Amerika Serikat dan berkata “Saya tidak menyangka ada begitu banyak singa yang dipimpin oleh biri biri”
Kurang lebih artinya adalah, tentaranya gagah berani tapi dipimpin oleh orang yang lembek dan tidak seberani tentaranya…
Anggota DPR jadi nampak seperti itu.
Orang orang terbaik di Indonesia seakan menghindar dari ajakan untuk menjadi anggota DPR.
Dengan anggapan bahwa menjadi anggota DPR akan membuat mereka tidak produktif, tidak bisa berkarya, tidak bisa mengembangkan keahlian, bakat dan passion-nya
Sehingga orang orang terbaik ini (yang sebenarnya tidak merasa harus jadi anggota DPR karena punya pilihan lain) akhirnya mundur dari pencalonan, memberi ruang untuk orang orang lapis kedua, ketiga bahkan mungkin keempat terbaik.
Akhirnya, Lionsnya tetap jadi rakyat biasa (tentara) sementara Lambs-nya menjadi anggota DPR (pemimpinnya)
Kalau sudah seperti ini, terjawab sudah pertanyaan orang orang di Indonesia yang mempertanyakan kualitas anggota DPRnya
Salah anggota DPR?
Sama sekali tidak.
Karena tidak ada yang maju, maka mereka memilih untuk maju. Masih bagus ada yang maju untuk jadi anggota dewan. Bayangkan kalau tidak ada yang mau!?
Apakah salah para Lions yang tidak mau maju?
Entah juga.. adalah hak mereka untuk maju atau tidak.
karena untuk Lions, ini bukan masalah uang.
Hidup mereka adalah masalah pencapaian.
Mereka kuatir, mereka tidak bisa mencapai passion mereka apabila mereka gabung jadi anggota dewan.
Lalu sampai mana siklus ini akan usai…
Entah
Saya sendiri masih bingung..
Walau saya tidak merasa sebagai Lions, sayapun masih menolak apabila diajak maju dan mencalonkan diri
Entah mengapa, rasanya masih lebih nyaman menjadi bagian dari rakyat..
Daripada menjadi…
Wakil rakyat.
Share on Facebook








February 4th, 2010 at 3:14 pm
Nice Ndji.. tapi mnrt gw ada satu hal lagi yg perlu dipertimbangkan..
Those Lions do not have enough money to be a leader.. yang punya duit banyak utk kampanye, bikin poster, kaos, dan beberapa kegiatan 5 tahunan (sunatan masal, bantu rakyat miskin, dll). Atau bisa jadi, daripada uang itu dihamburkan untuk kegiatan kampanye yang bisa milyaran dan belum tentu terpilih, mendingan uangnya dipakai buat kegiatan yg lebih berguna tanpa jadi wakil rakyat.
mereka akan tetep jadi Lion, selama mereka masih setia dengan passion mereka. ga perlu jadi wakil rakyat Ndji
February 4th, 2010 at 3:15 pm
cool..,, nice post^^
February 4th, 2010 at 4:05 pm
nice post bro… izin share di fesbuk yah bro…
February 4th, 2010 at 4:43 pm
menurutku sistem untuk maju menjadi wakil rakyat nya yang harus dirubah. aksi kampanye yang monoton dan berlebihan membuat ilfeel dengan proses maju itu sendiri.
February 4th, 2010 at 6:55 pm
gua nggak mau banyak komentar soal wakil rakyat, utusan daerah dll.. gua merasa mereka udah memberikan yang terbaik, eventhough some says theyre just “lamb” for me the truth is sekarang bukan siapa yang dipilih atau siapa yang akan memilih or even siapa yang bakal dikorbankan untuk jadi seekor lamb. nggak pentinglah elo jadi siapa pangkat lo apa jabatan lo apa posisi lo sebagai apa, tapi yang penting elo bisa berbuat apa buat diri lo, lingkungan sekitar lo, negara lo, agama lo. CMIIW
February 4th, 2010 at 8:04 pm
Jadi inget waktu zaman mau masuk kuliah dolo, jurusan-jurusan sospol dan hukum, passing gradenya dikalahkan ma elektro dan Informatika. Lapis keberapa tuh yg masuk sono (sospol & hukum). Apalagi yang mau masuk Akpol. huehehe… eh sekarang PLN nya juga suka mati molo lagi… wtf!
February 5th, 2010 at 8:45 am
lion for lambs yang filmnya itu asalnya dari satire itu juga berarti ya
February 5th, 2010 at 2:25 pm
mungkin lion lion di luar sana masih berpikiran sama kayak lo ” Walau saya tidak merasa sebagai Lions, sayapun masih menolak apabila diajak maju dan mencalonkan diri”.
so jawabannya siklus ini kapan akan berakhi, mungkin ada di diri lo juga.
kayak siaran lo semalem, 4 Feb 2010, yang mungkin dapet gue simpulin
jangan menuntut perubahan, tapi jadilah pemuda yang menciptakan perubahan,
mungkin dengan menjadi wakil rakyat lo bisa menciptakan perubahan.
dengan begitu, GUE PILIH LO NDJI BUAT JADI WAKIL RAKYAT UNTUK 5 TAHUN YANG AKAN DATANG,
hehehehehehehe…..
sukses ya boz…
February 5th, 2010 at 7:55 pm
” Sayangnya, banyak rakyat yang ga terlalu sadar itu
“Wah sama sama lulusan UI, gue pilih dia ah”
“Gue pilih perempuan ini aja ah, sama sama perempuan”
“Hmmm pilih yg mana yaaaa? Ah ibu ini aja ah, mukanya kayaknya masih asli nih, belum operasi” (percaya sama gue, ada yg kayak gini. Gue kenal banget malah)
“Hohohoo, marganya sama dengan gue! Ah, kupilih dia sajalah!”
Alasan alasan orang memilih wakil rakyatnya masih sangat sangat dangkal.
Pilihlah orang yang kita mau untuk jadi pemimpin kita dan mewakili kita disana. ”
Gw setuju ama pendapat flo dan putri, penggalan diatas seharusnya dijadikan sebagai pendidikan terhadap masyarakat kita. Meskipun sdh disosialisasikan ama KPU ttg “Pemilih yang cerdas memilih wakil yang berkualitas”, namun msh sangat banyak rakyat kita yg belum terjangkau oleh sosialisasi semacam itu. Sehingga para “Lamb” akan menggunakan kesempatan ini untuk menghantarkan mereka jd wakil rakyat. Maka yg terjadi adalah wakil rakyat “yg lembek, yg tdk seberani tentaranya”.(penggalan tulisan diatas)
February 7th, 2010 at 12:43 pm
mungkin lebih tepatnya lions for artist.. wkwkwkwkkw
we’re indonesian have a great principal rather than being a player, we love to be a supporter which easily yealing PEMAIN BEGO or WASIT TOLOL!!!!
February 9th, 2010 at 2:13 pm
Pandji, OOT yah.
gue gak tau elu sempet nonton acara John Pantau atau gak, ttp bbrp minggu lalu, dia nanya2 anggota dewan yg terhormat (ngetest judulnya).
and OMG, ada seorang wakil rakyat initial aja yah (IK) yang ditanyain tentang sila ke-5 dari Pancasila pun dia gak ngerti. miris banget lihatnya. n si John juga nanyain beliau ini ttg hak2 anggota dewan, which is yg dia gak bisa ngejawab, sampe2 musti nanya ke sekretarisnya.
Malu banget deh liatnya…
March 3rd, 2010 at 4:40 am
Gw suka celotehan natural elo, dji!
Gw tambahin dikit ye…
Baik pemerintah maupun wakil rakyat, skrg kan lagi pada sibuk ngerjain semua urusan rakyat ‘gara2 kite2 pilih’ tempo hari, ya udah dah skrg kite jangan ngegrecokin kerjaan mereka. Indonesia Unite bagus banget, jadiin IU proyek kite bersama.
Kreatif !!, nuntut en ngeluh udah jadi urusan sebagian kecil dan terkecil dari temen2 kite aja!. Kalo semuanya, 100% gak ada yg nuntut en ngeluh gak seru dong…bener gak?.
Untuk Indonesia…Untuk dunia!